Selasa, 26 Februari 2013

Bersemangatlah Menuntut Ilmu Agama

Menuntut ilmu agama termasuk amal yang paling mulia, dan ia merupakan tanda dari kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, akan dimudahkan untuk memahami ilmu agama” (HR. Bukhari-Muslim). Hal ini dikarenakan dengan menuntut ilmu agama seseorang akan mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat baginya untuk melakukan amal shalih.

Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan Allahlah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan hudaa dan dinul haq” [At Taubah: 33]. Dan hudaa di sini adalah ilmu yang bermanfaat, dan maksud dinul haq di sini adalah amal shalih. Selain itu, Allah Ta’ala pernah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk meminta tambahan ilmu, Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku” [Thaha: 114]. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Ayat ini adalah dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabinya ﷺ untuk meminta tambahan terhadap sesuatu, kecuali ilmu” [Fathul Baari, 187/1]. Dan Rasulullah ﷺ memberi nama majlis ilmu agama dengan ‘Riyadhul Jannah’ (Taman Surga). Beliau juga memberi julukan kepada para ulama sebagai ‘Warotsatul Anbiyaa’ (Pewaris Para Nabi).

Dari sisi keilmuan dan pengamalan terhadap ilmu, manusia terbagi menjadi 3 jenis:
Jenis yang pertama yaitu orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Mereka ini adalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah untuk menempuh shiratal mustaqim, yaitu jalan yang lurus yang telah ditempuh oleh para nabi, orang-orang jujur, pada syuhada, dan orang-orang shalih. Dan merekalah teman yang terbaik.

Jenis yang kedua yaitu orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya. Mereka ini adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah, semisal orang-orang Yahudi dan pengikut mereka.

Jenis yang ketiga yaitu orang yang beramal tanpa ilmu. Mereka ini adalah orang-orang yang sesat, semisal orang-orang Nashrani dan para pengikut mereka.

Ketiga jenis manusia ini tercakup dalam surat Al Fatihah yang senantiasa kita baca setiap rakat dalam shalat kita,yang artinya: ”Ya Rabb, tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang Engkau beri ni’mat, bukan jalannya orang yang Engkau murkai dan bukan jalannya orang-orang yang sesat” [Al Fatihah: 6 - 7].

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Firman Allah Ta’ala (yang artinya) ‘bukan jalannya orang yang Engkau murkai dan bukan jalannya orang-orang yang sesat’, yang dimaksud orang yang dimurkai di sini adalah para ulama yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Apapun yang pertama, adalah sifat Yahudi. Dan yang kedua adalah sifat Nashrani. Namun kebanyakan orang jika melihat tafsir ayat ini mereka mengira bahwa sifat ini khusus bagi Yahudi dan Nashrani saja, padahal ia membaca bahwa Rabb-nya memerintahkan untuk membaca doa tersebut dan berlindung dari jalannya orang-orang yang bersifat demikian. Subhanallah! Bagaimana mungkin Allah mengabarkan sesuatu dan memilah sesuatu serta memerintahkan untuk selalu berdoa jika tidak ada maksud untuk memberi peringatan atau memberi gambaran keburukan mereka untuk dijauhi. Hal ini termasuk perbuatan berprasangka buruk terhadap Allah. (Karena mengira bahwa firman Allah tersebut tidak ada faedahnya -pent.)”. (Lihat Tarikh Najdi, Ibnu Ghonam)

Dan beliau juga menjelaskan tentang hikmah diwajibkannya membaca surat Al Fatihah dalam tiap rakaat shalat kita, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, yaitu sebuah rahasia yang agung. Secara ringkas rahasia dari doa tersebut adalah harapan agar Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk kepada jalannya orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, yang merupakan jalan keselamatan di dunia dan di akhirat. Juga harapan agar Allah Ta’ala menjaga kita dari jalannya orang-orang yang binasa, yaitu orang-orang yang berlebihan dalam amal shalih saja atau berlebihan dalam ilmu saja.

Kemudian, ketahuilah wahai pembaca yang budiman, ilmu yang bermanfaat itu di ambil dari Al Qur’an dan hadits, dengan bantuan para pengajar, juga dengan bantuan kitab-kitab tafsir Al Qur’an dan kitab syarah (penjelasan) hadits, kitab fiqih, kitab nahwu, dan kitab bahasa arab yang merupakan bahasa Al Qur’an. Semua kitab ini adalah gerbang untuk memahami Al Qur’an dan Sunnah.

Wahai saudaraku, agar amalmu termasuk amal shalih, wajib bagimu untuk mempelajari hal-hal pokok yang menegakkan agamamu. Seperti mempelajari tentang shalat, puasa, haji, zakat, juga mempelajari perkara muamalah yang engkau butuhkan. Agar engkau dapat mengambil yang boleh saja dan tidak terjerumus pada hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Agar penghasilanmu halal, makananmu halal sehingga doamu dapat dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Semua ini adalah hal-hal yang mempelajarinya adalah kebutuhan bagimu. Semua ini akan mudah dijalani, dengan izin Allah, bila benar tekadmu dan bersih niatmu.

Maka bersemangatlah membaca kitab-kitab yang bermanfaat, dan berkonsultasilah dengan para ulama. Tanyakanlah kepada mereka tentang hal-hal yang membuatmu bingung, dan temukan jawaban tentang hukum-hukum agamamu. Hal ini bisa dilakukan dengan menghadiri pengajian-pengajian yang diadakan di masjid atau di tempat lain, atau mendengarkan program-program Islami dari siaran radio, atau membaca majalah atau buletin yang membahas permasalahan agama, jika engkau bersemangat terhadap semua media-media yang bermanfaat ini, tentu bersinarlah cahaya ilmu bagimu dan teranglah penglihatanmu.

Dan jangan lupa saudaraku, ilmu itu akan disucikan dengan amal. Jika engkau mengamalkan apa yang telah engkau ilmui, maka Allah Ta’ala akan menambahkan ilmu bagimu. Sebagaimana peribahasa orang arab “Orang yang mengamalkan apa yang telah ia ilmui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang belum ia ilmui”. Peribahasa ini dibenarkan oleh firman Allah Ta’ala yang artinya: “Bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan membuatmu berilmu. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [Al Baqarah: 272]

Ilmu adalah kesibukan yang paling layak untuk mengisi waktu, ia juga merupakan hadiah yang paling layak untuk diperlombakan bagi orang-orang yang berakal. Ilmu akan menghidupkan hati dan mensucikan amal.
Allah Ta’ala telah memuji para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mengangkat derajat mereka dalam Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakal saja yang dapat menerima pelajaran” [Az Zumar: 9]. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Allah telah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu dari kalian beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [Al Mujaadalah: 11]. Allah Ta’ala telah menjelaskan keistimewaan orang-orang berilmu yang digandengkan dengan iman. Kemudian setelah itu Allah mengabarkan Ia Maha Mengetahui atas apa yang kita kerjakan. Maka di sini terdapat tanda yang menunjukkan bahwa ilmu harus digandengkan dengan amal, dan juga harus bersandar pada iman dan muqorobah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


[Diterjemahkan dari muqoddimah kitab “Al Mulakhos Al Fiqhiy”, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan]
Ristu hasriandi Khoo

Cinta Atau Nafsu?

Banyak muda-mudi jaman sekarang yang asyik masyuk terseret dalam pergaulan bebas. Pacaran seolah menjadi budaya. Pacaran menjadi nuansa bagi mereka untuk menuangkan rasa cinta pada sang kekasih. Rasa rindu ingin bertemu selalu menghantui mereka, para remaja yang sedang dimabuk cinta. Malangnya, ajang bercengkerama dua anak manusia berlainan jenis (bukan muhrim) ini lebih digemari dari pada membaca buku-buku motivasi atau kegiatan positif lainnya. Lebih malang lagi, tontonan sinetron-sinetron di televisi lebih memperparah lagi keadaan ini.

Tak dapat dipungkiri lagi, di masa sekarang, ada keprihatinan mendalam di balik fenomena itu. Dengan “mengatasnamakan cinta”, muda-mudi itu banyak yang lupa akan batasan-batasan yang digariskan agama. Melalui ajang yang disebut pacaran itu, terjadilah sebuah interaksi intensif dari perasaan saling suka, sering bertemu, dan seterusnya yang berujung pada terjadinya berbagai kontak fisik dalam kesempatan yang sepi berdua. Tak jarang mereka sampai terjerumus ke jurang perzinaan, karena tak bisa mengendalikan diri. Akhirnya, hubungan yang awalnya istimewa bagi mereka, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan hancurnya masa depan bagi pelakunya. Sekali lagi, sebelumnya mereka melakukannya dengan “mengatas namakan cinta”.

Ada kisah nyata seorang wanita yang dulu jadi teman sekelas semasa SD. Dia adalah gadis yang manis menurut penilaian umum. Walau sedikit centil, ia banyak disukai teman-temannya. Sejak SD ia sudah telibat hubungan asmara dengan kakak kelas yang juga masih tetangga saya. Walau itu mungkin cinta monyet, namun kisah itu terus berlanjut hingga SMA. Malangnya, ketika masih kelas 1 SMA, si gadis ternyata telah berbadan dua sehingga mau tidak mau harus kawin sangat muda. Tak berapa lama, keluarlah anaknya dari rahimnya sehingga dapat dikata ABG (Anak Baru Gede) tiba-tiba mengeluarkan anak yang bisa “gede”. Setelah semua itu terjadi, hilanglah masa-masa indah si gadis dalam berproses menjadi manusia dewasa. Dia harus menjadi sosok ibu di saat jiwanya masih pancaroba, sementara gadis-gadis lain sedang menikmati kebebasan mencari jati diri. Dia kini kelihatan sudah tua dengan badan gemuknya layaknya ibu-ibu kelahiran era 70an. Kecantikannya hanya terlihat sekejap mata setelah bencana itu tak dapat dihindarinya. Ia telah kehilangan masa mudanya… Lalu, siapa yang salah?

 
***

Begitu naifkah, kata cinta yang harusnya dijaga kesuciannya, menjadi ternoda. Lalu, benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase? Jadi, ketika sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan, sebenarnya cinta ataukah nafsu mereka yang “berbicara”? Apakah emosi ataukah akal sehat mereka yang lebih dominan?

Jika ada seorang gadis yang berkata pada kekasihnya, “Kuserahkan segala milikku untukmu sebagi bukti cintaku padamu…” Dia menganggap itu sebagai sebuah pengorbanan karena cinta. Tapi begitukah pengorbanan untuk cinta? Ataukah itu untuk nafsu?

Ada seorang pemuda menanyakan pada pacarnya, “Bila kau benar cinta padaku, apa buktinya?” Atau dalam kesempatan lain, “Sebagai bukti cinta, maukah kau kucium, kupeluk… (dan seterusnya).” Atau dalam kasus lain, jika yang minta ini itu adalah sang gadis, dan ketika si pemuda menolaknya lantas dibilang pengecut. Apakah harus begitu membuktikan cinta?

Begitu mudahkah mengatas namakan “cinta” untuk suatu perbuatan dosa. Apakah itu benar cinta, atau itukah yang dinamakan nafsu? Yah, sebagai makhluk jenius yang dikaruniai akal budi yang sempurna, kita sebagai manusia pasti tahu perbedan keduanya, antara nafsu dan cinta. Dan sebagai generasi muda yang terpelajar, sudah sepantasnyalah kita tidak mencampuradukkan kedua hal itu untuk melegalkan hasrat (baca: hawa nafsu) kita.

Sekarang adalah era informasi yang serba canggih, bukan era manusia gua ratusan abad yang lalu. Manusia semakin cerdas dan punya peradaban tinggi. Jadi, harus tahu apa itu arti cinta yang sesungguhnya, dan jangan menodai makna cinta dengan pelampiasan hasrat nafsu birahi dengan mengatasnamakan cinta.
Begitu parahnya pergaulan bebas muda-mudi di jaman ini, yang melegalkan perbuatan maksiat sebagai sebuah kebiasaan yang wajar. Hal itu bukan tanpa bukti. Ada wanita yang berkisah langsung dan katanya ingin bertaubat. Ada juga laki-laki yang berkisah dengan perasaan bangga tanpa ada niat memperbaiki diri sedikitpun. Ada juga cerita dari teman yang sering dijadikan curhat teman-temannya. Pendek kata, kita harus mengurut dada mengetahui realitas kelabu ini. Mereka ada di tengah-tengah kita. Itu terjadi di tengah-tengah kita.

Belum lagi banyaknya kasus-kasus pergaulan intim muda-mudi di luar nikah yang menghebohkan, direkam layaknya film dokumenter, namun akhirnya aib itu tersebar. Dan bagi si pelaku, pasti malu yang tak terkira harus mereka tanggung. Juga bagi keluarganya, itu semua menjadi aib yang memalukan, menghancurkan martabat keluarga, dan meluluhlantakkan segala kebanggaan. Ironisnya, pelakunya kebanyakan adalah sepasang kekasih yang masih pelajar atau mahasiswa. Lebih ironis lagi, mereka melakukannya atas nama cinta.

Pertanyaannya: apakah semua itu hanya dibiarkan saja? Atau hanya jadi bahan pemberitaan belaka?
Nama cinta bukanlah untuk sesuatu yang nista. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya. Jika kita mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya, bukan menodainya. Cinta selalunya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang “pecinta sejati”. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta.

Pasangan legenda Rama–Shinta, Romeo–Juliet, Kais–Laila, menjadi kisah sepanjang masa karena cinta mereka. Tidak ada kisah melegenda tentang nafsu yang tak terkendali dalam hubungan dua insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan. Adanya hanyalah skandal, perselingkuhan, perzinaan, dan nama lain sejenis yang amoral.

Jadi, jangan katakan ‘cinta’ jika kita tidak bisa memaknainya dengan makna yang sebenarnya. Jangan samakan cinta dengan nafsu hanya karena kita kurang kendali diri. Jangan mengkambinghitamkan cinta sebagai sarana pelampiasan nafsu. Dan yang lebih penting lagi, pergaulan bebas tak akan terjadi bila muda-mudi kita bisa memaknai cinta dengan sebenarnya dan memegang teguh ajaran agama dengan istiqomah (konsisten) sampai tiba masanya gerbang pernikahan terbuka.
Ristu hasriandi Khoo

Kapal Pintar Jangkau Pendidikan di Pulau-pulau Terdepan Indonesia

"Pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Tidak ada bangsa yang maju, yang tidak didukung pendidikan yang kuat." -Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Daoed Joesoef-


Jika ingin menjadi negara yang kuat, maju, dan disegani dunia internasional, Indonesia harus menjadikan pendidikan sebagai bidang unggulan. Pentingnya sebuah pendidikan berperan besar dalam pembentukan karakter bangsa. Dengan pendidikan, warga negara dapat memiliki kemampuan yang bermanfaat bagi pribadi dan negara.Pendidikan pun tak mengenal perbedaan.Semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan sesuai dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia (UUD RI) 1945 pasal 31.

Oleh sebab itu, Pemerintah RI wajib memfasilitasi berbagai akses demi proses pendidikan bermutu bagi warga negara Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Pendidikan yang merata pun menjadi harapan besar bagi seluruh warga negara. Demi menghadirkan pendidikan merata di wilayah-wilayah terpencil RI, beragam cara ditempuh. Salah satunya adalah Program Indonesia Pintar yang diprakarsai olehIbu Negara RI Ani Yudhoyono.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan TNI Angkatan Laut bahu-membahu menyukseskan pengadaan program Kapal Pintar. "Kami menyambut baik program ini, yang merupakan bagian dari Program Indonesia Pintar, dimana Program Indonesia Pintar menjangkau daerah yang tidak terjangkau (to reach the unreached), yang diimplementasikan dalam aksi nyata di lapangan dalam bentuk Mobil Pintar, Motor Pintar, Kapal Pintar, dan Rumah Pintar," ujar Direktur Utama Bank BRI Sofyan Basir.

Sesuai kerjasama dengan TNI AL, dalam menjangkau pendidikan masyarakat di pulau atau daerah terdepan Indonesia, Kapal Pintar akan dijadikan perpustakaan keliling (mobile library). Bantuan BRI ini sejalan dengan visi Program Bakti TNI AL atas desa tertinggal, terpencil dan terisolasi, pesisir pantai, serta daerah pulau-pulau kecil terdepan Indonesia. TNI AL juga memiliki perhatian yang sama dan bermaksud membangun Kapal Pintar. "Nantinya kapal ini menjadi tempat belajar. Dengan segala perlengkapannya bagi masyarakat pesisir, Kapal Pintar akan menjangkau seluruh masyarakat, terutama anak-anak usia dini dan siswa sekolah," papar Sofyan.

Guna menyukseskan visi ini, ketiga institusi tidak main-main. Kapal Pintar bersistem pembelajaran menggunakan pendekatan Multiple Intelligens dengan metode Joyful Learning dan Integrated Learning. Dilengkapi empat sentra, yaitu Sentra Buku, Sentra Komputer, Sentra Alat Permainan Edukatif, serta Sentra Audio Visual dan Panggung. Kapal Pintar akan dioperasikan secara periodik untuk mengunjungi desa-desa terpencil. "Nantinya Kapal ini akan berkoordinasi dengan instansi-instansi atau dinas yang terkait seperti pemda, kepolisian, Dinas Kependidikan Nasional, dan Dinas Kesehatan sehingga aplikasi kapal pintar ini menjadi komprehensif dengan berbagai macam stakeholder. Harapan kami agar peningkatan taraf pendidikan dan kesejahteraan masyarakat pesisir dan sekitarnya memperoleh hasil yang optimal," pungkas Sofyan.

Selain kapal pintar, BRI menyumbang pembangunan Rumah Pintar beserta Motor Pintar di Pulau Miangas yang merupakan salah satu pulau terdepan di Provinsi Sulawesi Utara.
Ristu hasriandi Khoo

Gerindra Tantang Presiden Berkantor di Papua

Ahmad Muzani
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menuding pemerintah gagal dalam memahami keinginan masyarakat Papua, sehingga terjadi penembakan terhadap aparat TNI. Muzani pun menantang Presiden agar berkantor beberapa hari di sana.
Muzani mengatakan pada awalnya pemerintah pusat melihat ada problem ketidaksetaraan pendapatan di mana kekayaan alam diambil habis oleh pusat. "Lalu, persoalan Papua juga dianggap karena perbedaan budaya. Pemerintah memberikan otonomi khusus dan menempatkan dewan adat Papua, tapi ternyata tetap sama situasinya prajurit kita tetap tewas. Pemerintah gagal," kata Muzani, di Gedung Kompleks Parlemen, Selasa (26/2/2013).
Muzani melihat perlunya pendekatan komprehensif agar pemerintah benar-benar mengetahui apa yang diperlukan masyarakat Papua. "Semua pasti bisa dilakukan. Kalau perlu presiden berkantor beberapa hari di Papua. Pemerintah harus rela berdialog dengan Papua," ucap Muzani.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa pemerintah harus punya kerelaan untuk mendengar. Dialog yang ada selama ini, kata Muzani, juga berlangsung maju-mundur tanpa memberikan kontribusi signifikan. Sebelumnya, delapan anggota TNI dan empat warga sipil dinyatakan tewas ditembak di Papua.
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto menduga kuat, kelompok separatis bertanggung jawab atas penembakan itu. Penembakan terjadi pada Kamis (21/2/2013) di Tingginambut Puncak Jaya dan Sinak Puncak Jaya, Papua.
Pelaku di Puncak Jaya diduga adalah kelompok Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) pimpinan Goliath Tabuni. Sementara penembakan yang terjadi di Distrik Sinak diduga adalah kelompok bersenjata pimpinan Murib.
Setelah dua peristiwa itu, kontak senjata kembali terjadi pada Senin (25/2/2013) siang di Gunung Bobairo, Distrik Paniai Timur, Paua. Kontak senjata terjadi antara prajurit TNI dengan tiga orang kelompok bersenjata yang bersembunyi di rumah.
Dalam peristiwa terakhir, tidak ada korban jiwa namun ketiga orang kelompok bersenjata itu berhasil melarikan diri.

Sumber: kompas
Ristu hasriandi Khoo

Satu Lagi, Bayi Meninggal Karena Ruang Rawat Penuh

Belum hilang ingatan kita tentang meninggalnya Dera Nur Anggraini akibat terlambat mendapat penanganan dari rumah sakit, hal serupa kembali terjadi. Kali ini kasus serupa menimpa Hikmah Fitriatul, bayi perempuan berusia 1 tahun 3 bulan, yang meninggal karena menyandang gizi buruk dan infeksi paru-paru.
Hikmah meninggal sekitar pukul 09.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Selasa (26/2/2013). Hikmah diduga meninggal karena telat mendapatkan perawatan karena penuhnya ruang rawat di RSCM.
Putri bungsu dari pasangan Parjo (33) dan Soimah (45) dibawa ke RSCM setelah mendapatkan surat rujukan dari RS Islam, Cempaka Putih, pada 12 Februari 2013. Hikmah dibawa ke RSCM dengan diantarkan oleh Nora, seorang pengajar di kawasan pemulung, Rawasari, yang menjadi guru kakak dari bayi tersebut. Namun, setibanya di sana, bayi malang itu sempat ditolak oleh rumah sakit karena ruangan penuh.
"Saya harus menunggu sampai 5 jam baru dapat tempat di IGD," kata Nora di kantor LBH Jakarta, Selasa (26/2/2013) sore.
Saat datang, Nora sudah menegaskan kepada dokter bahwa Hikmah mengalami gangguan pernapasan sehingga harus dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Namun, kata Nora, hal tersebut tidak digubris.
Setelah empat hari di rawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Hikmah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Untuk membantu pernapasannya, bayi yang memiliki berat 3,8 kilogram ini harus menggunakan alat bantu pernapasan orang dewasa, walaupun kepala bayi tersebut lebih kecil dari ukuran normal. Hal itu mengakibatkan udara yang masuk dari alat bantu pernapasan itu terus keluar melalui sela-sela alat pernapasan.
"Selama 2 minggu, tidak ada penanganan khusus, padahal saya sudah tekankan kalau Hikmah mengalami masalah pada pernapasannya," ujar Nora.
Ketika Hikmah sudah kritis, RSCM baru menyarankan Hikmah dibawa ke rumah sakit yang memiliki ruang NICU karena RSCM kekurangan ruang NICU. Namun, RSCM tidak menunjukkan rumah sakit rujukan untuk merawat Hikmah.
"Akibat penanganan yang tidak maksimal, klimaksnya, Hikmah mengembuskan napas terakhir tadi pagi pukul 09.00 WIB. Dokter bilangnya gagal napas. Yang saya sesalkan kenapa tidak dari awal saja Hikmah dirujuk ke rumah sakit lain," kata Nora.

Sumber: kompas
Ristu hasriandi Khoo

Bengkalis Siapkan Rp10,2 M Anggaran Raskin Otonomi

Ilustrasi, Beras Bulog
Untuk menutupi kekurangan alokasi dari raskin nasional, Pemkab Bengkalis menyiapkan anggaran Rp10,2 miliar untuk pengadaan raskin otonomi  bagi sebanyak 7.000 rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM). Sementara untuk pendistribusian raskin sampai ke RTSPM disiapkan pula anggaran sebesar Rp3,5 miliar.

Kepala Bagian Ekonomi Sedakab Bengkalis Hamdan Selasa (26/2) menyebutkan jika alokasi raskin nasional untuk kabupaten Bengkalis kurang dari junlah RTSPM yang tercatat berdasarkan data dari BPS yakni sebanyak 28.880 rtspm. Untuk menutupi kekurangan tersebut, Pemkab Bengkalis mengambil kebijakan melalui raskin otonomi, sehingga semua rtspm yang terdata secara keseluruhan bisa menerima beras miskin (raskin)'tersebut.

"Untuk kabupaten Bengkalis alokasi raskin nasional sebanyak 19.987 rtspm dengan jatah raskin sebanyak 299.805/bulan dengan jumlah belanja subsidinya sebesar 5,7 milyar. Sementara data dari BPS jumlah rtspm tercatat sebanyak 28.880 rtspm. Artinya ada sekitar 7.000 rtspm yang tidak masuk daftar sebagai penerima manfaat raskin. Karena itu Pemkab menganggarkan dana untk raskin otonomi sebesar 10,2 milyar pada 2013 ini," tutur Hamdan.

Selain itu, sebagimana juga program dari pusat terkait raskin 13 atau bonus pada 2013 ini yang menganggarkan dana yang disebut belanja subsidi raskin 13 sebesar Rp.400 juta,Pemkab Bengkalis juga menganggarkan raskin 13 ini sebesar Rp.800 juta.

"Raskin 13 ini bisa dikatakan bonuslah untuk masyarakat minskin. Karena secara nasional ada program ini, kita tentunya juga harus menganggarkan dana raskin 13. Kalau tidak tentunya nanti akan ada masyarakat yang tidak mendapatkan raskin 13 karena alokasi raskin nasional untuk Bengkalis kurang dari data rtspm yang sesungguhnya," ungkap Hamdan.

Menyingung tentang distribusi raskin bulan  Januari-Februari 2013, menurut Hamdan kemungkinan distribusi raksin ini sampai ke rtspm pada April nanti, mengingat saat ini APBD Bengkalis belum lagi diverifikasi di propinsi.

"Untuk distribusi Raskin, pemkab menganggarkan dana 3,5 milyar di APBD 2013.  Sementara saat ini APBD belum lagi diverifikasi di propinsi. Dan kemungkinan baru pada April raskin baru bisa kita distribusikan setelah anggaran bisa dicairkan," tutup Hamdan.

Sumber: situsriau.com
Ristu hasriandi Khoo

Harga TBS Sawit Naik

Petani Sawit Sedang Panen
Tandan Buah Segar (TBS) sawit pada periode 27 Februari hingga 5  Maret 2013, naik sebesar Rp34,63 perkilo. "Untuk periode kali ini, harga TBS sawit Riau ditetapkanya sebesar Rp1.467,92 perkilo atau naik sebesar Rp34,63 perkilo untuk usia 10 tahun keatas jikalau  dibanding pada periode sebelumnya. Sebab sebelumnya RpRp1.433.28 perkilonya," kata Sekretaris Tim Penetapan Harga TBS, Rina Rosdiana.

Hal ini disampaikan Rina seusai rapat dihadiri sejumlah perwakilan perusahaan pemilik PKS yang di SK kan Gubenur Riau, serta petani sawit diwakili Asosiasi Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Riau. Katanya, naik harga ini ada sebanyak dua faktor yang jadi penyebabkan. Yakni faktor internal dan faktor eksternal.

"Yang utama itu faktor eksternal. Dimana terjadinya musim kering di Argentina mengakibatkan meningkat harga minyak sawit. Sebab dimusim kering itu redupkan prospek global minyak nabati lain menjadi bahan baku minyak, seperti kedelai. Ini salah satu faktor penyebab permintaan minyak sawit meningkat," jelasnya.

Dikatakanya, ini sesuai dengan laporan Oli World, yang diterima baru-baru ini oleh Tim Penetapan Harga Pembelian TBS. Diketahui sambungnya, Argentina jelas sebagai pengirim terbesar minyak nabati dari biji kedelai dipasaran dunia ini tapi belakangan mengalami musim kering. Maka kini minyak sawit menguasainya.

Sedangkan faktor internal, kata Rina itu sesuai data dari penjualan CPO serta Kernel yang disampaikan pihak perusahaan pemilik PKS di Riau terjadi kenaikan penjualan. Sehingga kondisi ini juga menjadi pendukung naik harga TBS periode 27 Februari hingga 5 Maret 2013. "Faktor internal juga mendukung," terangnya.

Dijelaskanya, sesuai sumber data dari PT Asian Agri itu kenaikannya penjualan CPO sebesar Rp139,51 perkilo dan Kernel sebesar Rp86,28 perkilo. Sedang untuk Sinar Mas mengalami kenaikan CPO sebesar Rp336,68 perkilo dan Kernel sebesar Rp118,45 perkilo. Kenaikan ini katanya, juga terjadi pada perusahaan lainya.

Rina merincikan harga sawit Riau 27 Februari hingga 5 Maret 2013. Ketentuanya ditaati perusahaan. Usia 3 tahun Rp1.050,05 perkilo. Usia 4 tahun Rp1.173,72. Usia 5 tahun Rp1.256,45. Usia 6 tahun Rp1.292,37. Usia 7 tahun Rp1.342,01. Usia 8 tahun Rp1.383,78. Usia 9 tahun Rp1.427,57. Usia 10 tahun Rp1.467,92.
Ristu hasriandi Khoo