Aurat, Mana tahan?
Coba tebak 4 kriteria berikut:
Putih, mulus, seksi, telanjang bulat. Apa yang ada dalam pikiran kamu?
Hayoo…jangan ngeres!
Jawabannya adalah: Sapi. Hehehe.
Sobat
muslim, melihat mode yang ngetrend di zaman core 2 duo ini memang
benar-benar edan. Gimana tidak, coba aja perhatikan kehidupan di
sekeliling kita, remaja saat ini pada gandrung dengan pakaian-pakaian
yang katanya serba praktis dan ekonomis. Itu tuh, kostum kesebelasan
sundel bolong alias you can see. Hmm, baru-baru ini juga lagi Booming
celana pensil (Walah, bisa-bisa pabrik pensil gulung tikar nih!).
Inilah
faktanya sodara-sodara, kehidupan remaja sekarang telah menunjukkan
bahwa memang demikian cepat penyebaran pakaian “modern” ini.
Contoh kecilnya ketika saya pergi ke Mall-Mall.
Wuih, rasa-rasanya seperti memasuki dunia lain. Dunia Aurat!
Hampir
keseluruhan ceweknya musti pake pakaian yang membuat saya ingin lari
(lari apa nih maksudnya? Lari mendekati atau? Yee.. nggak lah yaw!).
Pikir-pikir,
mereka kok suka nantangin kaum Adam dengan pakaiannya yang imut-imut,
itupun belum lagi ditambah dengan gayanya yang centil alias cengengesan
penuh kutil. Walah!
Lelaki mana sih yang mampu mengalihkan pandangannya saat melihat sapi pake you can see, eh, cewek ding?
Kalo
laki-laki “shalih” sih saya yakin masih bisa manahan diri, walaupun
saya juga yakin itu sangat berat. Lha kalo laki-laki “salah”?
Melihat yang putih, yang mulus, yang seksi? (Saya tidak bilang sapi lho!)
Bisa-bisa mengganggu stabilitas nasional! (Cieh, bahasanya pejabat banget neh!).
Iya, dulu ada pengalaman salah seorang teman yang pernah sebangku.
Doi
pernah cerita, katanya pas di jalan melihat cewek seksi, dari arah
belakang terlihat seperti Madonna, eeh pas dilihat dari depan malah
mirip Maradona; yang sejatinya pemain sepak bola tapi malamnya nyambi
jadi tukang jaga kebun.
Wakaka, sory yeiy! Gubrakkkksss !!!!
Wah, rugi dong, sudah tekor iman, tontonannya mengecewakan pula.
Hahaha!
Maka
bagaimana sekarang dengan keadaan di sekeliling kita ini yang hampir
saban hari dan saban tempat ada pemandangan aurat yang mengundang
sahwat?
Ini bisa merusak keimanan kita, cing! Bukankah iman akan bisa berkurang ketika melakukan kemaksiatan?
Sementara di waktu yang sama aurat-aurat itu seakan-akan memaksa kita untuk melakukan maksiat. Hhh, gimana nggak sedih coba?
Awalnya maksiat mata, lalu ke maksiat pikiran, dan dilanjutkan lagi dengan maksiat perbuatan.
Lho mas, itu kan tergantung orangnya masing-masing?
Itu kan yang salah yang otaknya suka ngeres?
Ya
iya sih, tapi setidaknya kalo orang itu bebas mempertontonkan auratnya,
berarti sama dengan memberikan “fasilitas” bagi orang lain untuk
berotak ngeres. Memberikan ‘tontonan’ gratis yang kemudian mampu memicu
timbulnya sahwat.
Nah, gimana kalo sudah begini?
Makanya
dari sekian pelaku kriminal pemerkosaan dan perbuatan cabul, ketika
ditanya kenapa mereka melakukan perbuatan itu, sebagian besar mereka
mengaku karena habis menonton film donal bebek! (hehe..kamu tahu lah
donal bebek itu film apaan? Ya film kartun! Hehehe).
Nah tuh, bener kan?
Jadi,
ketika seseorang itu merelakan dirinya untuk mengumbar aurat, maka sama
artinya memberikan “inspirasi” kepada lawan jenisnya untuk
“berimajinasi”, yang kemudian sangat rentan dilakukan pemenuhan alias
“ekspresi”.
Hmm, maka jangan salahkan kalo ekspresi itu sampe dilampiaskan dengan cara memperkosa. Hiii, ngeri euy!
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The real terrorist
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Hati-hati! Ini jaman adalah jamannya teroris!
Kalo
teroris yang diberitakan di TV-TV adalah orang yang menggunakan bom,
maka baru-baru ini diketahui komplotan teroris baru. The real terrorist!
Ini penting.
Kamu
saya beritahu sekarang ini agar segera pasang kuda-kuda, agar selalu
waspada. Beneran lho, bahkan saking bahayanya sampe-sampe belum banyak
yang bisa mengendus pengaruh kejahatannya.
Baiklah, catat baik-baik.
Bahwa teroris sekarang ini ciri-cirinya bukan lagi pake Mobil Tank, tapi pake Tank Top! Pake Tank Top, bro!! Tank Top!!
Seru banget, eh, parah banget kan?
Sobat muda muslim,........
sebenarnya kata “teroris” ini merupakan kata yang bermakna umum.
Intinya
usaha untuk menciptakan ketakutan, atau sesuatu yang berbau mengancam.
Sedangkan kata “teroris” itu sendiri adalah si pelaku teror.
Ketika kamu SMS lawan jenis kamu,
“Dalam
waktu 1 x 24 jam kamu harus mau jadi gebetan gue! Kalau tidak, gue
nangis sehari semalam!!”, nah itu sudah berbau teror namanya.
Atau, kamu nentengin golok di pasar-pasar sembari sesumbar dengan suara lantang,
“Lo
gak tau siapa gue?! Nih KTP gue, nama gue Mamat!!! Siapa gak setor uang
keamanan ke gue, gue tebas leher elo!”, hmm…termasuk juga daftar
teroris itu.
Lebih-lebih para pejabat yang memakan uang rakyatnya, wah…itu sih malah gembongnya teroris!
Jadi
bukan setiap orang islam yang berjenggot, bergamis, dan celana setengah
betis yang mesti identik dengan kata “Teroris”. Itu mah stigmatisasi
atau propaganda orang Barat dan konco-konconya untuk memecah belah umat
islam. Betul itu! Padahal mereka sendiri –yakni Amrik dan sekutunya-
yang justru jadi teroris dengan membantai kaum muslimin di negeri-negeri
muslim.
Yah, dalam posisi begini berarti pas banget ama lantunan lagunya Iwan Fals,
“…maling teriak maling. Sembunyi balik dinding…”.
Sorak-sorak: Huuu!!
Lalu apa hubungannya aurat dengan teroris?
Uhuk, uhuk!..... Sory batuk.
Begini,
coba perhatikan akibat-akibat dari “eksploitasi” aurat sekarang ini,
bahwa karena hal inilah banyak teman-teman remaja kita yang terhambat
produktifitasnya. Mikirnya ngeres mulu sih, akhirnya susah konsentrasi
ke pelajaran. Mau buka LKS Matematika aja yang muncul malah rumus-rumus
ciuman pertama. Buka buku Biologi malah yang muncul gambar “xxx”
(Keterangan: itu yang xxx artinya gambar kodok! Hehehe…sensor ah!).
Gaswat banget kan?
Belum lagi nanti imbasnya kepada Moral atawa Akhlak.
Terlihat banget kok orang-orang yang hoby melototin aurat (idih, bilangnya hoby?).
Jangankan
mau menghafal Al-Quran, rumus-rumus Hukum Newton dalam pelajaran Fisika
jadi amblas. Maka akhirnya, Kaum muslimin sekarang ini menjadi lemah
karena generasi-generasinya dijajah pikirannya dengan “tradisi” umbar
aurat.
Lebih tepatnya: Diteror dengan tayangan-tayangan aurat!
Astaghfirullah…
Sobat muslim,....
sebenarnya
tidak hanya kita merasa terteror dengan maraknya aurat dimana-mana,
kita juga merasa diperkosa! (Wataw! Apalagi ini? Masak iya sih?). Ya
iyya lah…masak iya iya dong, mulan aja jamilah bukan jamidong.
Maksudnya begini sayang,....
kamu tahu orang yang diperkosa itu kan merasa dipaksa-paksa.
Aslinya tidak bersedia tetapi tetap aja ditodong agar mau melayani.
Lha,
kita itu hampir sama posisinya dengan orang yang diperkosa itu. Di
jaman sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) ini, dengan seabreg
objek-objek sahwat yang sengaja dibiarkan bergentayangan ini, kita yang
sudah mulai paham tentang islam merasa terganggu, merasa dipaksa-paksa
untuk melakukan maksiat. Tadinya saat berdzikir di masjid kita mau
bertobat, nentengin tasbih sambil nangis-nangis, eeh sesudah keluar
masjid baru aja pake sendal jepit sebelah sudah dijejali tontonan yang
berbau sahwat.
Akhirnya bubar grak lagi kan? Hmm, dasar! Beuuuuuuuuii Plakss!! Pyuurrr!!!
Menyalahkan diri kita sendiri yang mudah tergoda memang sudah mesti, tapi bagaimana dengan aurat-aurat yang bergentayangan itu?
Apa
kita nggak boleh menyalahkan mereka yang mengumbar sahwatnya, sementara
mereka telah “memperkosa” keimanan kita? Nggak bisa gitu dong, kagak
adil alias njomplang, brur!
Ibarat kita kalo rumahnya dimaling,
kita mau gebukin itu maling malah kita yang terkena pasal kekerasan
dalam rumah tangga. Waduh ! Sreeeeeettss GUBRAKKSSSss!!!
Jadi, seharusnya perkara ini justru harus diperhatikan betul.
Negara
wajib mengontrol masyarakatnya agar tidak boleh mempertontonkan
auratnya. Atau melarang beredarnya media-media yang mempertontonkan
aurat. Bukan karena apa-apa, apalagi sok suci bin sok islami, tapi
setidaknya ini dapat melindungi masyarakat dari meningkatnya angka
kriminalitas perbuatan asusila. Dan khususnya bagi generasi muda
pikirannya akan lebih terjaga, nggak horni mulu. Toh ini juga dalam
rangka menjalankan perintah Allah dan menghargai diri manusia supaya
tidak mengobral apalagi sampe berniat cuci gudang auratnya.
Jaim (jaga imej) dong!
Emangnya barang apaan, diobral-obral? Wedeziiggttsss!!!
Nah sobat muslim,.......
jadi
jangan hanya berpikir kaum perempuan aja yang biasa jadi korban
pemerkosaan, kaum laki-laki juga demikian, setidaknya “pemerkosaan”
iman.
Makanya bagi kamu yang laki-laki, kalo pas datang di
sekolah, di kampus, atau di Mall-Mall kamu ketemu ama
perempuan-perempuan yang berpakaian mini, maka segeralah lari ke satpam
sembari teriak sekeras-kerasnya,
“Tolooong!! Saya diperkosaaaa!!!” Hehehe.. Berani nggak?
Terus terang saya sendiri masih pikir-pikir untuk melakukan aksi nekat itu.
[Ahsan Hakim]