Rabu, 27 Februari 2013

Pelajaran Kehidupan

Ilustrasi
Tersebutlah suatu cerita di suatu negara nun jauh disana.... hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang bunda dan dua anak laki-lakinya, yang tua bernama atan, dan yang bungsu bernama awang.
mereka hidup rukun, saling membantu dan kasih mengasihi. kepada handai dekat mereka akrab, kepada taulan yang jauh mereka ingat. pokoknya tetangga dan handai taulan melihat keluarga mereka adalah keluarga nirwana di muka bumi.. tidak ada kata kasar, apalagi tengking suara tinggi.

Pada suatu masa, ibunda mereka dipanggil oleh Sang Izzati Pemilik Jiwa, Allahu Robbi. semua warga kampung merasa sedih dan kehilangan sosok seorang ibu yang pengasih kepada sesama.

Setelah hilang rasa kedukaan yang mendalam, kedua saudara inipun bermusyawarah, sebagaimana ajaran orang tua mereka (terutama bonda, karena ayahanda tercinta mangkat sebelum mereka besar lagi). dalam musyawarah itu mereka membahas tentang harta warisan dari orang tua mereka...

Dan disinilah semua ujian itu bermula... kedua saudara yang semula saling mengasihi dan membantu menjadi temahak (rakus) terhadap harta peninggalan itu... sang abang merasa berhak karena dia yang tua. dan sang adik mengatakan dialah yang harus menerima banyak karena dia yang selama ini sering bersama ibunda....

Karena tidak mendapati keputusan, mereka bersepakat untuk minta pendapat para tetua dan tokoh terkemuka di kampung itu. Para tetua berembug dan mengambil keputusan bahwa harta itu adilnya dibagi dua... tapi kedua saudara ini tidak mau menerima, karena ada satu warisan yang tidak bisa dibagi dua.

Karena tidak mendapatkan keputusan yang memuaskan kedua belah pihak, akhirnya masalah ini berlarut-larut dalam kehidupan mereka... Puncaknya adalah mereka ini membuat rumah masing-masing yang saling berhadapan (gunanya agar satu sama lain bisa mengawasi), tapi dipisahkan oleh satu sungai yang cukup lebar (tidak bisa dilompati kecuali pakai galah atau pakai kuda).

Karena tiap hari mereka bisa melihat wajah saudaranya, akhirnya mereka membuat pagar yang tinggi dengan satu buah lubang pengintai di pintu pagar.

Mereka masing-masing mengupah tukang yang paling hebat dari kampung sebelah. kebetulan tukang-tukang ini adalah dua saudara kembar. tukang ini diberi waktu selama seminggu untuk membuat pagar tersebut, dan selama seminggu itu, atan dan awang tidak keluar dari rumah..

setelah seminggu berlalu, awang dan atan pun keluar rumah untuk melihat hasil kerja tukang tersebut (yang setiap harinya melaporkan perkembangan pembuatan pagar itu). betapa terharunya awang dan atan ketika melihat bahwa sekarang telah ada sebuah jembatan yang paling indah didepan mata mereka yang menghubungkan kedua rumah mereka...

Masing-masing dari mereka berpikir bahwa saudaranya ternyata masih mengasihi dan cinta kepadanya karena ketika dia menyuruh tukang membuat pagar, malah saudaranya menyuruh membuat jembatan yang akan menghubungkan dua rumah mereka.


*Pesan moral: terkadang kita tidak menyadari bahwa ketika kita memiliki masalah dengan orang terdekat kita, pasti ada orang 'luar' yang selama ini melihat kita selalu baik dengan orang terdekat kita itu terjadi masalah untuk tidak mendamaikan kita dan orang terdekat kita tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar