Tampilkan postingan dengan label Goresan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goresan Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

SAJAK BERBALAS ANTARA BUYA NATSIR DAN BUYA HAMKA

Pada pertengahan tahun 1950-an, Buya HAMKA menulis sajak khusus buat Buya Natsir setelah mendengar pidato Buya Natsir di sidang Konstituante

 
KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR
Meskipun bersilang keris di leher  Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu

Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi

Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu……!

( Puisi yg di tulis secara khusus untuk Pak Natsir,  pada tgl 13 Nov 1957 setelah mendengar uraian pidato buya Natsir dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan islam sebagai dasar negara RI )

+++++++

2 Tahun kemudian buya Natsir pun membalas dengan Sajak untuk Buya Hamka,

DAFTAR

Saudaraku Hamka,
Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama...
Kadang-kadang,
Di tengah-tengah si pongah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,

Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam ”Daftar”.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.

Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur

Pancangkan !
Pancangkan olehmu, wahai Bilal !
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Walau karihal kafirun...
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk
Kedalam ”daftarmu” ... *


Saudaramu,
Tempat, 23 Mei 1959




*Sajak ini ”ditengah-tengah sipongah mortir”, tanggal 23 Mei 1959 sesudah tersiar pidato Prof. Dr. Hamka di Gedung Konstituante Bandung, yang antara lain menegaskan, “bahwa trias politika sudah kabur di Indonesia, demokrasi terpimpin adalah totalitarisme, Front Nasional adalah partai ”Negara”.”
Ristu hasriandi Khoo

Pelajaran Kehidupan

Ilustrasi
Tersebutlah suatu cerita di suatu negara nun jauh disana.... hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang bunda dan dua anak laki-lakinya, yang tua bernama atan, dan yang bungsu bernama awang.
mereka hidup rukun, saling membantu dan kasih mengasihi. kepada handai dekat mereka akrab, kepada taulan yang jauh mereka ingat. pokoknya tetangga dan handai taulan melihat keluarga mereka adalah keluarga nirwana di muka bumi.. tidak ada kata kasar, apalagi tengking suara tinggi.

Pada suatu masa, ibunda mereka dipanggil oleh Sang Izzati Pemilik Jiwa, Allahu Robbi. semua warga kampung merasa sedih dan kehilangan sosok seorang ibu yang pengasih kepada sesama.

Setelah hilang rasa kedukaan yang mendalam, kedua saudara inipun bermusyawarah, sebagaimana ajaran orang tua mereka (terutama bonda, karena ayahanda tercinta mangkat sebelum mereka besar lagi). dalam musyawarah itu mereka membahas tentang harta warisan dari orang tua mereka...

Dan disinilah semua ujian itu bermula... kedua saudara yang semula saling mengasihi dan membantu menjadi temahak (rakus) terhadap harta peninggalan itu... sang abang merasa berhak karena dia yang tua. dan sang adik mengatakan dialah yang harus menerima banyak karena dia yang selama ini sering bersama ibunda....

Karena tidak mendapati keputusan, mereka bersepakat untuk minta pendapat para tetua dan tokoh terkemuka di kampung itu. Para tetua berembug dan mengambil keputusan bahwa harta itu adilnya dibagi dua... tapi kedua saudara ini tidak mau menerima, karena ada satu warisan yang tidak bisa dibagi dua.

Karena tidak mendapatkan keputusan yang memuaskan kedua belah pihak, akhirnya masalah ini berlarut-larut dalam kehidupan mereka... Puncaknya adalah mereka ini membuat rumah masing-masing yang saling berhadapan (gunanya agar satu sama lain bisa mengawasi), tapi dipisahkan oleh satu sungai yang cukup lebar (tidak bisa dilompati kecuali pakai galah atau pakai kuda).

Karena tiap hari mereka bisa melihat wajah saudaranya, akhirnya mereka membuat pagar yang tinggi dengan satu buah lubang pengintai di pintu pagar.

Mereka masing-masing mengupah tukang yang paling hebat dari kampung sebelah. kebetulan tukang-tukang ini adalah dua saudara kembar. tukang ini diberi waktu selama seminggu untuk membuat pagar tersebut, dan selama seminggu itu, atan dan awang tidak keluar dari rumah..

setelah seminggu berlalu, awang dan atan pun keluar rumah untuk melihat hasil kerja tukang tersebut (yang setiap harinya melaporkan perkembangan pembuatan pagar itu). betapa terharunya awang dan atan ketika melihat bahwa sekarang telah ada sebuah jembatan yang paling indah didepan mata mereka yang menghubungkan kedua rumah mereka...

Masing-masing dari mereka berpikir bahwa saudaranya ternyata masih mengasihi dan cinta kepadanya karena ketika dia menyuruh tukang membuat pagar, malah saudaranya menyuruh membuat jembatan yang akan menghubungkan dua rumah mereka.


*Pesan moral: terkadang kita tidak menyadari bahwa ketika kita memiliki masalah dengan orang terdekat kita, pasti ada orang 'luar' yang selama ini melihat kita selalu baik dengan orang terdekat kita itu terjadi masalah untuk tidak mendamaikan kita dan orang terdekat kita tersebut.
Ristu hasriandi Khoo

Pelajaran Pohon Kehidupan


Dahulu kala hiduplah empat orang bersaudara. Suatu hari ketika kedua orang tua mereka telah tiada karena permasalahan sepele mereka saling bertengkar. Pertengkaran itu kian lama kian memanas, sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal sendiri-sendiri.

Tetangga sekitar menasehati: antar saudara harus akur dan saling menjaga,mana bisa menang sendiri? Akan tetapi nasehat tersebut tidak bisa mengubah pendirian mereka. Mereka lantas membagi rumah, sawah, hewan ternak, tabungan menjadi empat bagian yang sama. Masing-masing orang berhak mendapat 1 bagian. Setelah semuanya dibagi, barulah ketahuan jika masih ada sebuah benda yang belum dibagi rata.

Benda tersebut adalah sebatang pohon besar yang tumbuh di depan rumah,tempat mereka biasanya berteduh bersama-sama. Lama sekali mereka berembuk, tak juga menemukan cara yang tepat untuk membaginya. Karena telah lelah mereka memutuskan esok hari kembali berembuk mengenai pembagian pohon. Keesokan harinya terjadilah sebuah peristiwa yang aneh. Pohon besar tersebut kemarin masih terlihat segar dan rindang, kini berubah menjadi layu dan gersang.

Sejenak mereka merenung bersama,tak lama kemudian salah satu diantara mereka ada yang berkata:pohon ini berasal dari 1 akar dan tunas yang sama.Sekarang ketika hendak kita tebang sudah gersang dan layu terlebih dahulu. Bukankah kita juga berasal dari kandungan ibu yang sama? Mereka akhirnya merasa sadar dan menyesal, saling berpelukan dan bermaaf-maafan. Dengan demikian mereka kembali hidup bersama, hari demi hari dilalui dengan penuh rasa syukur, damai, bahagia.

Terkadang kita selalu melupakan suatu hubungan yang sangat kuat antara kita dan saudara-saudara kita. Tapi yakinlah bahwa hubungan itu pasti akan muncul jika kita tidak mengedapankan ego pribadi kita....
Ristu hasriandi Khoo

Selasa, 26 Februari 2013

Tolong jangan PERKOSA Mataku !!!

Aurat, Mana tahan?

Coba tebak 4 kriteria berikut:
Putih, mulus, seksi, telanjang bulat. Apa yang ada dalam pikiran kamu?

Hayoo…jangan ngeres!
Jawabannya adalah: Sapi. Hehehe.

Sobat muslim, melihat mode yang ngetrend di zaman core 2 duo ini memang benar-benar edan. Gimana tidak, coba aja perhatikan kehidupan di sekeliling kita, remaja saat ini pada gandrung dengan pakaian-pakaian yang katanya serba praktis dan ekonomis. Itu tuh, kostum kesebelasan sundel bolong alias you can see. Hmm, baru-baru ini juga lagi Booming celana pensil (Walah, bisa-bisa pabrik pensil gulung tikar nih!).

Inilah faktanya sodara-sodara, kehidupan remaja sekarang telah menunjukkan bahwa memang demikian cepat penyebaran pakaian “modern” ini.

Contoh kecilnya ketika saya pergi ke Mall-Mall.
Wuih, rasa-rasanya seperti memasuki dunia lain. Dunia Aurat!
Hampir keseluruhan ceweknya musti pake pakaian yang membuat saya ingin lari (lari apa nih maksudnya? Lari mendekati atau? Yee.. nggak lah yaw!).
Pikir-pikir, mereka kok suka nantangin kaum Adam dengan pakaiannya yang imut-imut, itupun belum lagi ditambah dengan gayanya yang centil alias cengengesan penuh kutil. Walah!

Lelaki mana sih yang mampu mengalihkan pandangannya saat melihat sapi pake you can see, eh, cewek ding?

Kalo laki-laki “shalih” sih saya yakin masih bisa manahan diri, walaupun saya juga yakin itu sangat berat. Lha kalo laki-laki “salah”?
Melihat yang putih, yang mulus, yang seksi? (Saya tidak bilang sapi lho!)
Bisa-bisa mengganggu stabilitas nasional! (Cieh, bahasanya pejabat banget neh!).

Iya, dulu ada pengalaman salah seorang teman yang pernah sebangku.
Doi pernah cerita, katanya pas di jalan melihat cewek seksi, dari arah belakang terlihat seperti Madonna, eeh pas dilihat dari depan malah mirip Maradona; yang sejatinya pemain sepak bola tapi malamnya nyambi jadi tukang jaga kebun.
Wakaka, sory yeiy! Gubrakkkksss !!!!
Wah, rugi dong, sudah tekor iman, tontonannya mengecewakan pula.
Hahaha!

Maka bagaimana sekarang dengan keadaan di sekeliling kita ini yang hampir saban hari dan saban tempat ada pemandangan aurat yang mengundang sahwat?
Ini bisa merusak keimanan kita, cing! Bukankah iman akan bisa berkurang ketika melakukan kemaksiatan?
Sementara di waktu yang sama aurat-aurat itu seakan-akan memaksa kita untuk melakukan maksiat. Hhh, gimana nggak sedih coba?
Awalnya maksiat mata, lalu ke maksiat pikiran, dan dilanjutkan lagi dengan maksiat perbuatan.

Lho mas, itu kan tergantung orangnya masing-masing?
Itu kan yang salah yang otaknya suka ngeres?

Ya iya sih, tapi setidaknya kalo orang itu bebas mempertontonkan auratnya, berarti sama dengan memberikan “fasilitas” bagi orang lain untuk berotak ngeres. Memberikan ‘tontonan’ gratis yang kemudian mampu memicu timbulnya sahwat.

Nah, gimana kalo sudah begini?
Makanya dari sekian pelaku kriminal pemerkosaan dan perbuatan cabul, ketika ditanya kenapa mereka melakukan perbuatan itu, sebagian besar mereka mengaku karena habis menonton film donal bebek! (hehe..kamu tahu lah donal bebek itu film apaan? Ya film kartun! Hehehe).

Nah tuh, bener kan?
Jadi, ketika seseorang itu merelakan dirinya untuk mengumbar aurat, maka sama artinya memberikan “inspirasi” kepada lawan jenisnya untuk “berimajinasi”, yang kemudian sangat rentan dilakukan pemenuhan alias “ekspresi”.
Hmm, maka jangan salahkan kalo ekspresi itu sampe dilampiaskan dengan cara memperkosa. Hiii, ngeri euy!

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The real terrorist
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Hati-hati! Ini jaman adalah jamannya teroris!
Kalo teroris yang diberitakan di TV-TV adalah orang yang menggunakan bom, maka baru-baru ini diketahui komplotan teroris baru. The real terrorist!

Ini penting.
Kamu saya beritahu sekarang ini agar segera pasang kuda-kuda, agar selalu waspada. Beneran lho, bahkan saking bahayanya sampe-sampe belum banyak yang bisa mengendus pengaruh kejahatannya.

Baiklah, catat baik-baik.
Bahwa teroris sekarang ini ciri-cirinya bukan lagi pake Mobil Tank, tapi pake Tank Top! Pake Tank Top, bro!! Tank Top!!
Seru banget, eh, parah banget kan?

Sobat muda muslim,........
sebenarnya kata “teroris” ini merupakan kata yang bermakna umum.
Intinya usaha untuk menciptakan ketakutan, atau sesuatu yang berbau mengancam. Sedangkan kata “teroris” itu sendiri adalah si pelaku teror.
Ketika kamu SMS lawan jenis kamu,
“Dalam waktu 1 x 24 jam kamu harus mau jadi gebetan gue! Kalau tidak, gue nangis sehari semalam!!”, nah itu sudah berbau teror namanya.

Atau, kamu nentengin golok di pasar-pasar sembari sesumbar dengan suara lantang,
“Lo gak tau siapa gue?! Nih KTP gue, nama gue Mamat!!! Siapa gak setor uang keamanan ke gue, gue tebas leher elo!”, hmm…termasuk juga daftar teroris itu.

Lebih-lebih para pejabat yang memakan uang rakyatnya, wah…itu sih malah gembongnya teroris!
Jadi bukan setiap orang islam yang berjenggot, bergamis, dan celana setengah betis yang mesti identik dengan kata “Teroris”. Itu mah stigmatisasi atau propaganda orang Barat dan konco-konconya untuk memecah belah umat islam. Betul itu! Padahal mereka sendiri –yakni Amrik dan sekutunya- yang justru jadi teroris dengan membantai kaum muslimin di negeri-negeri muslim.
Yah, dalam posisi begini berarti pas banget ama lantunan lagunya Iwan Fals,
“…maling teriak maling. Sembunyi balik dinding…”.
Sorak-sorak: Huuu!!

Lalu apa hubungannya aurat dengan teroris?
Uhuk, uhuk!..... Sory batuk.
Begini, coba perhatikan akibat-akibat dari “eksploitasi” aurat sekarang ini, bahwa karena hal inilah banyak teman-teman remaja kita yang terhambat produktifitasnya. Mikirnya ngeres mulu sih, akhirnya susah konsentrasi ke pelajaran. Mau buka LKS Matematika aja yang muncul malah rumus-rumus ciuman pertama. Buka buku Biologi malah yang muncul gambar “xxx” (Keterangan: itu yang xxx artinya gambar kodok! Hehehe…sensor ah!).

Gaswat banget kan?

Belum lagi nanti imbasnya kepada Moral atawa Akhlak.
Terlihat banget kok orang-orang yang hoby melototin aurat (idih, bilangnya hoby?).
Jangankan mau menghafal Al-Quran, rumus-rumus Hukum Newton dalam pelajaran Fisika jadi amblas. Maka akhirnya, Kaum muslimin sekarang ini menjadi lemah karena generasi-generasinya dijajah pikirannya dengan “tradisi” umbar aurat.
Lebih tepatnya: Diteror dengan tayangan-tayangan aurat!
Astaghfirullah…

Sobat muslim,....
sebenarnya tidak hanya kita merasa terteror dengan maraknya aurat dimana-mana, kita juga merasa diperkosa! (Wataw! Apalagi ini? Masak iya sih?). Ya iyya lah…masak iya iya dong, mulan aja jamilah bukan jamidong.

Maksudnya begini sayang,....
kamu tahu orang yang diperkosa itu kan merasa dipaksa-paksa.
Aslinya tidak bersedia tetapi tetap aja ditodong agar mau melayani.
Lha, kita itu hampir sama posisinya dengan orang yang diperkosa itu. Di jaman sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) ini, dengan seabreg objek-objek sahwat yang sengaja dibiarkan bergentayangan ini, kita yang sudah mulai paham tentang islam merasa terganggu, merasa dipaksa-paksa untuk melakukan maksiat. Tadinya saat berdzikir di masjid kita mau bertobat, nentengin tasbih sambil nangis-nangis, eeh sesudah keluar masjid baru aja pake sendal jepit sebelah sudah dijejali tontonan yang berbau sahwat.

Akhirnya bubar grak lagi kan? Hmm, dasar! Beuuuuuuuuii Plakss!! Pyuurrr!!!

Menyalahkan diri kita sendiri yang mudah tergoda memang sudah mesti, tapi bagaimana dengan aurat-aurat yang bergentayangan itu?
Apa kita nggak boleh menyalahkan mereka yang mengumbar sahwatnya, sementara mereka telah “memperkosa” keimanan kita? Nggak bisa gitu dong, kagak adil alias njomplang, brur!
Ibarat kita kalo rumahnya dimaling, kita mau gebukin itu maling malah kita yang terkena pasal kekerasan dalam rumah tangga. Waduh ! Sreeeeeettss GUBRAKKSSSss!!!

Jadi, seharusnya perkara ini justru harus diperhatikan betul.
Negara wajib mengontrol masyarakatnya agar tidak boleh mempertontonkan auratnya. Atau melarang beredarnya media-media yang mempertontonkan aurat. Bukan karena apa-apa, apalagi sok suci bin sok islami, tapi setidaknya ini dapat melindungi masyarakat dari meningkatnya angka kriminalitas perbuatan asusila. Dan khususnya bagi generasi muda pikirannya akan lebih terjaga, nggak horni mulu. Toh ini juga dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menghargai diri manusia supaya tidak mengobral apalagi sampe berniat cuci gudang auratnya.
Jaim (jaga imej) dong!
Emangnya barang apaan, diobral-obral? Wedeziiggttsss!!!

Nah sobat muslim,.......
jadi jangan hanya berpikir kaum perempuan aja yang biasa jadi korban pemerkosaan, kaum laki-laki juga demikian, setidaknya “pemerkosaan” iman.

Makanya bagi kamu yang laki-laki, kalo pas datang di sekolah, di kampus, atau di Mall-Mall kamu ketemu ama perempuan-perempuan yang berpakaian mini, maka segeralah lari ke satpam sembari teriak sekeras-kerasnya,

“Tolooong!! Saya diperkosaaaa!!!” Hehehe.. Berani nggak?

Terus terang saya sendiri masih pikir-pikir untuk melakukan aksi nekat itu.

[Ahsan Hakim]
Ristu hasriandi Khoo

Cinta Atau Nafsu?

Banyak muda-mudi jaman sekarang yang asyik masyuk terseret dalam pergaulan bebas. Pacaran seolah menjadi budaya. Pacaran menjadi nuansa bagi mereka untuk menuangkan rasa cinta pada sang kekasih. Rasa rindu ingin bertemu selalu menghantui mereka, para remaja yang sedang dimabuk cinta. Malangnya, ajang bercengkerama dua anak manusia berlainan jenis (bukan muhrim) ini lebih digemari dari pada membaca buku-buku motivasi atau kegiatan positif lainnya. Lebih malang lagi, tontonan sinetron-sinetron di televisi lebih memperparah lagi keadaan ini.

Tak dapat dipungkiri lagi, di masa sekarang, ada keprihatinan mendalam di balik fenomena itu. Dengan “mengatasnamakan cinta”, muda-mudi itu banyak yang lupa akan batasan-batasan yang digariskan agama. Melalui ajang yang disebut pacaran itu, terjadilah sebuah interaksi intensif dari perasaan saling suka, sering bertemu, dan seterusnya yang berujung pada terjadinya berbagai kontak fisik dalam kesempatan yang sepi berdua. Tak jarang mereka sampai terjerumus ke jurang perzinaan, karena tak bisa mengendalikan diri. Akhirnya, hubungan yang awalnya istimewa bagi mereka, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan hancurnya masa depan bagi pelakunya. Sekali lagi, sebelumnya mereka melakukannya dengan “mengatas namakan cinta”.

Ada kisah nyata seorang wanita yang dulu jadi teman sekelas semasa SD. Dia adalah gadis yang manis menurut penilaian umum. Walau sedikit centil, ia banyak disukai teman-temannya. Sejak SD ia sudah telibat hubungan asmara dengan kakak kelas yang juga masih tetangga saya. Walau itu mungkin cinta monyet, namun kisah itu terus berlanjut hingga SMA. Malangnya, ketika masih kelas 1 SMA, si gadis ternyata telah berbadan dua sehingga mau tidak mau harus kawin sangat muda. Tak berapa lama, keluarlah anaknya dari rahimnya sehingga dapat dikata ABG (Anak Baru Gede) tiba-tiba mengeluarkan anak yang bisa “gede”. Setelah semua itu terjadi, hilanglah masa-masa indah si gadis dalam berproses menjadi manusia dewasa. Dia harus menjadi sosok ibu di saat jiwanya masih pancaroba, sementara gadis-gadis lain sedang menikmati kebebasan mencari jati diri. Dia kini kelihatan sudah tua dengan badan gemuknya layaknya ibu-ibu kelahiran era 70an. Kecantikannya hanya terlihat sekejap mata setelah bencana itu tak dapat dihindarinya. Ia telah kehilangan masa mudanya… Lalu, siapa yang salah?

 
***

Begitu naifkah, kata cinta yang harusnya dijaga kesuciannya, menjadi ternoda. Lalu, benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase? Jadi, ketika sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan, sebenarnya cinta ataukah nafsu mereka yang “berbicara”? Apakah emosi ataukah akal sehat mereka yang lebih dominan?

Jika ada seorang gadis yang berkata pada kekasihnya, “Kuserahkan segala milikku untukmu sebagi bukti cintaku padamu…” Dia menganggap itu sebagai sebuah pengorbanan karena cinta. Tapi begitukah pengorbanan untuk cinta? Ataukah itu untuk nafsu?

Ada seorang pemuda menanyakan pada pacarnya, “Bila kau benar cinta padaku, apa buktinya?” Atau dalam kesempatan lain, “Sebagai bukti cinta, maukah kau kucium, kupeluk… (dan seterusnya).” Atau dalam kasus lain, jika yang minta ini itu adalah sang gadis, dan ketika si pemuda menolaknya lantas dibilang pengecut. Apakah harus begitu membuktikan cinta?

Begitu mudahkah mengatas namakan “cinta” untuk suatu perbuatan dosa. Apakah itu benar cinta, atau itukah yang dinamakan nafsu? Yah, sebagai makhluk jenius yang dikaruniai akal budi yang sempurna, kita sebagai manusia pasti tahu perbedan keduanya, antara nafsu dan cinta. Dan sebagai generasi muda yang terpelajar, sudah sepantasnyalah kita tidak mencampuradukkan kedua hal itu untuk melegalkan hasrat (baca: hawa nafsu) kita.

Sekarang adalah era informasi yang serba canggih, bukan era manusia gua ratusan abad yang lalu. Manusia semakin cerdas dan punya peradaban tinggi. Jadi, harus tahu apa itu arti cinta yang sesungguhnya, dan jangan menodai makna cinta dengan pelampiasan hasrat nafsu birahi dengan mengatasnamakan cinta.
Begitu parahnya pergaulan bebas muda-mudi di jaman ini, yang melegalkan perbuatan maksiat sebagai sebuah kebiasaan yang wajar. Hal itu bukan tanpa bukti. Ada wanita yang berkisah langsung dan katanya ingin bertaubat. Ada juga laki-laki yang berkisah dengan perasaan bangga tanpa ada niat memperbaiki diri sedikitpun. Ada juga cerita dari teman yang sering dijadikan curhat teman-temannya. Pendek kata, kita harus mengurut dada mengetahui realitas kelabu ini. Mereka ada di tengah-tengah kita. Itu terjadi di tengah-tengah kita.

Belum lagi banyaknya kasus-kasus pergaulan intim muda-mudi di luar nikah yang menghebohkan, direkam layaknya film dokumenter, namun akhirnya aib itu tersebar. Dan bagi si pelaku, pasti malu yang tak terkira harus mereka tanggung. Juga bagi keluarganya, itu semua menjadi aib yang memalukan, menghancurkan martabat keluarga, dan meluluhlantakkan segala kebanggaan. Ironisnya, pelakunya kebanyakan adalah sepasang kekasih yang masih pelajar atau mahasiswa. Lebih ironis lagi, mereka melakukannya atas nama cinta.

Pertanyaannya: apakah semua itu hanya dibiarkan saja? Atau hanya jadi bahan pemberitaan belaka?
Nama cinta bukanlah untuk sesuatu yang nista. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya. Jika kita mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya, bukan menodainya. Cinta selalunya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang “pecinta sejati”. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta.

Pasangan legenda Rama–Shinta, Romeo–Juliet, Kais–Laila, menjadi kisah sepanjang masa karena cinta mereka. Tidak ada kisah melegenda tentang nafsu yang tak terkendali dalam hubungan dua insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan. Adanya hanyalah skandal, perselingkuhan, perzinaan, dan nama lain sejenis yang amoral.

Jadi, jangan katakan ‘cinta’ jika kita tidak bisa memaknainya dengan makna yang sebenarnya. Jangan samakan cinta dengan nafsu hanya karena kita kurang kendali diri. Jangan mengkambinghitamkan cinta sebagai sarana pelampiasan nafsu. Dan yang lebih penting lagi, pergaulan bebas tak akan terjadi bila muda-mudi kita bisa memaknai cinta dengan sebenarnya dan memegang teguh ajaran agama dengan istiqomah (konsisten) sampai tiba masanya gerbang pernikahan terbuka.
Ristu hasriandi Khoo

Rabu, 20 Februari 2013

Cinta di rumah kain kasa

Pertemuan itu tidak pernah diduga
Hingga membuat ikatan ini begitu mesra
Walaupun belum pernah bersua
Tapi hati ini tetap merindu.

Sungguh aku tidak mengenalmu
Ataupun yang lainnya
Sungguh, kawan
Aku tidak menipumu.

Tapi rasa itu selalu menyapa
Dalam diam,
Dalam kesendirian,
Dan dalam suka maupun duka.

Persahabatan ini hanya terjalin karena rasa
Rasa cinta yang selalu mekar dihati
Mekar karena Dia mengizinkan
Dia yang berhak atas segala cinta.

Aku mohon kepada Dia
Yang memiliki segala cinta
Semoga cinta ini selalu mekar
Selalu berada di hati kami yang hina.

*****
Disalah satu sudut kamar hati RUMAH KAIN KASA
29 agustus 2010.
Ristu hasriandi Khoo

Ibu

Wahai Ibu
Melalui dirimu aku mengenal dunia
Melalui dirimu aku mengenal cinta
Melalui dirimu pula aku mengenal hidup

Duhai Ibu,
Darah yang mengalir di tubuhku ini
Menjadi bukti kecintaanmu kepadaku
Sehingga aku juga mengenal kasih sayang

Ya Rahim, Engkau telah menitip cinta
Melalui perantaraan seorang ibu
Ya Rahman, Engkau telah menjadikannya wali
Yang mengajarkan aku kehidupan

Wahai Penguasa Cinta
Aku titip doa kepadaMu
Teruntuk seorang ibu
Yang telah merawatku.

***
Teluk Nibung, disuatu malam tanggal 12 September 2010
Ristu hasriandi Khoo