Rabu, 27 Februari 2013

Kitab Bulughul Maram

Bulughul Maram merupakan salah satu kitab yang memuat Fiqih Islam dan menjadi rujukan kaum muslim di berbagai negara untuk menjalankan dan menghayati ajaran Islam secara benar. Kelebihan buku ini dibandingkan yang selama ini beredar adalah pada terjemahan yang dibuat lebih mudah dimengerti dan diberi catatan-catatan untuk memudahkan kelas-kelas pembaca baik bagi para santri, para pelajar, mahasiswa ataupun umum. Kelebihan lain edisi ini adalah pada catatan kredibilitas hadits yang penerjemahnya menukil pendapat Syeikh Al-Albani, yang keislaman sangat tidak diragukan.

Pengarang menjelaskan bagaimana seorang muslim seharusnya beraktivitas sesuai dengan sunnah Rasulullah Muhammad saw. dari bangun tidur sampai kemudian tidur kembali, dan semua aktivitas harian itu dibahas secara tematis dari cara bersuci hingga akhlak tercela dengan tujuan memudahkan pembaca untuk memahami dan menjalankan apa yang diamanahkan oleh Rasulullah.






Silahkan download disini (versi chm lengkap) dan lengkapi koleksi buku anda.
Ristu hasriandi Khoo

Kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah

- Benarkah Khalifah Pertama Abu Bakar Ash-Ashiddiq diracun hingga menyebabkan kematian beliau?

- Benarkah penyebab umar bin Khaththab mencopot khalid bin walid dari jabatannya sebagai panglima pasukan karena adanya intrik pribadi antara keduanya?

- Benarkah isu-isu tendensius yang menyebutkan bahwa Utsman bin Affan lebih mengutamakan karib kerabat untuk memegang jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan seperti yang dituduhkan sebagian orang?

- Apa yang melatarbelakangi peperangan Jamal yang terjadi antara Ali bin Abi Tholib dengan az-Zubair, Thalhah dan ‘Aisyah ?

- Dan Apa pula yang melatarbelakangi peperangan antara Ali bin Abi Tholib dengan Mu’awiyyah hingga menyebabkan kematiannya?

Begitu banyak isu-isu kontroversional yang disebutkan dalam buku-buku sejarah, namun banyak yang perlu diluruskan. Yang disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil dari penyimpangan sejarah. Sementara, sejuta pertanyaan lain masih menggelayut dalam benak menuntut sebuah jawaban. Dimanakah jawabannya?

Buku yang hadir di hadapan pembaca ini memberikan jawabannya. Dipetik dari buku al-Bidayah wan Nihayah, sebuah karya monumental seorang ulama besar yang tidak asing lagi; Al-Hafidz Imaduduin Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir.

Sebagai pembukan, buku ini dimulai dengan metode penyusunan dan penyuntuingan, biografi Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dan Kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah serta metode dan referensi yang digunakan.
Kitab ini cocok untuk yang senang mempelajari kisah-kisah para sahabat pada masa khulafaur rasyidin seperti Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali ra. Kalau anda senang membaca sirah nabawiyah, kemungkinan anda juga akan tertarik dengan kitab ini. Insya Allah kitab ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan tentang fitnah al kubra yang selama ribuan tahun menggelayuti umat Islam. Pembahasan dalam kitab ini pun cukup detail sampai hal-hal kecilnya.

Ada saatnya rasa haru muncul ketika membaca kisah-kisah kehidupan para sahabat ra dalam kitab ini. Dan ada pula saatnya muncul rasa kagum dan bangga. Bagi saya pribadi, membaca buku ini cukup seru dan seandainya kisah-kisah dalam kitab ini dijadikan film, maka film itu insya Allah akan menjadi film yang hampir lengkap mulai dari action, drama dan tentunya tanpa esek-esek seperti kebanyakan film. Insya Allah akan ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan mereka.


Mau bukunya? silahkan download disini

Ristu hasriandi Khoo

Sinergi Membangun Peradaban Islam

INSISTS, Karanganyar, Jawa Tengah, 26 Jan 2013-1 (2)
 DR HAMID FAHMI ZARKASYI
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين نحمده ونستيعنه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات اعمالنا من يهدى لله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له

Pertama saya ingin berapologi bahwa materi ini sudah sering saya sampaikan diberbagai kesempatan, dan mungkin banyak yang sudah tau dan banyak yang mengulang. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa mengulang itu tidak berdosa, sebab yang namanya penyanyi band yang lagunya itu-itu saja dengan manggungnya dimana-mana, juga banyak yang mendengarkan, masak yang ilmiah begini tidak diperdengarkan. Itu satu.

Yang kedua, ayah saya berpidato  dengan materi yang sama kepada santri, kemudian saya bertanya “kenapa materinya sama, apakah santrinya tidak bosan.  jawab beliau mudah aja, itu pil kita. Itu iklan yang setiap hari diperdengarkan, pepsodent yang setiap hari iklannya diperdengarkan, apakah masyarakat  tidak bosan?, tidak, justru orang beli pepsodent. Makanya supaya orang selalu diingatkan.

Yang ketiga, saya pernah bertanya kepada Prof. Al-Attas. “Prof, pernah mengulang-ngulang materi yang sama didalam  beberapa kali perkuliahan”. Dengan agak sedikit emosi, beliau katakan, “tidak semua orang yang mendengarkan saya itu faham. Jadi meskipun saya ulang-ulang materi, saya yakin tidak semua orang itu faham”.

Jadi ini persoalan yang perlu diingatkan. Persoalan yang kita bersama perlu menyamakan tujuan dan pikirian kita menuju sebuah  titik yang tidak ada perselisihan di dalamnya, laa rayba fihi. Bahwaa Islam adalah sebuah peradaban dan peradaban itu dibangun oleh ilmu pengetahuan. Hal ini jika diucapkan, orang awam tidak mudah memahaminya. Tetapi ketika kita bersentuhan dengan berbagai persoalan umum ternyata ini adalah sumbernya.

Baik, sebelum itu saya ingin sekedar sharing saja. Sering kali kita memandang Islam itu secara salah. Apalagi sekarang media masa dengan begitu kuat arusnya. Islam dianggap sebuah religion, religion sama dengan religi, religi adalah sebuah kepercayaan, dan kepercayan adalah dogma, dogma adalah doktrin. Nah kalau sudah doktrin, itu pasti dekat dengan fundamentalisme dan terorisme.

Agama itu diletakkan dimana orang itu percaya begitu saja, tetapi tidak mempunyai argumentasi mengapa dia percaya. Kita harus memandang  Islam sebagi agama dalam artian “din” dan agama dalam artian peradaban atau tamaddun. Ini yang tidak pernah disinggung oleh orang-orang Barat. Mereka selalu mengatakan bahwa Islam sebagai religion, seperti misalnya “Islam in the way”, “Islamnya” disitu bukan berarti Civilization. Ini adalah sebuah komposisi atau komparasi yang tidak seimbang. Islam dianggap agama, sedangkan  the way dianggap civilization, ini tidak fear.

Dialog yang diadakan dengan Barat itu dialog “interfaith dialogue”, tidak pernah ada dialog “intercivilization dialogue” atau dialog peradaban. Ini curang.  Sebab apa, kalo kita rtikan Islam sebagai perasdaban, kita mempunyai konsep. Jadi tidak peru diajari tentang konsep pluralisme, feminisme, gender dan sekularisme. kita sudah memiliki  konsep sendiri. Nah, bargaining ini orang Barat yang tidak mau.

Maka kembali kepada asal kata Islam. Islam adalah din, din bukan religion. Din itu berasal dari kata dayana, dayana berasal dari kata daynun. Jadi Akar kata ini sudah  diskit dalam bahasa Arab, bahwa  kata dayyan dadalah penguasa orang yang berhutang. Jadi Islam itu adalah proses hutang-piutang makhluk dengan Tuhannya. Tetapi uatang-piutang dalam beragama ini mudah. Kita tidak perlu mebayar dengan uang, kita hanya membayar dengan ketaatan. “innalah yastara minal mukminin anfusahum bianna lahum jannah”. Jadi jiwa manusia itulah untuk membayar utang-piutang.

Jiwa yang seperti apa untuk membayar utang agama, yaitu jiwa yang datang kepada Tuhannya, sebagimana dia keluar diciptakan Tuhannya. “Illa man atallah bi qolbin salim”. Orang-orang ini kalau sudah datang kepada Allah dengan hati yang bersih, berarti dia sudah tidak punya hutang lagi. Hutangnya manusia itu adalah kesucian jiwanya itu pembayarannya. “Wa man yuqridhullaha qardhan hasanah yudhlo’ifu lahu hasanah”. Siapa yang membayar Tuhan dengan kebaikan, maka akan digandakan kebaikan itu.

Di dalam Islam tidak ada konsep religion. Sedangkan religion dalam Barat itu adalah sebuah  belive atau kepercayaan saja. Maka  dalam Kristen kepercayaan mendahului ilmu. Credo put intel gam, artinya saya perca, maka saya paham. Kepercayaan mendahului pengetahuan. Percaya dulu baru faham. Dalam Islam hal tersebut tidak boleh. Yang ada “fa ‘a’lamu annahu laa ilaha illallah” makanya ketika masuk Islam, itu tidak  mengatakan “saya percaya bahwa tiada tuhan selain Allah” akan tetapi “saya bersaksi”.  Apa yang menyaksikan?,  yang menyaksikan adalah akal kita.

Nah, dari sini diketahui bahwa konsep akal dalam Islam sudah berbeda.  Akal dalam Islam adalah hati, hati adalah nafs. Sedangkan akal dalam Barat adalah rizhen. Agama dengan rizhen di Barat tidak sesuai. Oleh sesab itu Agama di Barat itu tidak ada hubungannya dengan saint.

Dalam Islam, alam beragama itu adalah  juga alam untuk berfikir. Maka beragama itu dengan  fikiran.  Oleh karenanya ketika din itu dilaksanakan, wallahu ‘a’lam, tau-tau Nabi Saw memerintahkan orang-orang di Yatsrib untuk mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Ternyata nama Madinah itu ada akarnya, dari kata daynun. Madinah menjadi tempat agama dilaksanakan.

Kalau kita cermati Ayat-ayat yang turun di Makkah dan  Madinah, Nampak sekali bahwa ayat di Makkah itu adalah asas agama, aqidah, ilmu beragama dan prinsip-prinsip beragama. Sedangkan ayat-ayat di madinah  adalah agama yang diimplementasikan  dalam berkehidupan social-politik dan budaya. Nah kesimpulan para orientalis setengah benar setengah salah. Ketika nabi di Makkah, nabi masih religius. Ketika beliau di madinah sudah sekuler.

Ya memang, menurut orang keristen kehidupan dunia itu sekuler. Namun bagi orang Islam kehidupan agama itu adalah dunia dan akhirat. Ada dimensi akhiratnya dan ada dimensi dunianya, dan itulah yang dilakukan oleh Nabi ketika di Madinah. Kehidupan di Madinah itu tidak terlepas dari kehidupan di Makkah.

Berkembanglah di situ kata-kata dinun menjadi kata madinah. Madinah menjadi fi’il madanah, madanah itu  artinya berbudaya, namun Budaya dalam artian kita city live.  Makanya masyarakat madani tidak bisa disamakan dengan civil society.  Karena kata-kata madinah itu ada kata dien, ada proses utang-piutang tapi dalam bentuk perbuatan sosial.

Agama Islam itu adalah agama yang mencapai akhiratnya itu dengan kehidupan di dunia dengan sebanyak-banyaknya. Makanya pahala bersosial dengan pahala ubudiyah kepada Allah itu lebih banyak pahala bersosial. Kalau sholat pahalanya satu, namun kalau menolong anak yatim itu pahalanya lebih banyak lagi.  Namun yang paling banyak lagi adalah mencari ilmu.  Sebab dengan ilmu itulah yang bisa menolong orang lebih banyak lagi.

Jadi sekali lagi, Islam adalah agama dan peradaban. Ini adalah dasar kita berpijak. Dan Islam itu adalah agama yang sudah sempurna. Kenapa diakatakan  “akmaltu lakum dinakum”, sebab kesempurnaan itu menyeluruh. Bahkan  ayat itu sebenarnya berkaitan dengan makanan, bahkan makanan pun diatur oeh Islam.
Kesempurnaan Islam itu mencakup hal-hal yang menjadi domin kehidupan manusia di dunia. Naun Tidak berarti semua aspek yang sangat teknis itu ada di dalam Islam, ini salah faham.  Maksudnya kamil adalah agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang abadi dan  tidak pernah berubah di sepanjang zaman.

Misal, ayat “kullu insana khuliqa halu’an” artinya manusia itu diciptakan berkeluh kesah. Berarti bukan manusia zaman dahulu saja yang berkeluh kesah,  tapi sampai sekarang-pun masih berkeluh kesah. Contoh lagi ayat “zuyyina linnasi hubbu assahawati mina al-nisaa wa al-qonathiri mi al-qantharati”’, di sini tidak mungkin yang seneng sahwat itu pada zaman nabi saw saja, zaman sekarang juga masih doyan dengan sahwat.

Penjelasan ini mencakup semua manusia. Tidak ada bedanya muslim atau nonmuslim, arab atau non arab.  Berarti di sinilah pembicaraan al-Qur’an  menyeluruh, kamil, dan sempurna.

Kalau kita ingin mengetahui kesempurnaan Islam, kita bandingkan Islam dengan agama lain.  Agama Kristen tidak mempunyai syariat, agama Yahudi syariatnya sangat sedikit, tidak diatur hal-hal yang sangat detail. Namun Islam diatur semuaya, nah disitulah kesempurnaan Islam. Kesempurnan ini bila dikembalikan dalam al-Qur’an, akan kita dapati dalam al-Qur’an  apa yang disebut dengan konsep-konsep  seminal. Konsep-konsep yang masih dalam bentuk statemen.

Seperti misalnya ayat “Alladzi yadzkuruna qiyaaman wa qu’udan wa ala junubihim yatafakkuruuna fi kholqi assamawat wal ardhi, rabbana ma khalaqta hadza bathila”. Bagaimana mengkombinasikan antara Yadzkurun dan yatafakkaruun?. Ini menjadi sebuah pernyataan umum, yang bila dijabarkan akan menjadi sebuah epistemology.  Bukan main-main ini.

Atau ayat “wa’adallahu lladzina amanu wa amila asshalihati an yastahlifannahum” artinya Allah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh untuk menjadi pemimpin.  Berarti modal pemimpin itu adalah iman dan amal shaleh.  Tapi beda lagi ketika ayat “yarfa’ilahu alladzina amamnu minkum walladzina utu al-ilma darajat”. Orang yang iman dan ilmunya tinggi, derajatnya pasti tinggi.

Bagaimana iman dan ilmu dalam Islam menjadi satu, sedangkan di Barat ilmu dan iman tidak bisa menyatu. Ini menjadi sebuah sebuah pertanyaan yang harus dijawab.  Berarti iman dan ilmu di dalam Islam itu tidak  bisa terpisahkan. Kalau begitu berpikir dan beriman dalam Islam sama.  Ternyata berpikir dalam Islam itu menggunakan hati, bukan menggunakan fikiran.

Oleh sebab itu mengapa kita tidak boleh beriman dan berfikir dengan hal yang berbeda?. Wa laa yalbisu imanahum bidzhulmin, tidak boleh mencampurkan keimanan dengan kemusyrikan.  Kenapa mencampur?, karena tempatnya sama-sama di dalam hati.  Hati anda beriman, tapi pikiran anda tidak, itu salah.

Contoh, Saya pernah punya kawan. Jika dia berdoa, bahkan bisa lebih panjang dari saya. Begitu seminar ia mengatakan “saya seorang kiri”. Mengatakan demikian adalah ciri-ciri ideology.  Ada lagi teman yang mengatakan bahwa meski saya liberal, saya tetap shalat lima waktu .

Contoh diatas adalah contoh kerancuan berfikir. Seakan-akan keimanan di satu sisi, pemikiran disisi yang lain. Contoh lagi pernyataan “anda boleh berfikir apa saja asal anda beriman kepada tuhan”.  Ini tidak bisa. Sebagaimana pernyataan orang dulu-dulu, bahwa hatinya di Makkah tapi otaknya di Jerman, ini yang saya tidak setuju.  Jerman kan sekuler, sedangkan Makkah kan religi. Jika hatinya di Makkah maka pikirannya  harus di Madinah.

Kalau kita berbicara al-Qur’an dengan segala macam konsep-konsepnya, kita akan menemukan sebuah bentuk peradaban. Ada ilmu, ada  jiwa,  ada ekonomi, ada ketuhanan, ada masalah kehidupan, ada masalah hari akhir dan masalah-masalah sepiritual lainnya.

Intinya, jika kita bicar al-Qur’an, maka kita bicara ilmu pengetahuan.  tidak ada kitab suci yang secanggih al-Qur’an.  Tidak ada kitab suci yang menyebut kata ilmu lebih banyak dari pada al-qur’an.  Al-Qur’an bisa dikatakan sebagai  saintific book, sekaligus sebuah petunjuk sepiritual.

Al-Qur’an adalah mukjizat, yang darinya keluar berbagai ilmu. Diantaranya adalah ilmu bahasa. Tidak  akan ada ilmu nahwu dan sharaf jika tidak ada al-Qur’an.  Karena di dalam al-Qur’an itu ada bacaan-bacaan yang kemudian menghasilkan sebuah rumus.  Ketika bacaan itu mengandung kata mudzakkar akan memiliki tanda yang berbeda dengan tanda muannats. Ini menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah well desain.
Dari konsep-konsep itu sebenarnya bisa muncul konsep-konsep lebih jelas lagi. Kata ilmu di dalam al-qur’an  800 kali disebutkan, akan tetapi tidak ada devinisi ilmu.  Ma hua al-ilmu, tidak ada dalam alQur’an.  Yang ada adalah penjelasan para ulama’ yang datang kemudian. Yang ada hadits hanya di dalam hadits, seperti “ma hua al-Islam”, tapi tidak ada di dalam al-Qur’an.  Makanya sangat aneh jika ada orang yang mengkari sunnah.  Juga aneh jika da orang-orang yang mendekonstruksi otoritas sahabat dan ulama’.  Sebab dai al-Qur’an dan hadits, kita masih buta yang kemudian dijelaskan oleh para sahabat dan para ulama’ salaf.

Itulah narasi atau flow of ide al-Qur’an, hadits, sahabat, tabi’in, tabi’Itab’in dan ulama’ yang kemudian menjadi sebuah blue print yang tidak bisa kita potong begitu saja. Mendekonstruksi otoritas ulama’ adalah memutus ilmu. Coba bayangkan jika ilmu ekonomi diputus dengan tidak perlu Adam Smith misalnya. Maka yang terjadi adalah ekonomi di dunia ini menjadi kacau.

Tapi yang terjadi adalah orang-orang liberal melakukan hal ini dengan memotong flow ide ini dengan mengatakan “kita tidak perlu imam Syafi’I, imam hanafi, imam Ghazali dan sebagainya. Kita langsung kemabali kepada al-qur’an dan hadits saja”. Nah begitu masuk pada ranah al-Qur’an mereka gunakan Hermeneutika. Maka habislah semua.

Bagimana kronologi sebuah kitab suci menjadi sebuah peradaban. Coba perhatikan sebuah ayat yang sangat menarik sekali untuk dikaji. “Alam tara kaifa dharaballahu matsalan kalimatan thayyibatan ka syajaratin thayyibatin hafsuha tsabitullah far’uha fi ssama’ tu’ti ukulaha kulla hiinin bi idzni robbiha wa …llaha”.

Ayat ini adalah amtsal (metafora) sebuah kalimat yang baik seperti pohon yang akarnya itu kuat dan dahannya sampai ke langit.  Ini adalah metafora sebuah peradaban Islam yang tumbuh dengan sebuah kalimat thayyibah yang disebut dengan tauhid.  Artinya peradaban Islam berangkat dari teologi. Ilmu dalam Islam berangkat dari kepercayaan dalam Islam.

Ayat tu’ti ukulaha menggambarkan pohon bisa memberi makan. Kok bisa pohon memberi makanan?. Inilah sebuah pohon peradaban. Sejarah membuktikan, pada kenyataannya peradaban Islam “memberi makan” pada Persia, India, Mesir dan  Damaskus yang selama ini dijajah oleh orang Keristen. Inilah contoh yang diberikan Allah.

Dari ayat al-Qalam perintah iqra’ atau menela’ah, kita diperintah menela’ah alam yang empiris ini menggunakan sesuatau yang metafisika (alladzi ‘allama bi al-qalam, ‘allam al-insaana ma lam ya’lam).  Surat ini menjadi awal surat yang turun kepada Nabi saw. Inilah yang saya maksud diawal pembahasan, yaitu bagimana mengingat Tuhan dan juga berfikir  mengenai alam semesta, atau bagaimana kita mengingat alam sekaligus mengingat Tuhan.

Namun hari ini jarang yang melakukan demikian. Contoh kasus banjir, tidak satupun orang yang menghubungkan antara banjir yang terjadi dengan taqdir dari tuhan supaya manusia ini belajar. Namun yang ada adalah analisis-analisis yang bersifat empiris.

Nah tantangannya ialah bagaimana umat Islam ini mengkaitkan antara kitab suci dengan  fenomena-fenomena alam. Ternyata pada hakikatnya alam itu adalah ayat juga. Jika al-Qur’an adalah ayat-ayat qur’aniyyah, maka alam adalah ayat-ayat kauniyyah.  Yang terjadi adalah kita kadang-kadang lupa bahwa kita memiliki ayat-ayat kauniyyah.  Yang namanya ayat adalah tanda, dan tanda adalah menunjukkan sesuatu diluar tanda itu. Sebuah contoh, ketika kita memasuki wilayah solo, ada sebuah tanda dengan tulisan “solo 50 KM”, berarti solo buan ditanda itu, tapi solo ada di tempat 50 Km lagi.

Al-Qur’an itu adalah tanda yang menunjukkan sesuatu yang lain, yang dimaksud dengan “yang lain” itu adalah Tuhan. Jadi semuat itu menunjukkan kekuasaan Tuhan.

Prof S.M.N Al-Attas pernah menggambarkan manusia itu  seperti musafir yang menuju sebuah tempat. Di tengah perjalan ia melihat seuatu yang sangat menarik dan begitu indah. Saking terbuaihnya dengan keindahan tersebut, ia lupa dengan tujuan sebenarnya. Dia berhenti di tempat itu, dan mengagumi tempat itu.  Itulah gambaran manusia secular. Ketika mereka melihat dunia ini enak, maka mereka berhenti di dunia saja.
Ayat-ayat kauniyyah itu ada di dalam alam semesta ini, dan itu memerlukan tafsir. Jika al-Qur’an memiliki tafsir, ayat-ayat kauniyyah-pun memiliki tafsir. Bila ayat tersebut muhkamat, maka menggunakan tafsir, tapi bila ayat itu mutasyabihat, maka menggunakan takwil.  Ketika kita melihat alam semesta ini dengan fenomenanya yang tidak jelas, maka kita menggunakan takwil, karena hal itu adalah ayat mutasyabihat.

Siapa yang berhak mentafsirkan ayat tersebut?. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi (arrasikhuna fi llilm).  Bila kita melihat fenomena ala mini, maka kita harus metafsirkan (dengan alQur’an) dan mentakwilkannya (dengan ilmu pengetahuan), agar dapat menghubungkannya dengan Tuhan.

Ada satu lagi, bahwa di dalam diri manusia juga terdapat ayat-ayat yang dimasukkan oleh Allah dimana ketika kita akan diciptakan Allah berfirman “alastu bi rabbikum, bala syahidna”. Nah disini menunjukkan bahwa di situ ada ayat bahwa diri manusia diciptakan dengan kemampuan mengenal tuhan.  Oleh karenanya manusia diciptakan dengan kemampuan mengenal Tuhan, meskipun dia tidak mengetahui apa-apa. Kemampunan mengenal Tuhan ini kemudian dalam sejarah peradaban manusia diwujudkan menjadi agama, kepercayaan, mistik dan lain sebagaian.

Ketika manusia kembali menjadi muslim, maka dia telah kembali pada fitrahnya, karena Islam itu adalah agama fitrah. Idealnya ialah menyatukan antara ayat-ayat qur’aniyyah dengan ayat-ayat kauniyyah oleh seorang subjek yang di dalamnya ada ayat-ayat Ilahiyyah, yaitu manusia dengan ma’rifatullah.

Hal ini sama dengan pendapat Ibn Taimiyyah namun bukan dengan sebutan ayat, tapi dengan sebutan fitrah. Jadi alam itu diciptakan dengan fitrah (Allahu fathirus ssamawati wal-ardh).  Di dalam diri manusia ada fitrah. Manusia tidak bisa memahami fitrah alam semesta, kecuali dengan fitrah munazzalah.  Fitrah munazzalah itu adalah fitrah yang diturunkan Allah, yaitu berupa al-Qur’an.  Nah misi kita sebagi manusia yang dilahirkan dalam keadaan fitrah adalah menyatukan ketiga fitrah ini.

Ada satu pernyataan seorang orientalis  yang sesuai dengan surah Ibrahim ini (tu’ti ukulaha kulla hiini). Ia menyataka “orang islam tidak berbekal apa-apa secara cultural selain kitab suci dan sunnah Nabi saw. Tapi karena innerdinamiknya kitab suci itu, maka ajaran Islam menjadi sebuah pandangan Islam yang dinamis, yang kelak memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia”. Wallahu a’lam, Semestinya orientalis ini mendapat hidayah.

Ketika kita berbicara peradaban Islam, maka di dalamnya kita berbicara politik, kekuasaan, ekonomi dan yang terpenting ialah berbicara tentang pendidikan.

Ketika Islam datang, masyarakat pada masa itu adalah masyarakat yang tidak berilmu. Saya katakana tidak ada ilmunya, karena pada masa arab jahiliyya  itu tidak bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya. Karena sesungguhnya orang yang berilmu itu adalah adil, nah adil itulah yang bisa meletakkan pada tempatnya. Maksud dari “sesuatu” itu bukan yang kelihatan dengan mata, akan tetapi sesuatu itu lebih merupakan sebuah konsep. Yaitu meletakkan sebuah konsep ada tempatnya.

Contoh; pernikahan pada zaman jahiliyah itu ada. Namun laki-laki pada waktu itu ada yang nikah dengan wanita sejumlah seratus, sedangkan perempuannya memilki laki-laki sebanyak  90. Ini yang kemudian dilarang did ala Islam sebab kebodohan. Mengapa hal ini tidak boleh?. Hal ini dijawab oleh sayyidia Ali, bekiau engatakan bahwa, jika kita membuang air kelautan, bisakah kita mengambil kemabali air tesebut. Artinya, jika wanita memiliki suami banyak, ketika hamil semua mengklaim itu anak mereka masing-masing dan pada akhirnya tidak bisa membuktikan siapa yang menjadi bapak dari anak tersebut. Akhirnya dipanggilah dukun untuk menentukan siapa yang ayah anak itu, bagi yang tepilih sebagai ayah, senang dia. Namun bagi yang tidak terpilih, maka ia marah dan kemuidan membunuh yang  dipilih menjadi ayah. Ini artinya   mereka tidak ada ilmunya.

Contoh lagi, orang Arab pandai berdagang, namun apa efek dari perdagangan bagi orang  Arab. Efeknya ialah, orang yang paling kaya itu adalah orang  yang paling berkuasa meskipun prilakunya belum tentu baik. Meskipun ia suka membunuh, namun ia tetap dipilih menjadi pemimpin. Maka kata-kata karim pada zaman itu memiliki arti orang yang memiliki anak dan harta yang paling banyak.  Islam dating dan merubah konsep  karim, bahwa “karim” adalah orang yang paling bertkawa.  Disitulah pertanda bahwa masyarakat jahilia yang  ekonominya canggih, syairnya luar biasa, persukuannya banyak dan memiliki aturan-aturan, akan tetapi tidak ada ilmunya.

Datanglah Islam dengan membawa konsep Tuhan, dunia, kehidupan, manusia, nialai dan sebagainya. Pada periode-periode tersebut dijelaskan oleh nabi, dan dijelaskan para sahabat. Ketika para sahabat menjelaskan, maka dikatakan pada saat itu Islam sudah mulai ada pemikiran bahwa Islam itu ilmiah.  Semisal penjelasan kaifiyah sholat dengan ruku’, sujud, dan lain sebagainya adalah penjelasan ilmiah.

Sedangkan ayat “inna ssholata tanha anil fakhsya wa lmunkar” dan penjelasan hadits tentang sholat itu seperti ketika tangan anda kotor dan kemudian anda pergi ke sungai dan bersuci setihap hari lima kali, apakah tangan anda tidak bersi”. Nah ini lebih merupakan sebuah konsep. Kenudian tentang zakat, rasul menjelaskan jika anda memiliki uang banyak, kenapa tidak berikan kepada orang lain, itu adalah hak orang lain, itu menjadi pensucian.

Dahulu, system dari Islam itu sendiri kemudian menuju menjadi daynun atau pembayaran kepada Tuhan. Nah kemudian konsep itu bisa mengkristal semisal akhlaq, jihad, ilmu, tafsir, takwil memiliki makna sendiri. Jadi makna-makna dalam Islam itu mungkin ribuan. Islam itu kaya dengan terminology dan itu adalah tecnikal .. yang tida ada dalam peradaban lain. Maka ilmu itu tidak bisa diterjemahkan menjadi saint. Sebab bila ilmu itu bisa diterjemahkan, maka albert einstin itu menjadi ulama’.  Saya tidak rela jika ilmu ditermahkan menjadi saint.

Kata-kata sunnah, tafsir dan nikah  tidak serta merta bisa dirubah menjadi tradisi, interprestasi dan kawin. Bila kawin ada istilah kawin suntik, maka tidak dengan nikah. Tidak ada istilah nikah suntik. Nikah itu “mitsaqan ghalidha”, ada konsep di dalamnya.   Hal itu sangat berbeda. Artinya di dalam Islam, setiap kata ada maknanya, setiap makna itu ada konsepnya, dan di dalam konsep itu ada suatu system hubungan antara satu dengan lainnya.  Jika kita bicara tentang dosa dan pahala, maka kita bicara iman. Berbicara mengenai iman, pasti berbicara mengenai Islam.

Islam itu, dari makna-makna kata menjadi setruktur ilmu. Orang yang membicarakan tentang Tuhan terus, akan melahirkan ilmu kalam. Orang yang membicarakan hokum-hukum, akan menghasilkan ilmu fiqh. Orang yang membicarakan hubungan warits-mewaris akan mengahsilkan ilmu fara’idh.  Orang yang membahas tatabahasa akan menghasilkan ilmu nahwu dan sharaf.  Inilah yang dimaksud dengan mengkristal dengan sendirinya dalam peradaban Islam.

Ketika itu peradaban Islam mulai keluar dari jazirah Arab menuju Bagdad, Damsyskus (Syiria), India, Mesir dan sebagainya yang mana disitu bertemu peradaban yang sudah memiliki konsep. Konsep itulah kemudian dimodifikasi oleh orang-orang Islam.

Al-Kindi mencoba mengislamkan filsafat Ariestoteles, akan tetapi dia gagal. Kemudian al-Farabi mulai ada perkembangan, lalu Ibn Sina lebih canggih lagi. Lalu Allah mengutus al-Ghazali untuk mengkritik mereka semua, karena hal ini salah.  Kemudian al-Ghazali diingatkan ibn Rusyd, akan tetapi ibn Rusy tidak mampu untuk mengingatkan al-Ghazali. Ibn Rusyd salah faham terhadap pemikiran al-Ghazali. Datanglah Fakhruddin al-Razzi, beliau lebih canggih lagi dari al-Ghazali.

Allah mengutus hambah-Nya ketika terjadi kesesatan. Maka ketika itu al-Ghazali menyindir Ibn Sina bahwa orang yang menganggap ala mini abadi adalah kafir, namn demikian al-Ghazali yidak menyebut orang itu adalah Ibn Sina.  Ya mudah-mudahan karena munculnya liberakisasi ini Allah mengutus Insist.  Kalau kita belajar masa lalu, semoga kita salah satu dari Asy’ari, Ghazalian atau Fakhruraziyan.

Jika melihat dari perjalanan awal “li-tahrif “ itu selalu ada, akan tetapi Allah selalu mengutus orang untuk membenarkan. Cuma yang aneh itu adalah orang-orang liberal, mereka beranggapan bahwa Nabi-pun mengalami tahrif. Sehingga ia menganalogikan, jika Lia Eden itu dihujat olah banyak orang, hal ini sama dengan Nabi daulu juga dihujat oleh banyak orang. Ini adalah lost of adab.

Islam itu dipahami oleh kelompok mayoritas. Oleh karenanya hati-hati dengan kelompok minoritas. Ada kelompok kecil malah bertentangan dengan kelompok mayoritas. Syi’ah itu tidak pernah menjadi kelompok mayoritas, tapi dia tetep menjadi kelompok Syi’ah. Karena Syi’ah itu menyebut dirinya kelompok, bukan jamaah, dan pasti mereka bukan jamaah. Syi’ah pasti qalilah, (Ahlusunnah wal) jamaah pasti katsirah.  Apalagi Ahmadiyah. Jadi ini menunjukkan bahwa Islam selalu dibela oleh mayoritas. Dan semoga kita berada dikelompok mayoritas.

(kembali ke persoalan awal). Nah ketika terjadi pertemuan dengan peradaban-peradaban asing inilah kemudian terjadi proses. Inilah yang hari ini disebut proses Islamisasi, namun pada zaman itu tidak ada istilah demikian.  Di dalam kajian orientalis, islamisasi ini disebut proses asimilasi. Semisal ibn sina mencoba mengasimilasi konsep ariestoteles neo-platonisme menjadi konsep teologi dan filsafat Islam, akan tetapi masih ada warna-warna ariestotels-nya.

Imam al-Ghazali sebenarnya sedikit banyak juga mengambil konsep tesebut. Semisal konsep wujud. Dalam al-Qur’an tidak ada istilah wujud, eksisten dan …, para ulama’ menggunakan istilah asing tersebut untuk menjelaskan Islam, bukan mereka terpengaruh.  Sebab ketika orang Islam keluar ke Damaskus, sudah banyak orang Kristen. Kemudian orang-orang keristen itu bertanya, Tuhan orang Islam itu esens atau eksisten?, Esensi Tuhan dengan eksistensi tuhan itu beda apa tidak?, Tuhan itu substansi atau bukan?, dalam Islam ada asmaul husnah, maka apa itu asmaul husnah?,  maka hal itu menjadi pikiran bagi orang-orang Islam.

Nah kemudian para ulama’ berfikir bagaimana cara menjelaskan ini semuanya. Oleh sebab itulah kemudian ulama’ meminjam istilah asing tersebut. Bukan terpengaruh. Lain itu, sebab kalau terpengaruh berarti kita dijajah. Orang orientalis selalu megatakan bahwa orang Islam itu theologinya dari Yunani dan Kristen. Ini salah.

Kemudian ilmu pengetahuan Islam yang bersifat kauniyah lahir dari interaksi di atas.  Ilmu pengetahuan Islam itu ada dasarnya dalam al-Qur’an.  Misalnya ayat “wa ja’alna mina al-ma’i kulla syaiin hayyi” artinya: kami jadikan dari air segala sesuatu itu hidup. Para ulama’ kemudian berfikir lalu belajar dari India, Yunani dan lainnya dan muncullah teori pertanian.

Ilmu hisab misalnya,   orang Islam mencari angka untuk bisa menghitung perdagangan. Dimodivikasilah angka-angka India itu, sehingga terbentuklah angka nol.  Jadi yang menemukan angka nol itu orang Islam yang dimodivikas dari angka India.  Ini sebagian contoh saja. Dan masih banyak ilmu-ilmu lain seperti fisika, biologi, kimia, theology dan sebagainya.

Hal ini yang mebdakan dengan Kristen. Ternyata al-Qur’an dapat dijadikan alat asimilasi untuk ilmu-ilmu tersebut tanpa kita katut theology kita terkorbankan. Orang Kristen itu tidak berani menterjemahkan logikanya Ariestoteles. Kenapa?, karena dengan logika Ariestotels itu, trinitas menjadi berantakan. Hal ini dikatakan oleh mereka sendiri.

Namun tidak dengan Islam. Tentang teori Copernicus misalnya. Di dalam Kristen hal ini menjadikan keributan. Karena Gereja sudah menentukan, bahwa yang betul itu adalah prinsipnya Ptolemik.  Bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi, karena di dunia itu ada manusia, sedngkan manusia itu mulia. Oleh sebab itu bumi menjadi pusat galaksi. Itu doktrin teologi Kristen. Namun begitu Copernicus menemukan toeri Heliosentris, gereja menjadi rebut.

Dalam Islam, mau bulan mengelilingi matahari atau bulan berhenti dan diam atau sebaliknya terserah, hal itu tidak ada kaitannya dengan keimanan.  Hal itu adalah bagian daripada ayat-ayat kauniyah. Seandainya terjadi salah faham, bisa dibetulkan.  Ini bedanya  Islam dengan Kristen.

Artinya, kita memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan saint. Dalam Islam kita disuruh untuk berfikir, tadabbur , tafakku dan lain-lainnya. Tidak ada masalah dengan spekulasi-spekulasi yang sifatnya saintific.  Disitulah rahasanya mengapa Islam dalam saint itu maju.

Maka sungguh apologi yang sangat naif jika Kristen beranggapan baha Islam itu berhutang budi pada oreang-orang syiriac.  Sebab naskah Yunani yang ada di tangan orang-orang siriac, namun ilmu orang-orang Siriac tidak juga berkembang ilmunya.  Ketika naskah itu diterjemahkan dalam bahasa Arab, maka limu itu berkembang pesat.  Kok setelah berkembang pesat, orang Kristen berkata pada orang Islam, “kamu berhutang budi pada orang Kristen”,  Loe kemana aja selama ini. Jadi orang Kristen itu tengil sekali jika ngomongin saint, bahwa Islam berhutang pad Kristen. Bahkan masalah Theologi-pun, Islam katanya berhutang budi pada Kristen.

(kembali ke pembahasan). Kemudian disitu lahirlah peradaban Ilmu dalam Islam. Pernah suatu kal, gara-gara menjelaskan ini saya dikritik seseorang. Di berkata “berarti kesimpulannya di zaman Nabi itu tidak ada peradaba”.  Saya jelaskan, bukan begitu maksudnya, yang saya makdus itu adalah saya ingi menjelaskan bagaimana proses dari al-Qur’an menjadi sebuah perdaban masayarakat yang di dalamnya ada Ilmunya.

Bagaimana dengan zaman Nabi?, zaman Nabi sudah ada peradaban Islam, peradabannya adalah peradaban al-Qur’an.  Orang-orang asshuffah mengatakan “kami bersama Rasulullah saw tidak pernah melewatkan satu ayat dari al-Qur’an, kecuali memambaca, memahami, memnghafalkan dan mengamalkannya”.  Ini lura biasa. Jika kita mengerkan al-Qur’an, mungkin eradaban Islam sudah Qur’ani semua.

Begitu kehidupan menjadi semakin komplek, banyak hal yang harus dijelaskan. Itulah, peradaban Islam bertemu dengan peradaban lain mengasilkan peradaban ilmu.

Singkatnya, apa sebab Islam itu mundur?. Jawabannya satu, taqdir Tuhan. Sebabnya, pertama, mengapa Abasyiah diserang dengan mudahnya oleh Khan?, kenapa Allah tidak membelah Abasyiah, kan itu mudah bagi Allah?.  Karena Allah menghendaki Abasyiah kalah.

Kemudian ada kondisi-kondisi ekologis dan alam yang tidak bisa dielakkan. Pada abad ke 10 telah terjadi krisis pangan di beberapa Negara Islam.  Ada wabah penyakit di Mesir, Syiria dan Iraq. Lalu terjadi perang salib yang tidak kunjung berhenti. Jadi setelah Jengis Khan mengalahkan Baghdad, ia lari mengejar para ulama’-ulama’ sampai Damaskus dan Mesir. Ibn Taimyah pun masih ikut perang melawan tentara Mongol pada masa itu.

Kemudian disambung dengan hancurnya lembaga-lembaga pendidikan. Jadi Ibn Taimyah lari dari temapt tinggalnya menuju Damaskus sebab. Di damaskus tidak aman lagi, sebab khalifahnya sudah tidak berfikir ilmu lagi. Tidak seperti di zaman Baghdad.  Kemudian beliau pindah ke Mesir. Karena hobi beliau mengkritik, ketika khalifah mengeluarkan kebijakan, beliau kritik. Kemudian beliau di penjara. Nah di penjara itulah beliau mengarang kitab “Naqdul mantiq dan arradu ala al-manthiqi”.

Akhir beliau dipenjara adalah dirampas kertas dan tintanya. Ini kemudian beliau berkata “inilah benar-benar penjara bagi saya”. Nah, pesan saya kepada para araqi yang ngikiuti Ibn Taimyah. Masuk penjara-ya masuk penjara, keluar dari penjara keluar juga bukunya. Atau  demo-ya demo, tapi pulang demo nulis buku. Kalau niru jangn separuh-separuh.

(kembali ke pembahasan) lalu perdagan Islam menjadi kurang. Dari situ kemudian jumlah penduduk Islam menjadi turun. Di sinilah sangat kentara bahwa abad-abad kemunduran Islam itu adalah dekehendaki oleh Allah.  Ibn Kholdun mencatat bahwa tidndakan Amoral, pelanggaran hokum, penipuan, orientasi matrealistis, berbohong, berjudi dan sebagainya itu terjadi pada masyarakat pada waktu itu.

Sebenarnya di Baghdad, sejarah sukses para khalifahnya itu tidak mulus. Ada satu khalifah yang meracuni khalifah yang lain agar cepat terjadi suksesi pergantian. Kemudian ada mentri di Baghdad itu khusus mentri pengadaan minuman keras.  Karena sudah berabad-abad berkuasda, Jadi memang Baghdad pada waktu itu kehidupanya gemerlap dan jauh dari yariat.  Namun para khalifah meski berbuat demikian, masih ada kelebihannya. Yaitu mendukung ilmu pengetahuan. Itu persoalannya.

Namun zaman sekarang berbeda, penguasa Islam, sudah korupsi, dan berfoya-foya tidak mendukung ilmu lagi. Jadi akhlak penguasanya rusak, kedzaliman, kemewahan, egoism, kemudian pajak yang ditari besar-besaran. Di sisi lain rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama. Lebih-lebih masyarakat  memilih pena daripada pedang, sedikit-sedikit mengugunakan kekerasan. Ini dikarenakan penanya tidak berjalan.

Ada sebuah analisis yang menarik dari seorang profesor saint muslim di Amerika. Beliau pernah dating ke ISTAC pad tahun 1998. Beliau mengatakan “marilah kita letakan skenario hipotesis. Jika kekuasaan Islam tidak dilemahkan atau dikalahkan oleh jengis Khan, dan jika ekonomi Negara-negara Islam tidak dihancurkan, dan jika stabilitas politik tidak diganggu, dan jika para ilmuwan muslim diberi stabilitas dan kemudahan dalam 500 tahun lagi, apakah mereka akan gagal mencapai apa yang telah dicapai Coprnicus, Galileo dan Newton?”. Ini sebuah pertanyaan yang jawabannya adalah tidak.

Jadi model astronomi planetarium Ibn safir dan astronomi muslim yang sekualitas Copernicus yang telah mendahului mereka 200 tahun. Membuktikan bahwa teori Heliosentris dapat diplokamirkan oleh saintis Muslim. Jika komunitas mereka terus eksis dibawah skenario hepotesis ini.

Artinya kalau Ibn Satir it uterus hidup dab Pedaban Baghdad terus berjalan, teori Copernicus akan kedahuluan Ibn Satir.  Ada sebuah kajian yang menyatakan bahwa Copernicus itu ternyata membaca terjemahannya Ibn satir yang sudah mengarah kepada teori Heliosentris. Sebab tiba-tiba Copernicus menemukan teori ini, dari mana asalanya?.

Jika demikian, maka kekuasaan, ekonomi, stabilitas politik, pendidikan dan penelitian adalah prasyarat bagi pengembangan peradaban ilmu pengetahuan.

Nah, sekarang apa tantangan kita?. Tantangan kita bukan Jengis Khan lagi, tapi Jengis Khan yang sangat abstak yang personnya adalah globalisasi dan westernisasi.  Globalisasi ini sepertinya tidak bisa ditolak, itu sebuah universal yang semua orang harus terima. Tetapi didalam itu, globalisasi seperti kuda Trojan. Dia dating seperti kendaranan yang menolong, akan tetapi di dalamnya ada bala tentaranya.  Globalisasi seperti itu, diamana di dalamnya terdapat liberalisasi, skularisasi, humanism, pluralism, hedonesme dll.  Ini semuanya jika diterangkan bisa menjadi sangat panjang.  Ringkasnya itu ada di dalam buku MISYKAT.

Bagaiman sebenarnya trik-trik menreka untuk mengelabuhi umat Islam?. Itu semuanya ada dalam buku tersebut. Ini semua adalah sebuah konsep  yang dieksport kedalam pikiran umat Islam, dan anehnya umat Islam itu menikmati dengan hal itu.

Efek dari semua itu apa?. Pendidikan Islam, budaya Islam, ekonomi Islam, politik Islam dan sebagainya, sangat massif. Kita itu seperti dikepung oleh ide-ide ini semuanya. Missal, bicara politik, kita sudah dijejali dengan demokrasi sehingga “sura” tidak berlaku.  Bicara pendidikan, maka harus dichotomy. Harus ada ilmu agama dan ilmu umum. Mau membuat prodi saint Islam misalnya, nomenklaturnya tidak diperbolehkan.  Begitu juga prodi ekonomi islam, juga tidak boleh diadakan di departemen agama, bolehnya hanya di diknas.
Apalagi kalau kita berpikir agak ideal sedikit, seperti mendirikan prodi sosiologi Islam, nanti ditanya “yang ngajar siapa?”.  Yang ngajar itu harus S2 jurusan Sosiologi Islam juga.  Akhirnya muter-muter aja itu semua.  Atau Psikologi islam, pasti tidak ada.

Kenapa hal ini terjadi, karena semua sudah termakan sistim pendidikan dan ilmu pengetahuan yang dichotomis.  Jadi persoalan kita itu apa sebenernya?.  Persoalan kita sangat banyak sekali. Masing-masing Isme itu akan membawa dampaknya sendiri-sendiri.

Kalau kita sederhanakan, akarnya itu ada di persoalan kita itu ada disekitar pengertian ilmu.  Akal pikiran kita telah diliputi sifat ilmu, tujuan ilmu dan lain sebagainya.  Sehingga orang Islam telah terperdaya dan tidak merasa menerima pengertian tersebut dari kebudayaan Barat.  Seperti pernyataan “ilmu itu adalah netral, tergantung siapa yang menggunakannnya”, ini pernyataan dari mana?. Ini pernyataan dari Barat. Namun orang Islam dengan menikmati kata-kata tersebut, akhirnya juga menirukan.

Saya seringkali ngomong begini, kalau ilmu netral ayo kita balik sekarang. Kita terapkan ilmu fikih itu di Amerika. Berani nggak?.  Begitu juga ilmu fara’idh?. Ilmu faraidh kita terapkan di dalam UUD Amerika, bisa nggak?. Jawaban mereka, tidak bisa, itu kan dari Islam. Nah ini kelihatan bahwa ilmu itu tidak netral.  Tapi sebaliknya, ilmu politik demokrasi, mari diterapkan di Negara, inikan universal bellu. Siapa yang bilang universal?. Artinya kita sudah dikacaukan pikiran kita mengenai konsep  dalam Islam. Banyak konsep yang kita tinggalkan gara-gara kita kemasukan konsep yang datang dari Barat.

Karena persoalannya adalah ilmu pengetahuan, maka ilmu itu sendiri yang harus kita rekonstruksi. Yang dimaksud ilmu di sini, adalah ilmu pengetahuan Barat, bukan Ilmu Islam. Sedangkan yang direkonstruksi itu bukan ilmunya, akan tetapi orang yang menjadi subjek ilmu. Ilmu ada dalam pikiran, yang di-Isilamkan itu adalah yang ada dalam pikiran tersebut.

Oleh sebab itu, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang dimaksud oleh al-Attas adalah mengislamkan cara berpikir orang kontemporer mengenahi ilmu pengetahuan. Jadi salah paham terhadap ilmu Islam itu ada dalam pikiran umat Islam. Itu yang harus dibetulkan. Bagimana cara membetulkannya, yaitu harus dengan melalui sumber daya manusia pendidikan. Masalahnya pendidikannya yang mengajar orang itu-itu juga. Maka ini yang yang harus kita hadapi.

Kita mau melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan, tapi dosenya liberal. Bagimana bisa melakukan Islamisasi, ini tidak mungkin. Itulah proyek yang sedang kita lakukan di INSISTS ini. Kita ini berada ditepi lembaga-lembaga yang sangat angkuh dengan dichotomy ilmunya itu. Dan tidak mungkin kita bisa masuk dan merubah begitu saja. Maka benar apa yang dikatakan pak Adian tadi malam, beliau berkata “ini proyek prosesnya 50 tahun”.  Tapi amal jaryah kita 50 ribu tahun diakhirat.

Sekarang anda bayangkan, dari Islamisai ilmu pengetahuan yang di gelorakan al-attas tahun 1970, baru beberapa tahun belakangan ini ada program studi ekonomi syari’ah. Ditandai dengan munculnya Umar chapra, khursyid Ahmad dan orang-orang yang terinspirasi untuk melakukan Islamsasi ekonomi.  Karena yang paling dekat itu adalah persoalannya di ekonomi.  Itu terjadi mulai tahun 1970 sampai hari ini, kurang lebih 40 tahun baru ada pemikiran tesebut.

Dan Isnya Allah setelah ekonomi syari’ah akan uncul program studi psikologi islam, sosiologi Islam, politik Islam dan lain sebagainya. Memang panjang perjalanannya, namun idenya harus digelindingkan. Untuk menggelindingkan ide itu, kita perlu komunitas.

Di Jogja orang tidak mau kata Islamisasi, mereka katakana bahwa Islamisasi itu arogan ada unsur politik dal lain sebagainya.  Tapi kemudian mas Kuntowijaya terminology lain, dengan istilah mengilmukan Islam. Ini lebih arogan lagi menurut saya, dianggapnya Islam itu tidak ilmiah. Saya mengerti maksud dari mas kunto. Diakan nggak pernah belajar Islam.

Dia tidak mengetahui dan membayangkan bagiamana para mutakallimun berbicara fisika atau thobi’iyat. Mereka sudah lebih saintifik. Bagaimana para ulama’ itu berbicara proses bagaimana orang dar persepsi, apersepsi, abstraksi, asimilasi sampai membuat konseptualisasi dalam pikiran. Ini adalah epistemology.  Islam itu sejak zaman dahulu sudah ilmiah.

Proses berpikir seperti ini, sekarang dipisahkan oleh sebuah epistemology Barat yang secular. Nah ini yang harus kita benerkan. Ketika orang berpikir bahwa melihat fenomena alam ini harus lepas dari  keyakinan-keyakinan. Jikan anda melakukan proses induksi, maka anda jangan mencampur dengan keyakinan dalan agama anda.  Itu yang terjadi dalam epistemology modern. Ini rusak, agama dipisahkan dari saint. Nah, bagaimana kita memasukkan kembali agama dalam saint?.  Perlu sebuah komunitas.

Islamisasi ilmu ada lagi yang menggunakan istilah integrasi dan ada pula yang menggunakan istilah interkoneksitas.  Jadi tugasnya itu hanya mengkoneksikan antara ilmu-ilmu saint dengan agama. Padahal masalahnya tidak sesederhana itu. Kita harus konseptual dari dasar.

Bagaimana ilmu yang dari akidah itu, berkembang menjadi epistemology, ini yang harus kita bangun. Maka kedepannya, yang dirubah menurut al-Attas juga universitasnya.  Namanya Universitas, maka harus bisa menghasilkan manusia universal.  Jadi semua orang di dalamnya harus aspek-aspek Islam yang perlu bagi seseorang.

Katakanlah belajar saint dia harus tahu theology. Atau belajar politik, maka dia harus tau syari’ah.  Atau belajar Hukum internasional, maka harus tahu Muqaranatul adyan, begitu juga belajar psikologi, maka harus tahu tarbiyyah. Ini yang tidak terjadi.

Contoh fakta, orang yang belajar ekonomi syariah, semestinya mengetahui syari’ah dan tahu ilmu ekonomi konvensional. Namun sayangnya banyak yang tidak tahu. Saya pernah datang ke sebuah Universitas di Damaskus.  Saya masuk ke Fakultas ekonomi, saya Tanya dosennya.  Apa persoalan yang anda hadapi?, persoalannya begini, orang yang mengetahui syari’ah itu banyak yang tidak mengetahu ekonomi konvensional, begitu sebaliknya, orang konvensional tidak tahu syari’ah.

Ini yang dimaksud diperlukan sinergi itu. Yang belajar Islamisasi itu tidak bisa menciptakan psikologi Islam, kecuali ketemu dengan pakar psikologi dan bicara tentang ini. Kita katakana ini lho dalam Islam itu, nanti akan menemukan titik temu antara Islam dengan ilmu psikologi.  Begitu juga ekonomi konvensional.

Saya pernah ditanya oleh orang Unibraw, “Ustadz, apa konsep harga dalam islam?”.  Wah ini pertanyaan ekonomi ini. Dia berkata “ya, tapi ekonomi Islam itu harus menjawab ini”. Kata saya “tapi saya kan ndak belajar ekonomi syariah!”. Dia menyelah “tapi antum kan ustadz!”.  Jadi bagi da ustadz itu tau semuanya.  Pertanyaan itu tidak bisa saya jawab.  Teryanta ada cerita dibalik pertanyaan tersebut.

Ketika dia baru dari malang ke Gontor, dia beli rambutan di suatu tempat dengan harga Rp. 10000/kg, begitu perjalan beberapa KM, si dosen Unibraw ini beli lagi rambutan. Ternyata harga rambutan tersebut 1kg  Rp 50.000. maka dia mempertanyakan a”dosa apa tidak harga rambutan yang Rp. 50000, meskipun saya sanggup dan mau membayar harga rambutan tersebut. Nah pertanyaan, dosa apa tidak harga rambutan 50000 tersebut yang saya tidak bisa menjawab. Oleh karenanya, disinilah letak sinergis antara ilmu syariah dengan ilmu ekonomi konvensional.

Ini baru permasalahan ekonomi, belum masalah sosiologi, politik dan sebagainya. Oleh karenanya perlu ketemu antara eeka yang belajar saint dan mereka yang belajar filsafat Islam. Sehingga dapat meletakkan segalanya dalam Islam sesuai letaknya.

Seinggu yang lalu saya dikirimi oleh utadz fatkhur (dosen UGM) seorang psikolog. Beleiau adalah ketua asosiasi psikologi Islam sekaligus dosen psikologi UGM. Beliau bertanya pada saya, “bagaimana maksud Islamisasi Psikologi?, kalau bisa kita kerja sama”.  Saya jawab, “saya tidak bejar psikologi”, saya terangkan saja tentang epistemology dalam Islam, kemudian saya terangkan hubungan antara qalbu dengan aql dan lain sebagainya,ternyata beliau tertarik. Beliau katakan “hal yang seperti ini yang tidak ada di psikologi!”.

Nah, kayak begini ini perlu adanya silaturrahmi ilmiah. Makanya saya membuat istilah dalam sebuah makalah. Sekarang bukan Ukhuwah Islamiah, tapi Ukhuwah Ilmiyah.  Artinya kita bersatu dan bersaudara dalam bidang ilmu. Pahalanya sangat tinggi ketimbang ukhuwah Islamiyah yang hanya ketemu salaman, bicara sana-sini kemudian selesai. Namun jika ketemu dalam majelis ilmu, itu sangat luar biasa. Bayangkan, satu jam dalam majelis ilmu, itu sama saja dengan pahala shlat tahajjud semalam suntuk.

Inilah yang perlu kita jalin antara orang yang ahli Islam dan orang yang ahli bidang studi saint. Kita harus ciptakan komunitas.

Tradisi keilmuan Islam itu bukan sebuah lembaga pendidikan formal. Namun tradisi keilmuan Islam adalah kebiasaan mencari ilmu.  Jika mahasiswa kuliah, ujian uts atau uas, kemudian lulus. Lalu mengambil S2 sampai S3 yang hanya merebut gelar semata. Akan tetapi dia tidak memunyai intelektual habbit, menurut saya dia tidak hidup dalam tradisi ilmu.

Orang yang memiliki tradisi ilmu ialah mereka yang selalu mencari ilmu diluar jam perkuliahan.  Sebagaimana yang kita lakukan hari ini.  Jika anda sedang dikampus mengikuti perkuliahan, saya ragu dengan tradisi keilmuan anda, karena hal tersebut formalitas.  Yang terpenting itu adalah mencari ilmu di luar kampus.

Ini yang perlu kita hidupkan, sebab jika anda kuliah di UGM maka anda tidak perna bisa belajar Agama Islam. Tidak mungkin membicarakan psikologi dalam perspepktif Islam di dalam kampus, harus di luar kampus. Kalau kita sudah membangun peradaban Islam dengan pakem pendidikan yang sudah ada ini, kita tidak akan sampai. Maka kita harus memiliki pakem yang lain. Oleh karenanya kita hidupkan tradisi asimilasi ini.

Mudah-mudahan di masa akan dating akan terwujud tradisi tersebut, semisal dari Bandung bisa memprakarsai bidang saint Islam. Dari situ muncul seminar dan diskusi saint secara nabisoan, say kira sudah banyak peminatnya lama-lama. Dan mudah-mudahan juga ada program studi saint Islam yang diterima oleh diknas dan depag. Hal itu tidak mustahil.  Di Surabaya, sudah ada program studi politik Islam.

Nah disitu kemudian muncul komunitas. Karena Ilmu tanpa komunitas tidak akan berjalan. Semisal, siapa saja yang concern dengan saint Islam atau psikologi Islam di seluruh Indonesia, mari kita kumpulkan .

Nah, kita berharap di INSIST nanti ada komunitas-komunitas tersebut. Senisal pengkaji budaya jawa,  komunitas saint Islam, komunitas pengkaji peradaban Islam dan sebagainya. Masing-masing komunitas tersebut bila berkembang dengan pesat, insya Allah tidak akan lama lagi program studi dan disiplin keilmuan ini akan lahir dari perguran tinggi-perguruan tinggi di Indonesia.

Dari komunitas itulah yang kemudian menghasilkan sistim. Orang bicara politik Islam atau bicara partai politik Islam, maka pakemnya harus di dalam ilmu politik Islam. Teori-teori apa yang anda gunakan untuk mencapa kekuasan? Bila tidak dengan ilmu politik Islam.  Bila ini tidak dilakukan, maka hal ini tidak sesuai dengan peradaban Islam. Jika semua orang bicara peradaban Islam dalam perspektif ilmu pengetahuan Islam, maka citra negative itu akan hilang.

Sekarang ini orang sudah mulai berbicara ekonomi Islam, seperti pemebicaraan “anda menyimpan uang di mana?”, jika di bank konvesiaonal, maka ada yang berani menyatakan hal ini sebagai riba. Artinya, sekarang ini orientasi orang dalam berekonomi Islam sudah bergulir dimana-mana.

Coba anda bayangkan, jika ada seseorang memiliki ilmu politik, kemudian ia tahu bahwa politik dalam Islam itu seperti ini, maka dengan sendirinya akan ada pertanyaan “anda itu beroplitik secara Islam atau secara kafir?”. Itu baru politik, belum fiqh pendidikan. Kalau pendidikan itu hanya belajar ilu agama saja, berarti dia tidak belajar ilmu kauniyah.  Apa yan dialkukan hanya sebatas ilmu Quraniyah saja.  Hal itu tidak sempurna dan berakibat salah paham tentang sunnatullah.

Harus seperti, jangan kemudian mengharaman saint sebab karena saint belum diislamkan. Program ini panjang. Jika kita menyalahkan orang-orang Islam belajar saint kemudian anda belajar ilmu sekuler, ini tidak fair. Sebab mereka yang belajar saint ini tidak ada pilihan kecuali belajarnya disitu. Yang betul adalah kita bersinergi, mari yang belajar saint bekerja sama menghasilkan disiplin ilmu baru, yaitu disiplin ilmu pengetahuan Islam.

Bagaimana mewujudkan ini semuanya selain sinergi antara intelektual. Ada lagi yang perlu disinergikan, ini yang kita copy system yang berjalan dari Baghdad pada zaman itu. Dimana pada saat itu pengusaha, masyarakat, penguasa dan temasuk semisal media, bersatu padu mendukung ilmu pengetahuan. Bahkan para pengusaha pada waktu itu sangat bangga jika rumahnya menjadi perustakaan, meskipun dia tidak membaca buku.  Pangusah dangat dermawan pada para ulama’.

Disinilah kemudian ilmu itu berkembang. Semua elemen mendukung. Pertama koleksi buku dalam perpustakaan bayt al-Hikmah pada saat itu adalah buku milik khalifah. Ini kemudian adalah awal penerjemahan buku. Menterjemahkan-pun dibayar oleh khalifah dengan bayaran tinggi. Seorang ulama’ yang menulis buku itu dibayar dengan menimbang berat buku yang kemudian berat buku tersebut diganti dengan emas.  Sebrapa banyak ia menulis, itulah emas yang akan ia peroleh.

Dalam konteks di Indonesia. Banyak sekali lembaga pendidikan Islam yang tidak mampu untuk mengembangkan hal-hal di atas dikarenakan ekonomi. Sementara itu para pengusaha muslim sangat banyak yang kaya raya.uang yang dikumpulkan lembaga-lembaga seperti masjid, perkumpulan para pedagang muslim dan sebagainya itu luar biasa banyaknya. Akan tetapi penyaluran dari dana ini yang sekarang menjadi persoalan.

Saya pernah berhubungan dengan yayasan dana masjid al-Falah. Dana yang dihasilkan dalam jangka satu bulan kurang lebih satu milyard. Waktu itu saya sindir kalau bisa bantu INSIST, namun sayangnya bagi mereka tidak ada kamusnya untuk membantu lebaga pendidikan seperti itu.  Yang ada hanya untuk saluran anak-anak yatim piatu, pondok pesantren yang memerlukan dan orang-orang yang memint, baru dikasih. Tidak ada planning strategi untuk mengembangkan peradadaban Islam. Ini hanya salah satu contoh.

Konglomerat muslim sebenarnya banyak sekali, tapi kenapa pendidikan Islam tidak maju?. Di Barat, satu penelitian yang hanya satu makalah saja, maka tiket perjalan pulang pergi, biaya penghidupan da lainnya dibiayai oleh pemerintah. Hal ini hanya untuk menghasilkan satu makalah saja.

Nah sekarang Indonesia mulai meniru. Dosen-dosen di kirim ke luar negri. Satu orang dosen biayanya 100 juta, namun sayangnya pulang tidak nulis makalah, hanya sebatas jalan-jalan. Inilah gambaran mental pendidik di Indonesia. Jadi serba salah semuanya. Hal ini dikarenakan pendidikan kita tidak menghasilkan orang yang serius didalam menjalan tradisi ilmu.  Dikirim kemana saja, bila tidak memiliki tradisi ilmu, ya tidak ada pengaruhnya. Maaf, bahakan yang ke Maroko saja, dimana di sana adalah tempat ‘ardhlul  Auliya’. Dikirim ke sana, bukan melakukan riset namun kerjaannya hanya ziyarah kubur melulu. Ini sangat naïf sekali. Dimana tradisi ilmu berubah menjadi tradisi spiritual.

Kita berharap bagaimana masyarakat kita dorong supaya memiliki komitmen mengembangkan ilmu pengetahuan. Begitu juga para pengusaha, berkomitmen membantu mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan yang paling penting ialah media masa. Problem terbesar kita adalah tidak adanya media masa dipihak kita yang mana bila kita memiliki pendapat, media ini bisa mem-backup pendapat kita.

Missal ketika kita melawan UU kesetaraan gender. Tidak ada satupun media yang mem-Blowup persoalan tersebut. Padahal ini sangat penting sekali. Bahkan ketika di TV ONE, ustadz Adnin itu dulu sama host-nya, “ini kasusnya itu seperti ini”, kalau tidak diomong dulu, bisa-bisa dihabisin mereka yang anti UU kesetaraan gender pada waktu itu.

Banyak sekali orang-orang yang tidak tahu masalah dan tidak tahu bagaimana membela umat Islam. Semisal perkara Syi’ah, kita sudah didahului oleh orang-orang syiah yang lobi  ke media-media masa. Makanya ketika kasus sampan, kata orang, “apa yang terjadi di media massa 99,999 % adalah salah. Karena media memang sengaja ingin menghidupkan yang minoritas.

Ini adalah persoalan ilmu. Bagimana kita membea Ahlu sunnah wal jama’ah dari syi’ah?. Tidak ada sama sekali dalam pikiran media massa seperti itu, yang ada adalah bagimana minoritas dibela. Ini satu sisi.

Di sisi yang lain adalah para pejabat. Sekarang ini, karena politiknya begitu demokratis, maka pejabat yang lahir dari sistim ini adalah pejabat yang tidak ada ilmunya. Ini yang menjadikan kebingungan. Makanya al-Attas itu membuat sebuah lingkaran setan, pendidikan yag tidak betul pemikir dan pemimpin yang tidak betul. Dari pemikir dan pemimpin yang tidak betul, akan menghasilkan peraturan yang tidak betul. Dari peraturan yang tidak betul menghasilkan peikir dan pemimpin yang tidak betul lagi. Ini akan berputar terus tiada berujung.

Oleh karenanya lingkaran ini harus dipecah. Bagimana cara memcahkannya?, pertama cari pemimpin yang bisa memahami kondisi umat Islam. Cukup hanya faham dengan problem umat Islam, tidak perlu membantu. Karena pembelaan seorang pemimpin adalah sebuah kebijakan. Bisa atau tidak para pemimpin ini membuat kebijakan yang pro kepada pengembangan ilmu pengetahuan Islam?.

Kemudian masyarakat secara hukum, dimana ujung tombak dari masyarakat di ndonesia adala para da’i.  temen-temen dai yang langsung berkautan dengan masyarakat itu, perlu diberi informasi mengenai persoalan-persoalan yang kita bahas ini. Jadi hal-hal yang sederhana kita infokan kepada masyarakat, bahwa umat Islam menghadapi probem ilmu pengetahuan Islam seperti ini. Paling tidak, kita sampaikan pada masyarakat bagiman memikirkan pada masa akan datang, bagaimana anak-anak kita bisa menghafal al-Qur’an dan menghafal ilmu umu.  Cukup demikian penjelasan untuk orang awam, tidak perlu dijelaskan kepada mereka tentang Islamisasi, karena belum tentu faham.

Bila hal ini terjadi, maka konsep-konsep pertama yang di atas dalam proses integrasi antara ilmu umum dam agama itu bisa dikembangkan di masyarakat. Media massa misalnya, mem-blowup mengenai inovasi atau seminar tentang psikologi Islam.  Nah semakin banyak media massa yang mau mem-blowup semakin banyak masyarakat yang tahu tentang perihal ini, termasuk di dalam masalah pendidikan.

Sekarang ini, pendidikan karakter itu sangat dominan  mengalahkan pendidikan akhlaq. Antara media masa dan pemerintah sama-sama mendukung program pendidikan karakter. Padahal bila kita lihat pendidikan karakter itu adalah pendidikan akhlak hina. Kita tidak pernah berpikir bagaimana karakter seseorang itu adalah akhlak seseorang. Mungkin berkarakter itu adalah jujur, baik, menghormati orang lain toleransi dan lain sebagainya. Nah, ini kemudian menjadi sangat sekuler. Orang yang berkarakter itu adalah orang bisa hidup dalam masyarakat modern. Nah masalahnya, apakah orang seperti ini bisa membela kebenaran Islam?. Maka bagi mereka ini tidak penting.

Maka sinergi antara masyarakat, pejabat dan pengusaha itu diperlukan dalam membangun tradisi ilmu Islam, dimana semua itu akan menjadi basis pengembangan peradaban Islam yang ilmiah. Terimakasih 

wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(DR HAMID FAHMI ZARKASYI)


sumber: FB insistnet
Ristu hasriandi Khoo

SAJAK BERBALAS ANTARA BUYA NATSIR DAN BUYA HAMKA

Pada pertengahan tahun 1950-an, Buya HAMKA menulis sajak khusus buat Buya Natsir setelah mendengar pidato Buya Natsir di sidang Konstituante

 
KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR
Meskipun bersilang keris di leher  Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu

Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi

Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu……!

( Puisi yg di tulis secara khusus untuk Pak Natsir,  pada tgl 13 Nov 1957 setelah mendengar uraian pidato buya Natsir dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan islam sebagai dasar negara RI )

+++++++

2 Tahun kemudian buya Natsir pun membalas dengan Sajak untuk Buya Hamka,

DAFTAR

Saudaraku Hamka,
Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama...
Kadang-kadang,
Di tengah-tengah si pongah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,

Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam ”Daftar”.
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.

Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur

Pancangkan !
Pancangkan olehmu, wahai Bilal !
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Walau karihal kafirun...
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk
Kedalam ”daftarmu” ... *


Saudaramu,
Tempat, 23 Mei 1959




*Sajak ini ”ditengah-tengah sipongah mortir”, tanggal 23 Mei 1959 sesudah tersiar pidato Prof. Dr. Hamka di Gedung Konstituante Bandung, yang antara lain menegaskan, “bahwa trias politika sudah kabur di Indonesia, demokrasi terpimpin adalah totalitarisme, Front Nasional adalah partai ”Negara”.”
Ristu hasriandi Khoo

Pelajaran Kehidupan

Ilustrasi
Tersebutlah suatu cerita di suatu negara nun jauh disana.... hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang bunda dan dua anak laki-lakinya, yang tua bernama atan, dan yang bungsu bernama awang.
mereka hidup rukun, saling membantu dan kasih mengasihi. kepada handai dekat mereka akrab, kepada taulan yang jauh mereka ingat. pokoknya tetangga dan handai taulan melihat keluarga mereka adalah keluarga nirwana di muka bumi.. tidak ada kata kasar, apalagi tengking suara tinggi.

Pada suatu masa, ibunda mereka dipanggil oleh Sang Izzati Pemilik Jiwa, Allahu Robbi. semua warga kampung merasa sedih dan kehilangan sosok seorang ibu yang pengasih kepada sesama.

Setelah hilang rasa kedukaan yang mendalam, kedua saudara inipun bermusyawarah, sebagaimana ajaran orang tua mereka (terutama bonda, karena ayahanda tercinta mangkat sebelum mereka besar lagi). dalam musyawarah itu mereka membahas tentang harta warisan dari orang tua mereka...

Dan disinilah semua ujian itu bermula... kedua saudara yang semula saling mengasihi dan membantu menjadi temahak (rakus) terhadap harta peninggalan itu... sang abang merasa berhak karena dia yang tua. dan sang adik mengatakan dialah yang harus menerima banyak karena dia yang selama ini sering bersama ibunda....

Karena tidak mendapati keputusan, mereka bersepakat untuk minta pendapat para tetua dan tokoh terkemuka di kampung itu. Para tetua berembug dan mengambil keputusan bahwa harta itu adilnya dibagi dua... tapi kedua saudara ini tidak mau menerima, karena ada satu warisan yang tidak bisa dibagi dua.

Karena tidak mendapatkan keputusan yang memuaskan kedua belah pihak, akhirnya masalah ini berlarut-larut dalam kehidupan mereka... Puncaknya adalah mereka ini membuat rumah masing-masing yang saling berhadapan (gunanya agar satu sama lain bisa mengawasi), tapi dipisahkan oleh satu sungai yang cukup lebar (tidak bisa dilompati kecuali pakai galah atau pakai kuda).

Karena tiap hari mereka bisa melihat wajah saudaranya, akhirnya mereka membuat pagar yang tinggi dengan satu buah lubang pengintai di pintu pagar.

Mereka masing-masing mengupah tukang yang paling hebat dari kampung sebelah. kebetulan tukang-tukang ini adalah dua saudara kembar. tukang ini diberi waktu selama seminggu untuk membuat pagar tersebut, dan selama seminggu itu, atan dan awang tidak keluar dari rumah..

setelah seminggu berlalu, awang dan atan pun keluar rumah untuk melihat hasil kerja tukang tersebut (yang setiap harinya melaporkan perkembangan pembuatan pagar itu). betapa terharunya awang dan atan ketika melihat bahwa sekarang telah ada sebuah jembatan yang paling indah didepan mata mereka yang menghubungkan kedua rumah mereka...

Masing-masing dari mereka berpikir bahwa saudaranya ternyata masih mengasihi dan cinta kepadanya karena ketika dia menyuruh tukang membuat pagar, malah saudaranya menyuruh membuat jembatan yang akan menghubungkan dua rumah mereka.


*Pesan moral: terkadang kita tidak menyadari bahwa ketika kita memiliki masalah dengan orang terdekat kita, pasti ada orang 'luar' yang selama ini melihat kita selalu baik dengan orang terdekat kita itu terjadi masalah untuk tidak mendamaikan kita dan orang terdekat kita tersebut.
Ristu hasriandi Khoo

Pelajaran Pohon Kehidupan


Dahulu kala hiduplah empat orang bersaudara. Suatu hari ketika kedua orang tua mereka telah tiada karena permasalahan sepele mereka saling bertengkar. Pertengkaran itu kian lama kian memanas, sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal sendiri-sendiri.

Tetangga sekitar menasehati: antar saudara harus akur dan saling menjaga,mana bisa menang sendiri? Akan tetapi nasehat tersebut tidak bisa mengubah pendirian mereka. Mereka lantas membagi rumah, sawah, hewan ternak, tabungan menjadi empat bagian yang sama. Masing-masing orang berhak mendapat 1 bagian. Setelah semuanya dibagi, barulah ketahuan jika masih ada sebuah benda yang belum dibagi rata.

Benda tersebut adalah sebatang pohon besar yang tumbuh di depan rumah,tempat mereka biasanya berteduh bersama-sama. Lama sekali mereka berembuk, tak juga menemukan cara yang tepat untuk membaginya. Karena telah lelah mereka memutuskan esok hari kembali berembuk mengenai pembagian pohon. Keesokan harinya terjadilah sebuah peristiwa yang aneh. Pohon besar tersebut kemarin masih terlihat segar dan rindang, kini berubah menjadi layu dan gersang.

Sejenak mereka merenung bersama,tak lama kemudian salah satu diantara mereka ada yang berkata:pohon ini berasal dari 1 akar dan tunas yang sama.Sekarang ketika hendak kita tebang sudah gersang dan layu terlebih dahulu. Bukankah kita juga berasal dari kandungan ibu yang sama? Mereka akhirnya merasa sadar dan menyesal, saling berpelukan dan bermaaf-maafan. Dengan demikian mereka kembali hidup bersama, hari demi hari dilalui dengan penuh rasa syukur, damai, bahagia.

Terkadang kita selalu melupakan suatu hubungan yang sangat kuat antara kita dan saudara-saudara kita. Tapi yakinlah bahwa hubungan itu pasti akan muncul jika kita tidak mengedapankan ego pribadi kita....
Ristu hasriandi Khoo

Selasa, 26 Februari 2013

Tolong jangan PERKOSA Mataku !!!

Aurat, Mana tahan?

Coba tebak 4 kriteria berikut:
Putih, mulus, seksi, telanjang bulat. Apa yang ada dalam pikiran kamu?

Hayoo…jangan ngeres!
Jawabannya adalah: Sapi. Hehehe.

Sobat muslim, melihat mode yang ngetrend di zaman core 2 duo ini memang benar-benar edan. Gimana tidak, coba aja perhatikan kehidupan di sekeliling kita, remaja saat ini pada gandrung dengan pakaian-pakaian yang katanya serba praktis dan ekonomis. Itu tuh, kostum kesebelasan sundel bolong alias you can see. Hmm, baru-baru ini juga lagi Booming celana pensil (Walah, bisa-bisa pabrik pensil gulung tikar nih!).

Inilah faktanya sodara-sodara, kehidupan remaja sekarang telah menunjukkan bahwa memang demikian cepat penyebaran pakaian “modern” ini.

Contoh kecilnya ketika saya pergi ke Mall-Mall.
Wuih, rasa-rasanya seperti memasuki dunia lain. Dunia Aurat!
Hampir keseluruhan ceweknya musti pake pakaian yang membuat saya ingin lari (lari apa nih maksudnya? Lari mendekati atau? Yee.. nggak lah yaw!).
Pikir-pikir, mereka kok suka nantangin kaum Adam dengan pakaiannya yang imut-imut, itupun belum lagi ditambah dengan gayanya yang centil alias cengengesan penuh kutil. Walah!

Lelaki mana sih yang mampu mengalihkan pandangannya saat melihat sapi pake you can see, eh, cewek ding?

Kalo laki-laki “shalih” sih saya yakin masih bisa manahan diri, walaupun saya juga yakin itu sangat berat. Lha kalo laki-laki “salah”?
Melihat yang putih, yang mulus, yang seksi? (Saya tidak bilang sapi lho!)
Bisa-bisa mengganggu stabilitas nasional! (Cieh, bahasanya pejabat banget neh!).

Iya, dulu ada pengalaman salah seorang teman yang pernah sebangku.
Doi pernah cerita, katanya pas di jalan melihat cewek seksi, dari arah belakang terlihat seperti Madonna, eeh pas dilihat dari depan malah mirip Maradona; yang sejatinya pemain sepak bola tapi malamnya nyambi jadi tukang jaga kebun.
Wakaka, sory yeiy! Gubrakkkksss !!!!
Wah, rugi dong, sudah tekor iman, tontonannya mengecewakan pula.
Hahaha!

Maka bagaimana sekarang dengan keadaan di sekeliling kita ini yang hampir saban hari dan saban tempat ada pemandangan aurat yang mengundang sahwat?
Ini bisa merusak keimanan kita, cing! Bukankah iman akan bisa berkurang ketika melakukan kemaksiatan?
Sementara di waktu yang sama aurat-aurat itu seakan-akan memaksa kita untuk melakukan maksiat. Hhh, gimana nggak sedih coba?
Awalnya maksiat mata, lalu ke maksiat pikiran, dan dilanjutkan lagi dengan maksiat perbuatan.

Lho mas, itu kan tergantung orangnya masing-masing?
Itu kan yang salah yang otaknya suka ngeres?

Ya iya sih, tapi setidaknya kalo orang itu bebas mempertontonkan auratnya, berarti sama dengan memberikan “fasilitas” bagi orang lain untuk berotak ngeres. Memberikan ‘tontonan’ gratis yang kemudian mampu memicu timbulnya sahwat.

Nah, gimana kalo sudah begini?
Makanya dari sekian pelaku kriminal pemerkosaan dan perbuatan cabul, ketika ditanya kenapa mereka melakukan perbuatan itu, sebagian besar mereka mengaku karena habis menonton film donal bebek! (hehe..kamu tahu lah donal bebek itu film apaan? Ya film kartun! Hehehe).

Nah tuh, bener kan?
Jadi, ketika seseorang itu merelakan dirinya untuk mengumbar aurat, maka sama artinya memberikan “inspirasi” kepada lawan jenisnya untuk “berimajinasi”, yang kemudian sangat rentan dilakukan pemenuhan alias “ekspresi”.
Hmm, maka jangan salahkan kalo ekspresi itu sampe dilampiaskan dengan cara memperkosa. Hiii, ngeri euy!

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The real terrorist
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Hati-hati! Ini jaman adalah jamannya teroris!
Kalo teroris yang diberitakan di TV-TV adalah orang yang menggunakan bom, maka baru-baru ini diketahui komplotan teroris baru. The real terrorist!

Ini penting.
Kamu saya beritahu sekarang ini agar segera pasang kuda-kuda, agar selalu waspada. Beneran lho, bahkan saking bahayanya sampe-sampe belum banyak yang bisa mengendus pengaruh kejahatannya.

Baiklah, catat baik-baik.
Bahwa teroris sekarang ini ciri-cirinya bukan lagi pake Mobil Tank, tapi pake Tank Top! Pake Tank Top, bro!! Tank Top!!
Seru banget, eh, parah banget kan?

Sobat muda muslim,........
sebenarnya kata “teroris” ini merupakan kata yang bermakna umum.
Intinya usaha untuk menciptakan ketakutan, atau sesuatu yang berbau mengancam. Sedangkan kata “teroris” itu sendiri adalah si pelaku teror.
Ketika kamu SMS lawan jenis kamu,
“Dalam waktu 1 x 24 jam kamu harus mau jadi gebetan gue! Kalau tidak, gue nangis sehari semalam!!”, nah itu sudah berbau teror namanya.

Atau, kamu nentengin golok di pasar-pasar sembari sesumbar dengan suara lantang,
“Lo gak tau siapa gue?! Nih KTP gue, nama gue Mamat!!! Siapa gak setor uang keamanan ke gue, gue tebas leher elo!”, hmm…termasuk juga daftar teroris itu.

Lebih-lebih para pejabat yang memakan uang rakyatnya, wah…itu sih malah gembongnya teroris!
Jadi bukan setiap orang islam yang berjenggot, bergamis, dan celana setengah betis yang mesti identik dengan kata “Teroris”. Itu mah stigmatisasi atau propaganda orang Barat dan konco-konconya untuk memecah belah umat islam. Betul itu! Padahal mereka sendiri –yakni Amrik dan sekutunya- yang justru jadi teroris dengan membantai kaum muslimin di negeri-negeri muslim.
Yah, dalam posisi begini berarti pas banget ama lantunan lagunya Iwan Fals,
“…maling teriak maling. Sembunyi balik dinding…”.
Sorak-sorak: Huuu!!

Lalu apa hubungannya aurat dengan teroris?
Uhuk, uhuk!..... Sory batuk.
Begini, coba perhatikan akibat-akibat dari “eksploitasi” aurat sekarang ini, bahwa karena hal inilah banyak teman-teman remaja kita yang terhambat produktifitasnya. Mikirnya ngeres mulu sih, akhirnya susah konsentrasi ke pelajaran. Mau buka LKS Matematika aja yang muncul malah rumus-rumus ciuman pertama. Buka buku Biologi malah yang muncul gambar “xxx” (Keterangan: itu yang xxx artinya gambar kodok! Hehehe…sensor ah!).

Gaswat banget kan?

Belum lagi nanti imbasnya kepada Moral atawa Akhlak.
Terlihat banget kok orang-orang yang hoby melototin aurat (idih, bilangnya hoby?).
Jangankan mau menghafal Al-Quran, rumus-rumus Hukum Newton dalam pelajaran Fisika jadi amblas. Maka akhirnya, Kaum muslimin sekarang ini menjadi lemah karena generasi-generasinya dijajah pikirannya dengan “tradisi” umbar aurat.
Lebih tepatnya: Diteror dengan tayangan-tayangan aurat!
Astaghfirullah…

Sobat muslim,....
sebenarnya tidak hanya kita merasa terteror dengan maraknya aurat dimana-mana, kita juga merasa diperkosa! (Wataw! Apalagi ini? Masak iya sih?). Ya iyya lah…masak iya iya dong, mulan aja jamilah bukan jamidong.

Maksudnya begini sayang,....
kamu tahu orang yang diperkosa itu kan merasa dipaksa-paksa.
Aslinya tidak bersedia tetapi tetap aja ditodong agar mau melayani.
Lha, kita itu hampir sama posisinya dengan orang yang diperkosa itu. Di jaman sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) ini, dengan seabreg objek-objek sahwat yang sengaja dibiarkan bergentayangan ini, kita yang sudah mulai paham tentang islam merasa terganggu, merasa dipaksa-paksa untuk melakukan maksiat. Tadinya saat berdzikir di masjid kita mau bertobat, nentengin tasbih sambil nangis-nangis, eeh sesudah keluar masjid baru aja pake sendal jepit sebelah sudah dijejali tontonan yang berbau sahwat.

Akhirnya bubar grak lagi kan? Hmm, dasar! Beuuuuuuuuii Plakss!! Pyuurrr!!!

Menyalahkan diri kita sendiri yang mudah tergoda memang sudah mesti, tapi bagaimana dengan aurat-aurat yang bergentayangan itu?
Apa kita nggak boleh menyalahkan mereka yang mengumbar sahwatnya, sementara mereka telah “memperkosa” keimanan kita? Nggak bisa gitu dong, kagak adil alias njomplang, brur!
Ibarat kita kalo rumahnya dimaling, kita mau gebukin itu maling malah kita yang terkena pasal kekerasan dalam rumah tangga. Waduh ! Sreeeeeettss GUBRAKKSSSss!!!

Jadi, seharusnya perkara ini justru harus diperhatikan betul.
Negara wajib mengontrol masyarakatnya agar tidak boleh mempertontonkan auratnya. Atau melarang beredarnya media-media yang mempertontonkan aurat. Bukan karena apa-apa, apalagi sok suci bin sok islami, tapi setidaknya ini dapat melindungi masyarakat dari meningkatnya angka kriminalitas perbuatan asusila. Dan khususnya bagi generasi muda pikirannya akan lebih terjaga, nggak horni mulu. Toh ini juga dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menghargai diri manusia supaya tidak mengobral apalagi sampe berniat cuci gudang auratnya.
Jaim (jaga imej) dong!
Emangnya barang apaan, diobral-obral? Wedeziiggttsss!!!

Nah sobat muslim,.......
jadi jangan hanya berpikir kaum perempuan aja yang biasa jadi korban pemerkosaan, kaum laki-laki juga demikian, setidaknya “pemerkosaan” iman.

Makanya bagi kamu yang laki-laki, kalo pas datang di sekolah, di kampus, atau di Mall-Mall kamu ketemu ama perempuan-perempuan yang berpakaian mini, maka segeralah lari ke satpam sembari teriak sekeras-kerasnya,

“Tolooong!! Saya diperkosaaaa!!!” Hehehe.. Berani nggak?

Terus terang saya sendiri masih pikir-pikir untuk melakukan aksi nekat itu.

[Ahsan Hakim]
Ristu hasriandi Khoo