 |
| DR HAMID FAHMI ZARKASYI |
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين نحمده ونستيعنه ونستغفره ونعوذ
بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات اعمالنا من يهدى لله فلا مضل له ومن يضلله
فلا هادي له
Pertama saya ingin berapologi bahwa materi ini sudah sering saya
sampaikan diberbagai kesempatan, dan mungkin banyak yang sudah tau dan
banyak yang mengulang. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa mengulang
itu tidak berdosa, sebab yang namanya penyanyi band yang lagunya itu-itu
saja dengan manggungnya dimana-mana, juga banyak yang mendengarkan,
masak yang ilmiah begini tidak diperdengarkan. Itu satu.
Yang kedua, ayah saya berpidato dengan materi yang sama kepada
santri, kemudian saya bertanya “kenapa materinya sama, apakah santrinya
tidak bosan. jawab beliau mudah aja, itu pil kita. Itu iklan yang setiap
hari diperdengarkan, pepsodent yang setiap hari iklannya
diperdengarkan, apakah masyarakat tidak bosan?, tidak, justru orang
beli pepsodent. Makanya supaya orang selalu diingatkan.
Yang ketiga, saya pernah bertanya kepada Prof. Al-Attas. “Prof,
pernah mengulang-ngulang materi yang sama didalam beberapa kali
perkuliahan”. Dengan agak sedikit emosi, beliau katakan, “tidak semua
orang yang mendengarkan saya itu faham. Jadi meskipun saya ulang-ulang
materi, saya yakin tidak semua orang itu faham”.
Jadi ini persoalan yang perlu diingatkan. Persoalan yang kita bersama
perlu menyamakan tujuan dan pikirian kita menuju sebuah titik yang
tidak ada perselisihan di dalamnya, laa rayba fihi. Bahwaa Islam
adalah sebuah peradaban dan peradaban itu dibangun oleh ilmu
pengetahuan. Hal ini jika diucapkan, orang awam tidak mudah memahaminya.
Tetapi ketika kita bersentuhan dengan berbagai persoalan umum ternyata
ini adalah sumbernya.
Baik, sebelum itu saya ingin sekedar sharing saja. Sering kali kita
memandang Islam itu secara salah. Apalagi sekarang media masa dengan
begitu kuat arusnya. Islam dianggap sebuah religion, religion sama
dengan religi, religi adalah sebuah kepercayaan, dan kepercayan adalah
dogma, dogma adalah doktrin. Nah kalau sudah doktrin, itu pasti dekat
dengan fundamentalisme dan terorisme.
Agama itu diletakkan dimana orang itu percaya begitu saja, tetapi
tidak mempunyai argumentasi mengapa dia percaya. Kita harus memandang
Islam sebagi agama dalam artian “din” dan agama dalam artian peradaban atau tamaddun. Ini yang tidak pernah disinggung oleh orang-orang Barat. Mereka selalu mengatakan bahwa Islam sebagai religion, seperti misalnya “Islam in the way”, “Islamnya” disitu bukan berarti Civilization. Ini adalah sebuah komposisi atau komparasi yang tidak seimbang. Islam dianggap agama, sedangkan the way dianggap civilization, ini tidak fear.
Dialog yang diadakan dengan Barat itu dialog “interfaith dialogue”,
tidak pernah ada dialog “intercivilization dialogue” atau dialog
peradaban. Ini curang. Sebab apa, kalo kita rtikan Islam sebagai
perasdaban, kita mempunyai konsep. Jadi tidak peru diajari tentang
konsep pluralisme, feminisme, gender dan sekularisme. kita sudah memiliki konsep sendiri. Nah, bargaining ini orang Barat yang tidak mau.
Maka kembali kepada asal kata Islam. Islam adalah din, din bukan religion. Din itu berasal dari kata dayana, dayana berasal dari kata daynun. Jadi Akar kata ini sudah diskit dalam bahasa Arab, bahwa kata dayyan
dadalah penguasa orang yang berhutang. Jadi Islam itu adalah proses
hutang-piutang makhluk dengan Tuhannya. Tetapi uatang-piutang dalam
beragama ini mudah. Kita tidak perlu mebayar dengan uang, kita hanya
membayar dengan ketaatan. “innalah yastara minal mukminin anfusahum bianna lahum jannah”. Jadi jiwa manusia itulah untuk membayar utang-piutang.
Jiwa yang seperti apa untuk membayar utang agama, yaitu jiwa yang
datang kepada Tuhannya, sebagimana dia keluar diciptakan Tuhannya. “Illa man atallah bi qolbin salim”.
Orang-orang ini kalau sudah datang kepada Allah dengan hati yang
bersih, berarti dia sudah tidak punya hutang lagi. Hutangnya manusia itu
adalah kesucian jiwanya itu pembayarannya. “Wa man yuqridhullaha qardhan hasanah yudhlo’ifu lahu hasanah”. Siapa yang membayar Tuhan dengan kebaikan, maka akan digandakan kebaikan itu.
Di dalam Islam tidak ada konsep religion. Sedangkan religion dalam Barat itu adalah sebuah belive
atau kepercayaan saja. Maka dalam Kristen kepercayaan mendahului ilmu.
Credo put intel gam, artinya saya perca, maka saya paham. Kepercayaan
mendahului pengetahuan. Percaya dulu baru faham. Dalam Islam hal
tersebut tidak boleh. Yang ada “fa ‘a’lamu annahu laa ilaha illallah”
makanya ketika masuk Islam, itu tidak mengatakan “saya percaya bahwa
tiada tuhan selain Allah” akan tetapi “saya bersaksi”. Apa yang
menyaksikan?, yang menyaksikan adalah akal kita.
Nah, dari sini diketahui bahwa konsep akal dalam Islam sudah berbeda. Akal dalam Islam adalah hati, hati adalah nafs. Sedangkan akal dalam Barat adalah rizhen. Agama dengan rizhen di Barat tidak sesuai. Oleh sesab itu Agama di Barat itu tidak ada hubungannya dengan saint.
Dalam Islam, alam beragama itu adalah juga alam untuk berfikir. Maka beragama itu dengan fikiran. Oleh karenanya ketika din itu dilaksanakan, wallahu ‘a’lam, tau-tau Nabi Saw memerintahkan orang-orang di Yatsrib untuk mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Ternyata nama Madinah itu ada akarnya, dari kata daynun. Madinah menjadi tempat agama dilaksanakan.
Kalau kita cermati Ayat-ayat yang turun di Makkah dan Madinah,
Nampak sekali bahwa ayat di Makkah itu adalah asas agama, aqidah, ilmu
beragama dan prinsip-prinsip beragama. Sedangkan ayat-ayat di madinah
adalah agama yang diimplementasikan dalam berkehidupan social-politik
dan budaya. Nah kesimpulan para orientalis setengah benar setengah
salah. Ketika nabi di Makkah, nabi masih religius. Ketika beliau di
madinah sudah sekuler.
Ya memang, menurut orang keristen kehidupan dunia itu sekuler. Namun
bagi orang Islam kehidupan agama itu adalah dunia dan akhirat. Ada
dimensi akhiratnya dan ada dimensi dunianya, dan itulah yang dilakukan
oleh Nabi ketika di Madinah. Kehidupan di Madinah itu tidak terlepas
dari kehidupan di Makkah.
Berkembanglah di situ kata-kata dinun menjadi kata madinah. Madinah menjadi fi’il madanah, madanah
itu artinya berbudaya, namun Budaya dalam artian kita city live.
Makanya masyarakat madani tidak bisa disamakan dengan civil society.
Karena kata-kata madinah itu ada kata dien, ada proses utang-piutang tapi dalam bentuk perbuatan sosial.
Agama Islam itu adalah agama yang mencapai akhiratnya itu dengan
kehidupan di dunia dengan sebanyak-banyaknya. Makanya pahala bersosial
dengan pahala ubudiyah kepada Allah itu lebih banyak pahala bersosial.
Kalau sholat pahalanya satu, namun kalau menolong anak yatim itu
pahalanya lebih banyak lagi. Namun yang paling banyak lagi adalah
mencari ilmu. Sebab dengan ilmu itulah yang bisa menolong orang lebih
banyak lagi.
Jadi sekali lagi, Islam adalah agama dan peradaban. Ini adalah dasar
kita berpijak. Dan Islam itu adalah agama yang sudah sempurna. Kenapa
diakatakan “akmaltu lakum dinakum”, sebab kesempurnaan itu menyeluruh. Bahkan ayat itu sebenarnya berkaitan dengan makanan, bahkan makanan pun diatur oeh Islam.
Kesempurnaan Islam itu mencakup hal-hal yang menjadi domin kehidupan
manusia di dunia. Naun Tidak berarti semua aspek yang sangat teknis itu
ada di dalam Islam, ini salah faham. Maksudnya kamil adalah agama yang
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang abadi dan tidak pernah
berubah di sepanjang zaman.
Misal, ayat “kullu insana khuliqa halu’an” artinya manusia itu
diciptakan berkeluh kesah. Berarti bukan manusia zaman dahulu saja yang
berkeluh kesah, tapi sampai sekarang-pun masih berkeluh kesah. Contoh
lagi ayat “zuyyina linnasi hubbu assahawati mina al-nisaa wa al-qonathiri mi al-qantharati”’, di sini tidak mungkin yang seneng sahwat itu pada zaman nabi saw saja, zaman sekarang juga masih doyan dengan sahwat.
Penjelasan ini mencakup semua manusia. Tidak ada bedanya muslim atau
nonmuslim, arab atau non arab. Berarti di sinilah pembicaraan
al-Qur’an menyeluruh, kamil, dan sempurna.
Kalau kita ingin mengetahui kesempurnaan Islam, kita bandingkan Islam
dengan agama lain. Agama Kristen tidak mempunyai syariat, agama Yahudi
syariatnya sangat sedikit, tidak diatur hal-hal yang sangat detail.
Namun Islam diatur semuaya, nah disitulah kesempurnaan Islam.
Kesempurnan ini bila dikembalikan dalam al-Qur’an, akan kita dapati
dalam al-Qur’an apa yang disebut dengan konsep-konsep seminal.
Konsep-konsep yang masih dalam bentuk statemen.
Seperti misalnya ayat “Alladzi yadzkuruna qiyaaman wa qu’udan wa
ala junubihim yatafakkuruuna fi kholqi assamawat wal ardhi, rabbana ma
khalaqta hadza bathila”. Bagaimana mengkombinasikan antara Yadzkurun dan yatafakkaruun?. Ini menjadi sebuah pernyataan umum, yang bila dijabarkan akan menjadi sebuah epistemology. Bukan main-main ini.
Atau ayat “wa’adallahu lladzina amanu wa amila asshalihati an yastahlifannahum”
artinya Allah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh
untuk menjadi pemimpin. Berarti modal pemimpin itu adalah iman dan amal
shaleh. Tapi beda lagi ketika ayat “yarfa’ilahu alladzina amamnu minkum walladzina utu al-ilma darajat”. Orang yang iman dan ilmunya tinggi, derajatnya pasti tinggi.
Bagaimana iman dan ilmu dalam Islam menjadi satu, sedangkan di Barat
ilmu dan iman tidak bisa menyatu. Ini menjadi sebuah sebuah pertanyaan
yang harus dijawab. Berarti iman dan ilmu di dalam Islam itu tidak
bisa terpisahkan. Kalau begitu berpikir dan beriman dalam Islam sama.
Ternyata berpikir dalam Islam itu menggunakan hati, bukan menggunakan
fikiran.
Oleh sebab itu mengapa kita tidak boleh beriman dan berfikir dengan hal yang berbeda?. Wa laa yalbisu imanahum bidzhulmin,
tidak boleh mencampurkan keimanan dengan kemusyrikan. Kenapa
mencampur?, karena tempatnya sama-sama di dalam hati. Hati anda
beriman, tapi pikiran anda tidak, itu salah.
Contoh, Saya pernah punya kawan. Jika dia berdoa, bahkan bisa lebih
panjang dari saya. Begitu seminar ia mengatakan “saya seorang kiri”.
Mengatakan demikian adalah ciri-ciri ideology. Ada lagi teman yang
mengatakan bahwa meski saya liberal, saya tetap shalat lima waktu .
Contoh diatas adalah contoh kerancuan berfikir. Seakan-akan keimanan
di satu sisi, pemikiran disisi yang lain. Contoh lagi pernyataan “anda
boleh berfikir apa saja asal anda beriman kepada tuhan”. Ini tidak
bisa. Sebagaimana pernyataan orang dulu-dulu, bahwa hatinya di Makkah
tapi otaknya di Jerman, ini yang saya tidak setuju. Jerman kan sekuler,
sedangkan Makkah kan religi. Jika hatinya di Makkah maka pikirannya
harus di Madinah.
Kalau kita berbicara al-Qur’an dengan segala macam konsep-konsepnya,
kita akan menemukan sebuah bentuk peradaban. Ada ilmu, ada jiwa, ada
ekonomi, ada ketuhanan, ada masalah kehidupan, ada masalah hari akhir
dan masalah-masalah sepiritual lainnya.
Intinya, jika kita bicar al-Qur’an, maka kita bicara ilmu
pengetahuan. tidak ada kitab suci yang secanggih al-Qur’an. Tidak ada
kitab suci yang menyebut kata ilmu lebih banyak dari pada al-qur’an.
Al-Qur’an bisa dikatakan sebagai saintific book, sekaligus sebuah
petunjuk sepiritual.
Al-Qur’an adalah mukjizat, yang darinya keluar berbagai ilmu.
Diantaranya adalah ilmu bahasa. Tidak akan ada ilmu nahwu dan sharaf
jika tidak ada al-Qur’an. Karena di dalam al-Qur’an itu ada
bacaan-bacaan yang kemudian menghasilkan sebuah rumus. Ketika bacaan
itu mengandung kata mudzakkar akan memiliki tanda yang berbeda dengan
tanda muannats. Ini menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah well desain.
Dari konsep-konsep itu sebenarnya bisa muncul konsep-konsep lebih
jelas lagi. Kata ilmu di dalam al-qur’an 800 kali disebutkan, akan
tetapi tidak ada devinisi ilmu. Ma hua al-ilmu, tidak ada dalam
alQur’an. Yang ada adalah penjelasan para ulama’ yang datang kemudian.
Yang ada hadits hanya di dalam hadits, seperti “ma hua al-Islam”, tapi
tidak ada di dalam al-Qur’an. Makanya sangat aneh jika ada orang yang
mengkari sunnah. Juga aneh jika da orang-orang yang mendekonstruksi
otoritas sahabat dan ulama’. Sebab dai al-Qur’an dan hadits, kita masih
buta yang kemudian dijelaskan oleh para sahabat dan para ulama’ salaf.
Itulah narasi atau flow of ide al-Qur’an, hadits, sahabat, tabi’in, tabi’Itab’in dan ulama’ yang kemudian menjadi sebuah blue print
yang tidak bisa kita potong begitu saja. Mendekonstruksi otoritas
ulama’ adalah memutus ilmu. Coba bayangkan jika ilmu ekonomi diputus
dengan tidak perlu Adam Smith misalnya. Maka yang terjadi adalah ekonomi
di dunia ini menjadi kacau.
Tapi yang terjadi adalah orang-orang liberal melakukan hal ini dengan
memotong flow ide ini dengan mengatakan “kita tidak perlu imam Syafi’I,
imam hanafi, imam Ghazali dan sebagainya. Kita langsung kemabali kepada
al-qur’an dan hadits saja”. Nah begitu masuk pada ranah al-Qur’an
mereka gunakan Hermeneutika. Maka habislah semua.
Bagimana kronologi sebuah kitab suci menjadi sebuah peradaban. Coba
perhatikan sebuah ayat yang sangat menarik sekali untuk dikaji. “Alam
tara kaifa dharaballahu matsalan kalimatan thayyibatan ka syajaratin
thayyibatin hafsuha tsabitullah far’uha fi ssama’ tu’ti ukulaha kulla
hiinin bi idzni robbiha wa …llaha”.
Ayat ini adalah amtsal (metafora) sebuah kalimat yang baik
seperti pohon yang akarnya itu kuat dan dahannya sampai ke langit. Ini
adalah metafora sebuah peradaban Islam yang tumbuh dengan sebuah kalimat thayyibah
yang disebut dengan tauhid. Artinya peradaban Islam berangkat dari
teologi. Ilmu dalam Islam berangkat dari kepercayaan dalam Islam.
Ayat tu’ti ukulaha menggambarkan pohon bisa memberi makan. Kok
bisa pohon memberi makanan?. Inilah sebuah pohon peradaban. Sejarah
membuktikan, pada kenyataannya peradaban Islam “memberi makan” pada
Persia, India, Mesir dan Damaskus yang selama ini dijajah oleh orang
Keristen. Inilah contoh yang diberikan Allah.
Dari ayat al-Qalam perintah iqra’ atau menela’ah, kita diperintah menela’ah alam yang empiris ini menggunakan sesuatau yang metafisika (alladzi ‘allama bi al-qalam, ‘allam al-insaana ma lam ya’lam).
Surat ini menjadi awal surat yang turun kepada Nabi saw. Inilah yang
saya maksud diawal pembahasan, yaitu bagimana mengingat Tuhan dan juga
berfikir mengenai alam semesta, atau bagaimana kita mengingat alam
sekaligus mengingat Tuhan.
Namun hari ini jarang yang melakukan demikian. Contoh kasus banjir,
tidak satupun orang yang menghubungkan antara banjir yang terjadi dengan
taqdir dari tuhan supaya manusia ini belajar. Namun yang ada adalah
analisis-analisis yang bersifat empiris.
Nah tantangannya ialah bagaimana umat Islam ini mengkaitkan antara
kitab suci dengan fenomena-fenomena alam. Ternyata pada hakikatnya alam
itu adalah ayat juga. Jika al-Qur’an adalah ayat-ayat qur’aniyyah, maka alam adalah ayat-ayat kauniyyah. Yang terjadi adalah kita kadang-kadang lupa bahwa kita memiliki ayat-ayat kauniyyah.
Yang namanya ayat adalah tanda, dan tanda adalah menunjukkan sesuatu
diluar tanda itu. Sebuah contoh, ketika kita memasuki wilayah solo, ada
sebuah tanda dengan tulisan “solo 50 KM”, berarti solo buan ditanda itu,
tapi solo ada di tempat 50 Km lagi.
Al-Qur’an itu adalah tanda yang menunjukkan sesuatu yang lain, yang
dimaksud dengan “yang lain” itu adalah Tuhan. Jadi semuat itu
menunjukkan kekuasaan Tuhan.
Prof S.M.N Al-Attas pernah menggambarkan manusia itu seperti musafir
yang menuju sebuah tempat. Di tengah perjalan ia melihat seuatu yang
sangat menarik dan begitu indah. Saking terbuaihnya dengan keindahan
tersebut, ia lupa dengan tujuan sebenarnya. Dia berhenti di tempat itu,
dan mengagumi tempat itu. Itulah gambaran manusia secular. Ketika
mereka melihat dunia ini enak, maka mereka berhenti di dunia saja.
Ayat-ayat kauniyyah itu ada di dalam alam semesta ini, dan itu
memerlukan tafsir. Jika al-Qur’an memiliki tafsir, ayat-ayat
kauniyyah-pun memiliki tafsir. Bila ayat tersebut muhkamat, maka
menggunakan tafsir, tapi bila ayat itu mutasyabihat, maka menggunakan
takwil. Ketika kita melihat alam semesta ini dengan fenomenanya yang
tidak jelas, maka kita menggunakan takwil, karena hal itu adalah ayat
mutasyabihat.
Siapa yang berhak mentafsirkan ayat tersebut?. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi (arrasikhuna fi llilm).
Bila kita melihat fenomena ala mini, maka kita harus metafsirkan
(dengan alQur’an) dan mentakwilkannya (dengan ilmu pengetahuan), agar
dapat menghubungkannya dengan Tuhan.
Ada satu lagi, bahwa di dalam diri manusia juga terdapat ayat-ayat
yang dimasukkan oleh Allah dimana ketika kita akan diciptakan Allah
berfirman “alastu bi rabbikum, bala syahidna”. Nah disini menunjukkan
bahwa di situ ada ayat bahwa diri manusia diciptakan dengan kemampuan
mengenal tuhan. Oleh karenanya manusia diciptakan dengan kemampuan
mengenal Tuhan, meskipun dia tidak mengetahui apa-apa. Kemampunan
mengenal Tuhan ini kemudian dalam sejarah peradaban manusia diwujudkan
menjadi agama, kepercayaan, mistik dan lain sebagaian.
Ketika manusia kembali menjadi muslim, maka dia telah kembali pada
fitrahnya, karena Islam itu adalah agama fitrah. Idealnya ialah
menyatukan antara ayat-ayat qur’aniyyah dengan ayat-ayat kauniyyah oleh
seorang subjek yang di dalamnya ada ayat-ayat Ilahiyyah, yaitu manusia
dengan ma’rifatullah.
Hal ini sama dengan pendapat Ibn Taimiyyah namun bukan dengan sebutan
ayat, tapi dengan sebutan fitrah. Jadi alam itu diciptakan dengan
fitrah (Allahu fathirus ssamawati wal-ardh). Di dalam diri manusia ada
fitrah. Manusia tidak bisa memahami fitrah alam semesta, kecuali dengan
fitrah munazzalah. Fitrah munazzalah itu adalah fitrah yang diturunkan
Allah, yaitu berupa al-Qur’an. Nah misi kita sebagi manusia yang
dilahirkan dalam keadaan fitrah adalah menyatukan ketiga fitrah ini.
Ada satu pernyataan seorang orientalis yang sesuai dengan surah Ibrahim ini (tu’ti ukulaha kulla hiini).
Ia menyataka “orang islam tidak berbekal apa-apa secara cultural selain
kitab suci dan sunnah Nabi saw. Tapi karena innerdinamiknya kitab suci
itu, maka ajaran Islam menjadi sebuah pandangan Islam yang dinamis, yang
kelak memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia”. Wallahu a’lam,
Semestinya orientalis ini mendapat hidayah.
Ketika kita berbicara peradaban Islam, maka di dalamnya kita
berbicara politik, kekuasaan, ekonomi dan yang terpenting ialah
berbicara tentang pendidikan.
Ketika Islam datang, masyarakat pada masa itu adalah masyarakat yang
tidak berilmu. Saya katakana tidak ada ilmunya, karena pada masa arab
jahiliyya itu tidak bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya. Karena
sesungguhnya orang yang berilmu itu adalah adil, nah adil itulah yang
bisa meletakkan pada tempatnya. Maksud dari “sesuatu” itu bukan yang
kelihatan dengan mata, akan tetapi sesuatu itu lebih merupakan sebuah
konsep. Yaitu meletakkan sebuah konsep ada tempatnya.
Contoh; pernikahan pada zaman jahiliyah itu ada. Namun laki-laki pada
waktu itu ada yang nikah dengan wanita sejumlah seratus, sedangkan
perempuannya memilki laki-laki sebanyak 90. Ini yang kemudian dilarang
did ala Islam sebab kebodohan. Mengapa hal ini tidak boleh?. Hal ini
dijawab oleh sayyidia Ali, bekiau engatakan bahwa, jika kita membuang
air kelautan, bisakah kita mengambil kemabali air tesebut. Artinya, jika
wanita memiliki suami banyak, ketika hamil semua mengklaim itu anak
mereka masing-masing dan pada akhirnya tidak bisa membuktikan siapa yang
menjadi bapak dari anak tersebut. Akhirnya dipanggilah dukun untuk
menentukan siapa yang ayah anak itu, bagi yang tepilih sebagai ayah,
senang dia. Namun bagi yang tidak terpilih, maka ia marah dan kemuidan
membunuh yang dipilih menjadi ayah. Ini artinya mereka tidak ada
ilmunya.
Contoh lagi, orang Arab pandai berdagang, namun apa efek dari
perdagangan bagi orang Arab. Efeknya ialah, orang yang paling kaya itu
adalah orang yang paling berkuasa meskipun prilakunya belum tentu baik.
Meskipun ia suka membunuh, namun ia tetap dipilih menjadi pemimpin.
Maka kata-kata karim pada zaman itu memiliki arti orang yang memiliki
anak dan harta yang paling banyak. Islam dating dan merubah konsep
karim, bahwa “karim” adalah orang yang paling bertkawa. Disitulah
pertanda bahwa masyarakat jahilia yang ekonominya canggih, syairnya
luar biasa, persukuannya banyak dan memiliki aturan-aturan, akan tetapi
tidak ada ilmunya.
Datanglah Islam dengan membawa konsep Tuhan, dunia, kehidupan,
manusia, nialai dan sebagainya. Pada periode-periode tersebut dijelaskan
oleh nabi, dan dijelaskan para sahabat. Ketika para sahabat
menjelaskan, maka dikatakan pada saat itu Islam sudah mulai ada
pemikiran bahwa Islam itu ilmiah. Semisal penjelasan kaifiyah sholat
dengan ruku’, sujud, dan lain sebagainya adalah penjelasan ilmiah.
Sedangkan ayat “inna ssholata tanha anil fakhsya wa lmunkar”
dan penjelasan hadits tentang sholat itu seperti ketika tangan anda
kotor dan kemudian anda pergi ke sungai dan bersuci setihap hari lima
kali, apakah tangan anda tidak bersi”. Nah ini lebih merupakan sebuah
konsep. Kenudian tentang zakat, rasul menjelaskan jika anda memiliki
uang banyak, kenapa tidak berikan kepada orang lain, itu adalah hak
orang lain, itu menjadi pensucian.
Dahulu, system dari Islam itu sendiri kemudian menuju menjadi daynun
atau pembayaran kepada Tuhan. Nah kemudian konsep itu bisa mengkristal
semisal akhlaq, jihad, ilmu, tafsir, takwil memiliki makna sendiri. Jadi
makna-makna dalam Islam itu mungkin ribuan. Islam itu kaya dengan
terminology dan itu adalah tecnikal .. yang tida ada dalam peradaban
lain. Maka ilmu itu tidak bisa diterjemahkan menjadi saint. Sebab bila
ilmu itu bisa diterjemahkan, maka albert einstin itu menjadi ulama’.
Saya tidak rela jika ilmu ditermahkan menjadi saint.
Kata-kata sunnah, tafsir dan nikah tidak serta merta bisa dirubah
menjadi tradisi, interprestasi dan kawin. Bila kawin ada istilah kawin
suntik, maka tidak dengan nikah. Tidak ada istilah nikah suntik. Nikah
itu “mitsaqan ghalidha”, ada konsep di dalamnya. Hal itu sangat
berbeda. Artinya di dalam Islam, setiap kata ada maknanya, setiap makna
itu ada konsepnya, dan di dalam konsep itu ada suatu system hubungan
antara satu dengan lainnya. Jika kita bicara tentang dosa dan pahala,
maka kita bicara iman. Berbicara mengenai iman, pasti berbicara mengenai
Islam.
Islam itu, dari makna-makna kata menjadi setruktur ilmu. Orang yang
membicarakan tentang Tuhan terus, akan melahirkan ilmu kalam. Orang yang
membicarakan hokum-hukum, akan menghasilkan ilmu fiqh. Orang yang
membicarakan hubungan warits-mewaris akan mengahsilkan ilmu fara’idh.
Orang yang membahas tatabahasa akan menghasilkan ilmu nahwu dan sharaf.
Inilah yang dimaksud dengan mengkristal dengan sendirinya dalam
peradaban Islam.
Ketika itu peradaban Islam mulai keluar dari jazirah Arab menuju
Bagdad, Damsyskus (Syiria), India, Mesir dan sebagainya yang mana disitu
bertemu peradaban yang sudah memiliki konsep. Konsep itulah kemudian
dimodifikasi oleh orang-orang Islam.
Al-Kindi mencoba mengislamkan filsafat Ariestoteles, akan tetapi dia
gagal. Kemudian al-Farabi mulai ada perkembangan, lalu Ibn Sina lebih
canggih lagi. Lalu Allah mengutus al-Ghazali untuk mengkritik mereka
semua, karena hal ini salah. Kemudian al-Ghazali diingatkan ibn Rusyd,
akan tetapi ibn Rusy tidak mampu untuk mengingatkan al-Ghazali. Ibn
Rusyd salah faham terhadap pemikiran al-Ghazali. Datanglah Fakhruddin
al-Razzi, beliau lebih canggih lagi dari al-Ghazali.
Allah mengutus hambah-Nya ketika terjadi kesesatan. Maka ketika itu
al-Ghazali menyindir Ibn Sina bahwa orang yang menganggap ala mini abadi
adalah kafir, namn demikian al-Ghazali yidak menyebut orang itu adalah
Ibn Sina. Ya mudah-mudahan karena munculnya liberakisasi ini Allah
mengutus Insist. Kalau kita belajar masa lalu, semoga kita salah satu
dari Asy’ari, Ghazalian atau Fakhruraziyan.
Jika melihat dari perjalanan awal “li-tahrif “ itu selalu ada, akan
tetapi Allah selalu mengutus orang untuk membenarkan. Cuma yang aneh itu
adalah orang-orang liberal, mereka beranggapan bahwa Nabi-pun mengalami
tahrif. Sehingga ia menganalogikan, jika Lia Eden itu dihujat olah
banyak orang, hal ini sama dengan Nabi daulu juga dihujat oleh banyak
orang. Ini adalah lost of adab.
Islam itu dipahami oleh kelompok mayoritas. Oleh karenanya hati-hati
dengan kelompok minoritas. Ada kelompok kecil malah bertentangan dengan
kelompok mayoritas. Syi’ah itu tidak pernah menjadi kelompok mayoritas,
tapi dia tetep menjadi kelompok Syi’ah. Karena Syi’ah itu menyebut
dirinya kelompok, bukan jamaah, dan pasti mereka bukan jamaah. Syi’ah
pasti qalilah, (Ahlusunnah wal) jamaah pasti katsirah. Apalagi
Ahmadiyah. Jadi ini menunjukkan bahwa Islam selalu dibela oleh
mayoritas. Dan semoga kita berada dikelompok mayoritas.
(kembali ke persoalan awal). Nah ketika terjadi pertemuan dengan
peradaban-peradaban asing inilah kemudian terjadi proses. Inilah yang
hari ini disebut proses Islamisasi, namun pada zaman itu tidak ada
istilah demikian. Di dalam kajian orientalis, islamisasi ini disebut
proses asimilasi. Semisal ibn sina mencoba mengasimilasi konsep
ariestoteles neo-platonisme menjadi konsep teologi dan filsafat Islam,
akan tetapi masih ada warna-warna ariestotels-nya.
Imam al-Ghazali sebenarnya sedikit banyak juga mengambil konsep
tesebut. Semisal konsep wujud. Dalam al-Qur’an tidak ada istilah wujud,
eksisten dan …, para ulama’ menggunakan istilah asing tersebut untuk
menjelaskan Islam, bukan mereka terpengaruh. Sebab ketika orang Islam
keluar ke Damaskus, sudah banyak orang Kristen. Kemudian orang-orang
keristen itu bertanya, Tuhan orang Islam itu esens atau eksisten?,
Esensi Tuhan dengan eksistensi tuhan itu beda apa tidak?, Tuhan itu
substansi atau bukan?, dalam Islam ada asmaul husnah, maka apa itu
asmaul husnah?, maka hal itu menjadi pikiran bagi orang-orang Islam.
Nah kemudian para ulama’ berfikir bagaimana cara menjelaskan ini
semuanya. Oleh sebab itulah kemudian ulama’ meminjam istilah asing
tersebut. Bukan terpengaruh. Lain itu, sebab kalau terpengaruh berarti
kita dijajah. Orang orientalis selalu megatakan bahwa orang Islam itu
theologinya dari Yunani dan Kristen. Ini salah.
Kemudian ilmu pengetahuan Islam yang bersifat kauniyah lahir dari
interaksi di atas. Ilmu pengetahuan Islam itu ada dasarnya dalam
al-Qur’an. Misalnya ayat “wa ja’alna mina al-ma’i kulla syaiin hayyi”
artinya: kami jadikan dari air segala sesuatu itu hidup. Para ulama’
kemudian berfikir lalu belajar dari India, Yunani dan lainnya dan
muncullah teori pertanian.
Ilmu hisab misalnya, orang Islam mencari angka untuk bisa
menghitung perdagangan. Dimodivikasilah angka-angka India itu, sehingga
terbentuklah angka nol. Jadi yang menemukan angka nol itu orang Islam
yang dimodivikas dari angka India. Ini sebagian contoh saja. Dan masih
banyak ilmu-ilmu lain seperti fisika, biologi, kimia, theology dan
sebagainya.
Hal ini yang mebdakan dengan Kristen. Ternyata al-Qur’an dapat
dijadikan alat asimilasi untuk ilmu-ilmu tersebut tanpa kita katut
theology kita terkorbankan. Orang Kristen itu tidak berani
menterjemahkan logikanya Ariestoteles. Kenapa?, karena dengan logika
Ariestotels itu, trinitas menjadi berantakan. Hal ini dikatakan oleh
mereka sendiri.
Namun tidak dengan Islam. Tentang teori Copernicus misalnya. Di dalam
Kristen hal ini menjadikan keributan. Karena Gereja sudah menentukan,
bahwa yang betul itu adalah prinsipnya Ptolemik. Bahwa mataharilah yang
mengelilingi bumi, karena di dunia itu ada manusia, sedngkan manusia
itu mulia. Oleh sebab itu bumi menjadi pusat galaksi. Itu doktrin
teologi Kristen. Namun begitu Copernicus menemukan toeri Heliosentris,
gereja menjadi rebut.
Dalam Islam, mau bulan mengelilingi matahari atau bulan berhenti dan
diam atau sebaliknya terserah, hal itu tidak ada kaitannya dengan
keimanan. Hal itu adalah bagian daripada ayat-ayat kauniyah. Seandainya
terjadi salah faham, bisa dibetulkan. Ini bedanya Islam dengan
Kristen.
Artinya, kita memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan saint.
Dalam Islam kita disuruh untuk berfikir, tadabbur , tafakku dan
lain-lainnya. Tidak ada masalah dengan spekulasi-spekulasi yang sifatnya
saintific. Disitulah rahasanya mengapa Islam dalam saint itu maju.
Maka sungguh apologi yang sangat naif jika Kristen beranggapan baha
Islam itu berhutang budi pada oreang-orang syiriac. Sebab naskah Yunani
yang ada di tangan orang-orang siriac, namun ilmu orang-orang Siriac
tidak juga berkembang ilmunya. Ketika naskah itu diterjemahkan dalam
bahasa Arab, maka limu itu berkembang pesat. Kok setelah berkembang
pesat, orang Kristen berkata pada orang Islam, “kamu berhutang budi pada
orang Kristen”, Loe kemana aja selama ini. Jadi orang Kristen itu
tengil sekali jika ngomongin saint, bahwa Islam berhutang pad Kristen.
Bahkan masalah Theologi-pun, Islam katanya berhutang budi pada Kristen.
(kembali ke pembahasan). Kemudian disitu lahirlah peradaban Ilmu
dalam Islam. Pernah suatu kal, gara-gara menjelaskan ini saya dikritik
seseorang. Di berkata “berarti kesimpulannya di zaman Nabi itu tidak ada
peradaba”. Saya jelaskan, bukan begitu maksudnya, yang saya makdus itu
adalah saya ingi menjelaskan bagaimana proses dari al-Qur’an menjadi
sebuah perdaban masayarakat yang di dalamnya ada Ilmunya.
Bagaimana dengan zaman Nabi?, zaman Nabi sudah ada peradaban Islam,
peradabannya adalah peradaban al-Qur’an. Orang-orang asshuffah
mengatakan “kami bersama Rasulullah saw tidak pernah melewatkan satu
ayat dari al-Qur’an, kecuali memambaca, memahami, memnghafalkan dan
mengamalkannya”. Ini lura biasa. Jika kita mengerkan al-Qur’an, mungkin
eradaban Islam sudah Qur’ani semua.
Begitu kehidupan menjadi semakin komplek, banyak hal yang harus
dijelaskan. Itulah, peradaban Islam bertemu dengan peradaban lain
mengasilkan peradaban ilmu.
Singkatnya, apa sebab Islam itu mundur?. Jawabannya satu, taqdir
Tuhan. Sebabnya, pertama, mengapa Abasyiah diserang dengan mudahnya oleh
Khan?, kenapa Allah tidak membelah Abasyiah, kan itu mudah bagi
Allah?. Karena Allah menghendaki Abasyiah kalah.
Kemudian ada kondisi-kondisi ekologis dan alam yang tidak bisa
dielakkan. Pada abad ke 10 telah terjadi krisis pangan di beberapa
Negara Islam. Ada wabah penyakit di Mesir, Syiria dan Iraq. Lalu
terjadi perang salib yang tidak kunjung berhenti. Jadi setelah Jengis
Khan mengalahkan Baghdad, ia lari mengejar para ulama’-ulama’ sampai
Damaskus dan Mesir. Ibn Taimyah pun masih ikut perang melawan tentara
Mongol pada masa itu.
Kemudian disambung dengan hancurnya lembaga-lembaga pendidikan. Jadi
Ibn Taimyah lari dari temapt tinggalnya menuju Damaskus sebab. Di
damaskus tidak aman lagi, sebab khalifahnya sudah tidak berfikir ilmu
lagi. Tidak seperti di zaman Baghdad. Kemudian beliau pindah ke Mesir.
Karena hobi beliau mengkritik, ketika khalifah mengeluarkan kebijakan,
beliau kritik. Kemudian beliau di penjara. Nah di penjara itulah beliau
mengarang kitab “Naqdul mantiq dan arradu ala al-manthiqi”.
Akhir beliau dipenjara adalah dirampas kertas dan tintanya. Ini
kemudian beliau berkata “inilah benar-benar penjara bagi saya”. Nah,
pesan saya kepada para araqi yang ngikiuti Ibn Taimyah. Masuk penjara-ya
masuk penjara, keluar dari penjara keluar juga bukunya. Atau demo-ya
demo, tapi pulang demo nulis buku. Kalau niru jangn separuh-separuh.
(kembali ke pembahasan) lalu perdagan Islam menjadi kurang. Dari situ
kemudian jumlah penduduk Islam menjadi turun. Di sinilah sangat kentara
bahwa abad-abad kemunduran Islam itu adalah dekehendaki oleh Allah.
Ibn Kholdun mencatat bahwa tidndakan Amoral, pelanggaran hokum,
penipuan, orientasi matrealistis, berbohong, berjudi dan sebagainya itu
terjadi pada masyarakat pada waktu itu.
Sebenarnya di Baghdad, sejarah sukses para khalifahnya itu tidak
mulus. Ada satu khalifah yang meracuni khalifah yang lain agar cepat
terjadi suksesi pergantian. Kemudian ada mentri di Baghdad itu khusus
mentri pengadaan minuman keras. Karena sudah berabad-abad berkuasda,
Jadi memang Baghdad pada waktu itu kehidupanya gemerlap dan jauh dari
yariat. Namun para khalifah meski berbuat demikian, masih ada
kelebihannya. Yaitu mendukung ilmu pengetahuan. Itu persoalannya.
Namun zaman sekarang berbeda, penguasa Islam, sudah korupsi, dan
berfoya-foya tidak mendukung ilmu lagi. Jadi akhlak penguasanya rusak,
kedzaliman, kemewahan, egoism, kemudian pajak yang ditari besar-besaran.
Di sisi lain rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama. Lebih-lebih
masyarakat memilih pena daripada pedang, sedikit-sedikit mengugunakan
kekerasan. Ini dikarenakan penanya tidak berjalan.
Ada sebuah analisis yang menarik dari seorang profesor saint muslim
di Amerika. Beliau pernah dating ke ISTAC pad tahun 1998. Beliau
mengatakan “marilah kita letakan skenario hipotesis. Jika kekuasaan
Islam tidak dilemahkan atau dikalahkan oleh jengis Khan, dan jika
ekonomi Negara-negara Islam tidak dihancurkan, dan jika stabilitas
politik tidak diganggu, dan jika para ilmuwan muslim diberi stabilitas
dan kemudahan dalam 500 tahun lagi, apakah mereka akan gagal mencapai
apa yang telah dicapai Coprnicus, Galileo dan Newton?”. Ini sebuah
pertanyaan yang jawabannya adalah tidak.
Jadi model astronomi planetarium Ibn safir dan astronomi muslim yang
sekualitas Copernicus yang telah mendahului mereka 200 tahun.
Membuktikan bahwa teori Heliosentris dapat diplokamirkan oleh saintis
Muslim. Jika komunitas mereka terus eksis dibawah skenario hepotesis
ini.
Artinya kalau Ibn Satir it uterus hidup dab Pedaban Baghdad terus
berjalan, teori Copernicus akan kedahuluan Ibn Satir. Ada sebuah kajian
yang menyatakan bahwa Copernicus itu ternyata membaca terjemahannya Ibn
satir yang sudah mengarah kepada teori Heliosentris. Sebab tiba-tiba
Copernicus menemukan teori ini, dari mana asalanya?.
Jika demikian, maka kekuasaan, ekonomi, stabilitas politik,
pendidikan dan penelitian adalah prasyarat bagi pengembangan peradaban
ilmu pengetahuan.
Nah, sekarang apa tantangan kita?. Tantangan kita bukan Jengis Khan
lagi, tapi Jengis Khan yang sangat abstak yang personnya adalah
globalisasi dan westernisasi. Globalisasi ini sepertinya tidak bisa
ditolak, itu sebuah universal yang semua orang harus terima. Tetapi
didalam itu, globalisasi seperti kuda Trojan. Dia dating seperti
kendaranan yang menolong, akan tetapi di dalamnya ada bala tentaranya.
Globalisasi seperti itu, diamana di dalamnya terdapat liberalisasi,
skularisasi, humanism, pluralism, hedonesme dll. Ini semuanya jika
diterangkan bisa menjadi sangat panjang. Ringkasnya itu ada di dalam
buku MISYKAT.
Bagaiman sebenarnya trik-trik menreka untuk mengelabuhi umat Islam?.
Itu semuanya ada dalam buku tersebut. Ini semua adalah sebuah konsep
yang dieksport kedalam pikiran umat Islam, dan anehnya umat Islam itu
menikmati dengan hal itu.
Efek dari semua itu apa?. Pendidikan Islam, budaya Islam, ekonomi
Islam, politik Islam dan sebagainya, sangat massif. Kita itu seperti
dikepung oleh ide-ide ini semuanya. Missal, bicara politik, kita sudah
dijejali dengan demokrasi sehingga “sura” tidak berlaku. Bicara
pendidikan, maka harus dichotomy. Harus ada ilmu agama dan ilmu umum.
Mau membuat prodi saint Islam misalnya, nomenklaturnya tidak
diperbolehkan. Begitu juga prodi ekonomi islam, juga tidak boleh
diadakan di departemen agama, bolehnya hanya di diknas.
Apalagi kalau kita berpikir agak ideal sedikit, seperti mendirikan
prodi sosiologi Islam, nanti ditanya “yang ngajar siapa?”. Yang ngajar
itu harus S2 jurusan Sosiologi Islam juga. Akhirnya muter-muter aja itu
semua. Atau Psikologi islam, pasti tidak ada.
Kenapa hal ini terjadi, karena semua sudah termakan sistim pendidikan
dan ilmu pengetahuan yang dichotomis. Jadi persoalan kita itu apa
sebenernya?. Persoalan kita sangat banyak sekali. Masing-masing Isme
itu akan membawa dampaknya sendiri-sendiri.
Kalau kita sederhanakan, akarnya itu ada di persoalan kita itu ada
disekitar pengertian ilmu. Akal pikiran kita telah diliputi sifat ilmu,
tujuan ilmu dan lain sebagainya. Sehingga orang Islam telah terperdaya
dan tidak merasa menerima pengertian tersebut dari kebudayaan Barat.
Seperti pernyataan “ilmu itu adalah netral, tergantung siapa yang
menggunakannnya”, ini pernyataan dari mana?. Ini pernyataan dari Barat.
Namun orang Islam dengan menikmati kata-kata tersebut, akhirnya juga
menirukan.
Saya seringkali ngomong begini, kalau ilmu netral ayo kita balik
sekarang. Kita terapkan ilmu fikih itu di Amerika. Berani nggak?.
Begitu juga ilmu fara’idh?. Ilmu faraidh kita terapkan di dalam UUD
Amerika, bisa nggak?. Jawaban mereka, tidak bisa, itu kan dari Islam.
Nah ini kelihatan bahwa ilmu itu tidak netral. Tapi sebaliknya, ilmu
politik demokrasi, mari diterapkan di Negara, inikan universal bellu.
Siapa yang bilang universal?. Artinya kita sudah dikacaukan pikiran kita
mengenai konsep dalam Islam. Banyak konsep yang kita tinggalkan
gara-gara kita kemasukan konsep yang datang dari Barat.
Karena persoalannya adalah ilmu pengetahuan, maka ilmu itu sendiri
yang harus kita rekonstruksi. Yang dimaksud ilmu di sini, adalah ilmu
pengetahuan Barat, bukan Ilmu Islam. Sedangkan yang direkonstruksi itu
bukan ilmunya, akan tetapi orang yang menjadi subjek ilmu. Ilmu ada
dalam pikiran, yang di-Isilamkan itu adalah yang ada dalam pikiran
tersebut.
Oleh sebab itu, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang dimaksud
oleh al-Attas adalah mengislamkan cara berpikir orang kontemporer
mengenahi ilmu pengetahuan. Jadi salah paham terhadap ilmu Islam itu ada
dalam pikiran umat Islam. Itu yang harus dibetulkan. Bagimana cara
membetulkannya, yaitu harus dengan melalui sumber daya manusia
pendidikan. Masalahnya pendidikannya yang mengajar orang itu-itu juga.
Maka ini yang yang harus kita hadapi.
Kita mau melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan, tapi dosenya liberal.
Bagimana bisa melakukan Islamisasi, ini tidak mungkin. Itulah proyek
yang sedang kita lakukan di INSISTS ini. Kita ini berada ditepi
lembaga-lembaga yang sangat angkuh dengan dichotomy ilmunya itu. Dan
tidak mungkin kita bisa masuk dan merubah begitu saja. Maka benar apa
yang dikatakan pak Adian tadi malam, beliau berkata “ini proyek
prosesnya 50 tahun”. Tapi amal jaryah kita 50 ribu tahun diakhirat.
Sekarang anda bayangkan, dari Islamisai ilmu pengetahuan yang di
gelorakan al-attas tahun 1970, baru beberapa tahun belakangan ini ada
program studi ekonomi syari’ah. Ditandai dengan munculnya Umar chapra,
khursyid Ahmad dan orang-orang yang terinspirasi untuk melakukan
Islamsasi ekonomi. Karena yang paling dekat itu adalah persoalannya di
ekonomi. Itu terjadi mulai tahun 1970 sampai hari ini, kurang lebih 40
tahun baru ada pemikiran tesebut.
Dan Isnya Allah setelah ekonomi syari’ah akan uncul program studi
psikologi islam, sosiologi Islam, politik Islam dan lain sebagainya.
Memang panjang perjalanannya, namun idenya harus digelindingkan. Untuk
menggelindingkan ide itu, kita perlu komunitas.
Di Jogja orang tidak mau kata Islamisasi, mereka katakana bahwa
Islamisasi itu arogan ada unsur politik dal lain sebagainya. Tapi
kemudian mas Kuntowijaya terminology lain, dengan istilah mengilmukan
Islam. Ini lebih arogan lagi menurut saya, dianggapnya Islam itu tidak
ilmiah. Saya mengerti maksud dari mas kunto. Diakan nggak pernah belajar
Islam.
Dia tidak mengetahui dan membayangkan bagiamana para mutakallimun
berbicara fisika atau thobi’iyat. Mereka sudah lebih saintifik.
Bagaimana para ulama’ itu berbicara proses bagaimana orang dar persepsi,
apersepsi, abstraksi, asimilasi sampai membuat konseptualisasi dalam
pikiran. Ini adalah epistemology. Islam itu sejak zaman dahulu sudah
ilmiah.
Proses berpikir seperti ini, sekarang dipisahkan oleh sebuah
epistemology Barat yang secular. Nah ini yang harus kita benerkan.
Ketika orang berpikir bahwa melihat fenomena alam ini harus lepas dari
keyakinan-keyakinan. Jikan anda melakukan proses induksi, maka anda
jangan mencampur dengan keyakinan dalan agama anda. Itu yang terjadi
dalam epistemology modern. Ini rusak, agama dipisahkan dari saint. Nah,
bagaimana kita memasukkan kembali agama dalam saint?. Perlu sebuah
komunitas.
Islamisasi ilmu ada lagi yang menggunakan istilah integrasi dan ada
pula yang menggunakan istilah interkoneksitas. Jadi tugasnya itu hanya
mengkoneksikan antara ilmu-ilmu saint dengan agama. Padahal masalahnya
tidak sesederhana itu. Kita harus konseptual dari dasar.
Bagaimana ilmu yang dari akidah itu, berkembang menjadi epistemology,
ini yang harus kita bangun. Maka kedepannya, yang dirubah menurut
al-Attas juga universitasnya. Namanya Universitas, maka harus bisa
menghasilkan manusia universal. Jadi semua orang di dalamnya harus
aspek-aspek Islam yang perlu bagi seseorang.
Katakanlah belajar saint dia harus tahu theology. Atau belajar
politik, maka dia harus tau syari’ah. Atau belajar Hukum internasional,
maka harus tahu Muqaranatul adyan, begitu juga belajar psikologi, maka
harus tahu tarbiyyah. Ini yang tidak terjadi.
Contoh fakta, orang yang belajar ekonomi syariah, semestinya
mengetahui syari’ah dan tahu ilmu ekonomi konvensional. Namun sayangnya
banyak yang tidak tahu. Saya pernah datang ke sebuah Universitas di
Damaskus. Saya masuk ke Fakultas ekonomi, saya Tanya dosennya. Apa
persoalan yang anda hadapi?, persoalannya begini, orang yang mengetahui
syari’ah itu banyak yang tidak mengetahu ekonomi konvensional, begitu
sebaliknya, orang konvensional tidak tahu syari’ah.
Ini yang dimaksud diperlukan sinergi itu. Yang belajar Islamisasi itu
tidak bisa menciptakan psikologi Islam, kecuali ketemu dengan pakar
psikologi dan bicara tentang ini. Kita katakana ini lho dalam Islam itu,
nanti akan menemukan titik temu antara Islam dengan ilmu psikologi.
Begitu juga ekonomi konvensional.
Saya pernah ditanya oleh orang Unibraw, “Ustadz, apa konsep harga
dalam islam?”. Wah ini pertanyaan ekonomi ini. Dia berkata “ya, tapi
ekonomi Islam itu harus menjawab ini”. Kata saya “tapi saya kan ndak
belajar ekonomi syariah!”. Dia menyelah “tapi antum kan ustadz!”. Jadi
bagi da ustadz itu tau semuanya. Pertanyaan itu tidak bisa saya jawab.
Teryanta ada cerita dibalik pertanyaan tersebut.
Ketika dia baru dari malang ke Gontor, dia beli rambutan di suatu
tempat dengan harga Rp. 10000/kg, begitu perjalan beberapa KM, si dosen
Unibraw ini beli lagi rambutan. Ternyata harga rambutan tersebut 1kg Rp
50.000. maka dia mempertanyakan a”dosa apa tidak harga rambutan yang
Rp. 50000, meskipun saya sanggup dan mau membayar harga rambutan
tersebut. Nah pertanyaan, dosa apa tidak harga rambutan 50000 tersebut
yang saya tidak bisa menjawab. Oleh karenanya, disinilah letak sinergis
antara ilmu syariah dengan ilmu ekonomi konvensional.
Ini baru permasalahan ekonomi, belum masalah sosiologi, politik dan
sebagainya. Oleh karenanya perlu ketemu antara eeka yang belajar saint
dan mereka yang belajar filsafat Islam. Sehingga dapat meletakkan
segalanya dalam Islam sesuai letaknya.
Seinggu yang lalu saya dikirimi oleh utadz fatkhur (dosen UGM)
seorang psikolog. Beleiau adalah ketua asosiasi psikologi Islam
sekaligus dosen psikologi UGM. Beliau bertanya pada saya, “bagaimana
maksud Islamisasi Psikologi?, kalau bisa kita kerja sama”. Saya jawab,
“saya tidak bejar psikologi”, saya terangkan saja tentang epistemology
dalam Islam, kemudian saya terangkan hubungan antara qalbu dengan aql
dan lain sebagainya,ternyata beliau tertarik. Beliau katakan “hal yang
seperti ini yang tidak ada di psikologi!”.
Nah, kayak begini ini perlu adanya silaturrahmi ilmiah. Makanya saya
membuat istilah dalam sebuah makalah. Sekarang bukan Ukhuwah Islamiah,
tapi Ukhuwah Ilmiyah. Artinya kita bersatu dan bersaudara dalam bidang
ilmu. Pahalanya sangat tinggi ketimbang ukhuwah Islamiyah yang hanya
ketemu salaman, bicara sana-sini kemudian selesai. Namun jika ketemu
dalam majelis ilmu, itu sangat luar biasa. Bayangkan, satu jam dalam
majelis ilmu, itu sama saja dengan pahala shlat tahajjud semalam suntuk.
Inilah yang perlu kita jalin antara orang yang ahli Islam dan orang yang ahli bidang studi saint. Kita harus ciptakan komunitas.
Tradisi keilmuan Islam itu bukan sebuah lembaga pendidikan formal.
Namun tradisi keilmuan Islam adalah kebiasaan mencari ilmu. Jika
mahasiswa kuliah, ujian uts atau uas, kemudian lulus. Lalu mengambil S2
sampai S3 yang hanya merebut gelar semata. Akan tetapi dia tidak
memunyai intelektual habbit, menurut saya dia tidak hidup dalam tradisi
ilmu.
Orang yang memiliki tradisi ilmu ialah mereka yang selalu mencari
ilmu diluar jam perkuliahan. Sebagaimana yang kita lakukan hari ini.
Jika anda sedang dikampus mengikuti perkuliahan, saya ragu dengan
tradisi keilmuan anda, karena hal tersebut formalitas. Yang terpenting
itu adalah mencari ilmu di luar kampus.
Ini yang perlu kita hidupkan, sebab jika anda kuliah di UGM maka anda
tidak perna bisa belajar Agama Islam. Tidak mungkin membicarakan
psikologi dalam perspepktif Islam di dalam kampus, harus di luar kampus.
Kalau kita sudah membangun peradaban Islam dengan pakem pendidikan yang
sudah ada ini, kita tidak akan sampai. Maka kita harus memiliki pakem
yang lain. Oleh karenanya kita hidupkan tradisi asimilasi ini.
Mudah-mudahan di masa akan dating akan terwujud tradisi tersebut,
semisal dari Bandung bisa memprakarsai bidang saint Islam. Dari situ
muncul seminar dan diskusi saint secara nabisoan, say kira sudah banyak
peminatnya lama-lama. Dan mudah-mudahan juga ada program studi saint
Islam yang diterima oleh diknas dan depag. Hal itu tidak mustahil. Di
Surabaya, sudah ada program studi politik Islam.
Nah disitu kemudian muncul komunitas. Karena Ilmu tanpa komunitas
tidak akan berjalan. Semisal, siapa saja yang concern dengan saint Islam
atau psikologi Islam di seluruh Indonesia, mari kita kumpulkan .
Nah, kita berharap di INSIST nanti ada komunitas-komunitas tersebut.
Senisal pengkaji budaya jawa, komunitas saint Islam, komunitas pengkaji
peradaban Islam dan sebagainya. Masing-masing komunitas tersebut bila
berkembang dengan pesat, insya Allah tidak akan lama lagi program studi
dan disiplin keilmuan ini akan lahir dari perguran tinggi-perguruan
tinggi di Indonesia.
Dari komunitas itulah yang kemudian menghasilkan sistim. Orang bicara
politik Islam atau bicara partai politik Islam, maka pakemnya harus di
dalam ilmu politik Islam. Teori-teori apa yang anda gunakan untuk
mencapa kekuasan? Bila tidak dengan ilmu politik Islam. Bila ini tidak
dilakukan, maka hal ini tidak sesuai dengan peradaban Islam. Jika semua
orang bicara peradaban Islam dalam perspektif ilmu pengetahuan Islam,
maka citra negative itu akan hilang.
Sekarang ini orang sudah mulai berbicara ekonomi Islam, seperti
pemebicaraan “anda menyimpan uang di mana?”, jika di bank konvesiaonal,
maka ada yang berani menyatakan hal ini sebagai riba. Artinya, sekarang
ini orientasi orang dalam berekonomi Islam sudah bergulir dimana-mana.
Coba anda bayangkan, jika ada seseorang memiliki ilmu politik,
kemudian ia tahu bahwa politik dalam Islam itu seperti ini, maka dengan
sendirinya akan ada pertanyaan “anda itu beroplitik secara Islam atau
secara kafir?”. Itu baru politik, belum fiqh pendidikan. Kalau
pendidikan itu hanya belajar ilu agama saja, berarti dia tidak belajar
ilmu kauniyah. Apa yan dialkukan hanya sebatas ilmu Quraniyah saja.
Hal itu tidak sempurna dan berakibat salah paham tentang sunnatullah.
Harus seperti, jangan kemudian mengharaman saint sebab karena saint
belum diislamkan. Program ini panjang. Jika kita menyalahkan orang-orang
Islam belajar saint kemudian anda belajar ilmu sekuler, ini tidak fair.
Sebab mereka yang belajar saint ini tidak ada pilihan kecuali
belajarnya disitu. Yang betul adalah kita bersinergi, mari yang belajar
saint bekerja sama menghasilkan disiplin ilmu baru, yaitu disiplin ilmu
pengetahuan Islam.
Bagaimana mewujudkan ini semuanya selain sinergi antara intelektual.
Ada lagi yang perlu disinergikan, ini yang kita copy system yang
berjalan dari Baghdad pada zaman itu. Dimana pada saat itu pengusaha,
masyarakat, penguasa dan temasuk semisal media, bersatu padu mendukung
ilmu pengetahuan. Bahkan para pengusaha pada waktu itu sangat bangga
jika rumahnya menjadi perustakaan, meskipun dia tidak membaca buku.
Pangusah dangat dermawan pada para ulama’.
Disinilah kemudian ilmu itu berkembang. Semua elemen mendukung.
Pertama koleksi buku dalam perpustakaan bayt al-Hikmah pada saat itu
adalah buku milik khalifah. Ini kemudian adalah awal penerjemahan buku.
Menterjemahkan-pun dibayar oleh khalifah dengan bayaran tinggi. Seorang
ulama’ yang menulis buku itu dibayar dengan menimbang berat buku yang
kemudian berat buku tersebut diganti dengan emas. Sebrapa banyak ia
menulis, itulah emas yang akan ia peroleh.
Dalam konteks di Indonesia. Banyak sekali lembaga pendidikan Islam
yang tidak mampu untuk mengembangkan hal-hal di atas dikarenakan
ekonomi. Sementara itu para pengusaha muslim sangat banyak yang kaya
raya.uang yang dikumpulkan lembaga-lembaga seperti masjid, perkumpulan
para pedagang muslim dan sebagainya itu luar biasa banyaknya. Akan
tetapi penyaluran dari dana ini yang sekarang menjadi persoalan.
Saya pernah berhubungan dengan yayasan dana masjid al-Falah. Dana
yang dihasilkan dalam jangka satu bulan kurang lebih satu milyard. Waktu
itu saya sindir kalau bisa bantu INSIST, namun sayangnya bagi mereka
tidak ada kamusnya untuk membantu lebaga pendidikan seperti itu. Yang
ada hanya untuk saluran anak-anak yatim piatu, pondok pesantren yang
memerlukan dan orang-orang yang memint, baru dikasih. Tidak ada planning
strategi untuk mengembangkan peradadaban Islam. Ini hanya salah satu
contoh.
Konglomerat muslim sebenarnya banyak sekali, tapi kenapa pendidikan
Islam tidak maju?. Di Barat, satu penelitian yang hanya satu makalah
saja, maka tiket perjalan pulang pergi, biaya penghidupan da lainnya
dibiayai oleh pemerintah. Hal ini hanya untuk menghasilkan satu makalah
saja.
Nah sekarang Indonesia mulai meniru. Dosen-dosen di kirim ke luar
negri. Satu orang dosen biayanya 100 juta, namun sayangnya pulang tidak
nulis makalah, hanya sebatas jalan-jalan. Inilah gambaran mental
pendidik di Indonesia. Jadi serba salah semuanya. Hal ini dikarenakan
pendidikan kita tidak menghasilkan orang yang serius didalam menjalan
tradisi ilmu. Dikirim kemana saja, bila tidak memiliki tradisi ilmu, ya
tidak ada pengaruhnya. Maaf, bahakan yang ke Maroko saja, dimana di
sana adalah tempat ‘ardhlul Auliya’. Dikirim ke sana, bukan melakukan
riset namun kerjaannya hanya ziyarah kubur melulu. Ini sangat naïf
sekali. Dimana tradisi ilmu berubah menjadi tradisi spiritual.
Kita berharap bagaimana masyarakat kita dorong supaya memiliki
komitmen mengembangkan ilmu pengetahuan. Begitu juga para pengusaha,
berkomitmen membantu mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan yang paling
penting ialah media masa. Problem terbesar kita adalah tidak adanya
media masa dipihak kita yang mana bila kita memiliki pendapat, media ini
bisa mem-backup pendapat kita.
Missal ketika kita melawan UU kesetaraan gender. Tidak ada satupun
media yang mem-Blowup persoalan tersebut. Padahal ini sangat penting
sekali. Bahkan ketika di TV ONE, ustadz Adnin itu dulu sama host-nya,
“ini kasusnya itu seperti ini”, kalau tidak diomong dulu, bisa-bisa
dihabisin mereka yang anti UU kesetaraan gender pada waktu itu.
Banyak sekali orang-orang yang tidak tahu masalah dan tidak tahu
bagaimana membela umat Islam. Semisal perkara Syi’ah, kita sudah
didahului oleh orang-orang syiah yang lobi ke media-media masa. Makanya
ketika kasus sampan, kata orang, “apa yang terjadi di media massa
99,999 % adalah salah. Karena media memang sengaja ingin menghidupkan
yang minoritas.
Ini adalah persoalan ilmu. Bagimana kita membea Ahlu sunnah wal
jama’ah dari syi’ah?. Tidak ada sama sekali dalam pikiran media massa
seperti itu, yang ada adalah bagimana minoritas dibela. Ini satu sisi.
Di sisi yang lain adalah para pejabat. Sekarang ini, karena
politiknya begitu demokratis, maka pejabat yang lahir dari sistim ini
adalah pejabat yang tidak ada ilmunya. Ini yang menjadikan kebingungan.
Makanya al-Attas itu membuat sebuah lingkaran setan, pendidikan yag
tidak betul pemikir dan pemimpin yang tidak betul. Dari pemikir dan
pemimpin yang tidak betul, akan menghasilkan peraturan yang tidak betul.
Dari peraturan yang tidak betul menghasilkan peikir dan pemimpin yang
tidak betul lagi. Ini akan berputar terus tiada berujung.
Oleh karenanya lingkaran ini harus dipecah. Bagimana cara
memcahkannya?, pertama cari pemimpin yang bisa memahami kondisi umat
Islam. Cukup hanya faham dengan problem umat Islam, tidak perlu
membantu. Karena pembelaan seorang pemimpin adalah sebuah kebijakan.
Bisa atau tidak para pemimpin ini membuat kebijakan yang pro kepada
pengembangan ilmu pengetahuan Islam?.
Kemudian masyarakat secara hukum, dimana ujung tombak dari masyarakat
di ndonesia adala para da’i. temen-temen dai yang langsung berkautan
dengan masyarakat itu, perlu diberi informasi mengenai
persoalan-persoalan yang kita bahas ini. Jadi hal-hal yang sederhana
kita infokan kepada masyarakat, bahwa umat Islam menghadapi probem ilmu
pengetahuan Islam seperti ini. Paling tidak, kita sampaikan pada
masyarakat bagiman memikirkan pada masa akan datang, bagaimana anak-anak
kita bisa menghafal al-Qur’an dan menghafal ilmu umu. Cukup demikian
penjelasan untuk orang awam, tidak perlu dijelaskan kepada mereka
tentang Islamisasi, karena belum tentu faham.
Bila hal ini terjadi, maka konsep-konsep pertama yang di atas dalam
proses integrasi antara ilmu umum dam agama itu bisa dikembangkan di
masyarakat. Media massa misalnya, mem-blowup mengenai inovasi atau
seminar tentang psikologi Islam. Nah semakin banyak media massa yang
mau mem-blowup semakin banyak masyarakat yang tahu tentang perihal ini,
termasuk di dalam masalah pendidikan.
Sekarang ini, pendidikan karakter itu sangat dominan mengalahkan
pendidikan akhlaq. Antara media masa dan pemerintah sama-sama mendukung
program pendidikan karakter. Padahal bila kita lihat pendidikan karakter
itu adalah pendidikan akhlak hina. Kita tidak pernah berpikir bagaimana
karakter seseorang itu adalah akhlak seseorang. Mungkin berkarakter itu
adalah jujur, baik, menghormati orang lain toleransi dan lain
sebagainya. Nah, ini kemudian menjadi sangat sekuler. Orang yang
berkarakter itu adalah orang bisa hidup dalam masyarakat modern. Nah
masalahnya, apakah orang seperti ini bisa membela kebenaran Islam?. Maka
bagi mereka ini tidak penting.
Maka sinergi antara masyarakat, pejabat dan pengusaha itu diperlukan
dalam membangun tradisi ilmu Islam, dimana semua itu akan menjadi basis
pengembangan peradaban Islam yang ilmiah. Terimakasih
wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
(DR HAMID FAHMI ZARKASYI)
sumber: FB insistnet